|
Konsistensi penampilan merupakan kunci sukses Tunisia ke
putaran final Piala Dunia. Pada Piala Dunia 1979 di Argentina,
mereka menjadi negara Afrika pertama yang memenangkan
pertandingan bergengsi dengan mengalahkan Meksiko 3-1 di
Rosario. Kemenangan ini membuka era baru persepakbolaan
Afrika.
Negara Afrika Utara ini kembali ke final Piala Dunia
Prancis empat tahun lalu. Tunisia menghadapi persaingan ketat
di babak pembukaan saat berhadapan dengan Kolombia, Inggris
dan Rumania. Sebagian besar pemain yang tampil di Prancis itu
menjadi kekuatan inti pada putaran final Piala Dunia
Korea/Jepang. Materi utama itu ditambah pemain berusia di
bawah 23 tahun yang bertanding di Olimpiade Atlanta tahun
1996.
Tunisia berkembang menjadi kesebelasan dengan ciri
permainan bola-bola efisien. Mereka ingin membuat standar
permainan baru saat bermain di Piala Dunia 2002. Para pemain
veteran seperti kiper Chokri El Ouaer, Adel Sellimi dan
Sirajeddine Chihi dipadukan dengan para pemain berbakat dan
bintang baru persepakbolaan Afrika seperti Hassen Gabsi, Ali
Zitouni dan Ziad Jaziri.
Tunisia mendominasi kompetisi antarklub sepakbola di Afrika
selama lima tahun terakhir. Mereka sekarang ingin meraih
eputasi yang sama dalam skala internasional. Tunisia hanya
membuat satu kekurangan sepanjang babak kualifikasi, yaitu
pelatih Francesco Scoglio kembali ke Italia. Ia digantikan
dengan pelatih asal Jerman Eckhard Krautzen di tengah
berlangsungnya babak kualifikasi. Namun, Krautzen tidak
meninggalkan Tunisia begitu saja. Ia pergi setelah membantu
Tunisia meraih sukses dalam beberapa pertandingan.
Agresifitas Tunisia hanya bisa direka-reka Jepang, Belgia
dan Rusia. Sebagai negara bekas koloni Prancis, mereka siap
bertarung militan bak gerilyawan yang memperjuangkan kebebasan
dari belenggu tim unggulan.
Dengan permainan Afro-Eropa--perpaduan gaya sepakbola Eropa
dan Afrika--Tunisia tak gentar dengan tuan rumah Jepang maupun
tim kuat Eropa, Belgia dan Rusia. Dengan kedisiplinan kental
Eropa Timur, determinasi Tunisia bakal menjadi batu sandungan.
Tim asal Magribi ini makin ditekan justru bertambah garang.
Tunisia memang tampil garang sejak ditangani Henry
Kasperczak. Pelatih asal Polandia itu memoles pemain-pemain
Tunisia dengan permainan atraktif yang mengandalkan kelincahan
dan bakat-bakat alam.
Disiplin merupakan masalah tersendiri bagi tim itu. Pada
Olimpiade Atlanta 1996, Tunisia merusak peluang mereka dengan
penampilan tidak disiplin sehingga mendapatkan banyak kartu
merah.
mahmudiono lamin/fwc |