|
T
he Golden Generation atau generasi emas. Predikat itu
melekat kepada tim sepakbola Portugal. Pemberian gelar itu
menjadi tantangan bagi Luis Figio dkk. di pesta sepakbola
sejagad 2002. Sebelumnya, dengan materi bertalenta tinggi,
Portugal mendapat julukan Brasil Eropa.
Benarkah dengan kedua atribut di atas Portugal layak
menduduki posisi pertama Piala Dunia 2002? Kalau mau berkilas
balik, sepak terjang negara tetangga Spanyol ini belum
tergolong cemerlang. Mereka meraih peringkat ketiga di Piala
Dunia saat era kejayaan Eusebio da Silva Ferreira pada tahun
1966.
Sebagian besar tulang punggung tim asuhan pelatih Humberto
Coelho adalah mantan pasukan juara Piala Dunia U-20 dua tahun
berturut-turut (1989 dan 1991). Siapa yang meragukan aksi Luis
Figo, Rui Costa, Fernando Couto, atau Paulo Sousa?
Sebelumnya, pepatah Portugal yang berbunyi,
"Kesempatan ketiga adalah saat yang tepat" tidak
begitu tepat diterapkan dalam dunia sepakbola. Setelah dua
kali berusaha masuk final Piala Dunia, pada kesempatan ketiga
Portugal berhasil ke Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang dengan
harapan realistis, yaitu bermain sebaik mungkin dan
menanggalkan anggapan seolah-olah Portugal tim kelas satu
dunia.
Generasi emas Portugal yang diperkuat Luis Figo (Real
Madrid) dan Rui Costa (AC Milan) bakal membuktikan kesanggupan
mereka tampil cemerlang seperti performance di klub-klub papan
atas Eropa.
Banyak pemain nasional tergabung dalam tim yang memenangkan
Kejuaraan Sepakbola Remaja (Saudi Arabia 1989 dan Portugal
1991). Mereka juga menempati posisi runner-up Kejuaraan
Sepakbola Remaja U-21 UEFA tahun 1994 dan Olimpiade Atlanta
1996.
Portugal memasuki putaran final Piala Dunia enam kali. Tim
yang kalah di semifinal Kejuaraan Eropa 2000 ini pernah
menempati posisi ketiga di Piala Dunia 1996.
Dengan Figo, pemain terbaik dunia 2001, Portugal menuju
permainan prima untuk meraih posisi pertama. Seperti yang
pernah dikatakan pelatih Antonio Oliveira, "Kami harus
menjadi yang pertama, bukan yang terbaik.
mahmudiono lamin/fwc |