|
Korea Selatan memasuki final Piala Dunia 2002 dengan rekor
partisipan tertinggi dari Asia. Mereka unggul dalam kuantitas
penampilan, namun belum terangkat ke persaingan global. Korea
tampaknya belum mampu menanggalkan cap sebagai penggembira,
karena gagal memenangkan satu pertandingan pun sepanjang
keikutsertaannya.
Guus Hiddink dan pasukannya dituntut menyamai atau bahkan
melebihi prestasi negara-negara tetangga, terutama Korea
Utara, yang lolos ke perempat final Piala Dunia 1966. Tim
Negeri Ginseng itu setidaknya mencatat kemenangan pertama dan
lolos ke putaran kedua.
Dipilihnya Hiddink sebagai pelatih pada Januari 2001
menunjukkan bahwa Korea Selatan membutuhkan bantuan luar untuk
menjembatani jurang kemampuan antara kualitas sepakbola Asia
dan dunia. Pelatih berkebangsaan Belanda ini adalah orang
non-Korea pertama yang melatih tim nasional Korea Selatan
untuk final Piala Dunia.
Mantan pelatih PSV Eindhoven ini memiliki beberapa pemain
berbakat dalam susunan pemain seperti striker Seol Ki-Hyeon,
yang mengalami kemajuan pesat sejak pindah ke Belgia beberapa
musim lalu. Seol bergabung dengan klub Anderlecht selama musim
panas 2001. Ia dijadikan kartu as Korea Selatan dalam
pertandingan di rumah sendiri.
Selain Seol, pemain wajah baru, Korea Selatan juga masih
mengandalkan pemain-pemain yang berlaga di Piala Dunia empat
tahun lalu, seperti Hong Myung-bo di garis belakang, Yoo
Sang-chul (tengah) dan Hwang Sun-hong (striker).
Hiddink dihadapkan pada banyak tantangan. Secara internal,
ia tidak mempunyai banyak kesempatan mendulang banyak pemain
kelas dunia untuk menjembatani ambisi Korea Selatan yang belum
masuk klasifikasi kelas atas sepakbola dunia.
Jepang, sesama penyelanggara Piala Dunia 2002, justru
berada sedikit di atas angin dengan keberhasilan mereka
meruntuhkan Brasil pada Olimpiade 1994. Sebuah momentum itu
rupanya cukup sebagai pengakuan atas kesiapan Jepang untuk
menghadapi Piala Dunia 2002. Padahal, rentang waktu dan
kualitas pemain tim Olimpiade dan Piala Dunia jelas berbeda.
Namun, Hiddink sepakat bahwa ia bersama pasukannya memang
ingin menciptakan sebuah momentum. Kesempatan sungguh terbuka,
karena Korsel bermain di kandang sendiri.
mahmudiono lamin/fwc
|