GRUP A

PRANCIS

SENEGAL

DENMARK

URUGUAY

GRUP B

SPANYOL

SLOVENIA

PARAGUAY

AFSEL

GRUP C

BRASIL

TURKI

CINA

KOSTA RIKA

GRUP D

KORSEL

POLANDIA

AS

PORTUGAL

GRUP E

JERMAN

ARAB SAUDI

IRLANDIA

KAMERUN

GRUP F

ARGENTINA

NIGERIA

INGGRIS

SWEDIA

GRUP G

ITALIA

EKUADOR

KROASIA

MEKSIKO

GRUP H

JEPANG

BELGIA

RUSIA

TUNISIA

TUNISIA



PRESTASI

  • Kualifikasi Final Piala Dunia 1978, 1998 
  • Kualifikasi Piala Afrika 1962, 1963, 1965, 1978, 1982, 1994, 1996, 1998, 2000, 2002

  • Konsistensi penampilan merupakan kunci sukses Tunisia ke putaran final Piala Dunia. Pada Piala Dunia 1979 di Argentina, mereka menjadi negara Afrika pertama yang memenangkan pertandingan bergengsi dengan mengalahkan Meksiko 3-1 di Rosario. Kemenangan ini membuka era baru persepakbolaan Afrika.

    Negara Afrika Utara ini kembali ke final Piala Dunia Prancis empat tahun lalu. Tunisia menghadapi persaingan ketat di babak pembukaan saat berhadapan dengan Kolombia, Inggris dan Rumania. Sebagian besar pemain yang tampil di Prancis itu menjadi kekuatan inti pada putaran final Piala Dunia Korea/Jepang. Materi utama itu ditambah pemain berusia di bawah 23 tahun yang bertanding di Olimpiade Atlanta tahun 1996.

    Tunisia berkembang menjadi kesebelasan dengan ciri permainan bola-bola efisien. Mereka ingin membuat standar permainan baru saat bermain di Piala Dunia 2002. Para pemain veteran seperti kiper Chokri El Ouaer, Adel Sellimi dan Sirajeddine Chihi dipadukan dengan para pemain berbakat dan bintang baru persepakbolaan Afrika seperti Hassen Gabsi, Ali Zitouni dan Ziad Jaziri.

    Tunisia mendominasi kompetisi antarklub sepakbola di Afrika selama lima tahun terakhir. Mereka sekarang ingin meraih eputasi yang sama dalam skala internasional. Tunisia hanya membuat satu kekurangan sepanjang babak kualifikasi, yaitu pelatih Francesco Scoglio kembali ke Italia. Ia digantikan dengan pelatih asal Jerman Eckhard Krautzen di tengah berlangsungnya babak kualifikasi. Namun, Krautzen tidak meninggalkan Tunisia begitu saja. Ia pergi setelah membantu Tunisia meraih sukses dalam beberapa pertandingan.

    Agresifitas Tunisia hanya bisa direka-reka Jepang, Belgia dan Rusia. Sebagai negara bekas koloni Prancis, mereka siap bertarung militan bak gerilyawan yang memperjuangkan kebebasan dari belenggu tim unggulan.

    Dengan permainan Afro-Eropa--perpaduan gaya sepakbola Eropa dan Afrika--Tunisia tak gentar dengan tuan rumah Jepang maupun tim kuat Eropa, Belgia dan Rusia. Dengan kedisiplinan kental Eropa Timur, determinasi Tunisia bakal menjadi batu sandungan. Tim asal Magribi ini makin ditekan justru bertambah garang.

    Tunisia memang tampil garang sejak ditangani Henry Kasperczak. Pelatih asal Polandia itu memoles pemain-pemain Tunisia dengan permainan atraktif yang mengandalkan kelincahan dan bakat-bakat alam.

    Disiplin merupakan masalah tersendiri bagi tim itu. Pada Olimpiade Atlanta 1996, Tunisia merusak peluang mereka dengan penampilan tidak disiplin sehingga mendapatkan banyak kartu merah.

    mahmudiono lamin/fwc


    © 2002 LAMPUNGONLINE.COM --- DIVISI DESAIN MEDIA HARMONI PERKASA. ALL RIGHT RESERVED

    HASIL

    PREDIKSI

    ULASAN

    BINTANG

    JADWAL

    REKOR

    PESERTA

    TROFI

    LEGENDA

    SEJARAH

    MASKOT

    HOME

    VENUES

    ANEKA

    SPORT

     -

    SELINGAN

     -

    INVESTIGASI

     -

    ANALISIS

     -

    BISNIS

     -

    BLITZ

     -

    AGENDA

     -

    KRIMINAL

    1
    Hosted by www.Geocities.ws