GRUP A

PRANCIS

SENEGAL

DENMARK

URUGUAY

GRUP B

SPANYOL

SLOVENIA

PARAGUAY

AFSEL

GRUP C

BRASIL

TURKI

CINA

KOSTA RIKA

GRUP D

KORSEL

POLANDIA

AS

PORTUGAL

GRUP E

JERMAN

ARAB SAUDI

IRLANDIA

KAMERUN

GRUP F

ARGENTINA

NIGERIA

INGGRIS

SWEDIA

GRUP G

ITALIA

EKUADOR

KROASIA

MEKSIKO

GRUP H

JEPANG

BELGIA

RUSIA

TUNISIA


BRASIL



PRESTASI

  • Juara Piala Dunia 1958, 1962, 1970, 1994
  • Runner-up Piala Dunia 1950, 1998 
  • Juara Copa America 1919, 1922, 1949, 1989, 1997, 1999 
  • Runner-up Olimpiade 1976 dan 198 
  • Juara Piala Dunia U-20 1983, 1985 dan 1993 
  • Juara Piala Dunia U-17 1997 dan 1999
  • Brasil, pemegang rekor juara dunia empat kali, akhirnya lolos ke putaran final Piala Dunia 2002 Korea/Jepang setelah melewati saat-saat kritis sepanjang babak kualifikasi Amerika Selatan. Mereka kalah jauh dari juara grup, Argentina, bahkan nyaris terlempar dari persaingan, karena membuat blunder dan gagal meraih poin maksimal melawan tim-tim "kelas dua".

    Piala Dunia tanpa Brasil seperti sayur tanpa garam alias hambar. Bisa dibayangkan kekecewaan sekitar 160 juta suporter jika tim Samba tak lolos ke putaran final. Mereka rela mengikuti setiap pertandingan babak kualifikasi dari awal sampai akhir.

    Dalam sejarah Piala Dunia, Brasil belum pernah mengalami ancaman sangat kritis seperti babak kualifikasi Piala Dunia 2002. Mereka tak mampu mengatasi Paraguay atau Uruguay, dua tim yang secara tradisional di bawah "ketiak" Brasil. Kekakalahan dari Argentina masih bisa diterima, karena kekuatan kedua tim relatif berimbang.

    Mario Zagallo, legenda Brasil, menyebut penampilan Brasil sepanjang babak kualifikasi seperti bukanlah Brasil yang sesungguhnya. "Mereka seperti tim anak bawang. Saya bis amemahami kalau Brasil tidak mampu menjadi juara kualifikasi Amerika Latin. Tetapi, ketika mereka terlempar dari enam besar, tim macam apa Brasil sekarang," kata Zagallo dengan nada marah.

    Brasil sempat kehilangan keselarasan dan kualitas permainan. Namun, beban sejarah kejayaan dan "aura" yang dimiliki kesebelasan Brasil selama ini mendorong kebangkitan untuk lolos ke putaran final dengan mengalahkan Venezuela 3-0.

    Latar belakang kemunduran performance Brasil adalah krisis identitas yang mewabah di negara Pelé dan Garrincha ini. Taktik sepakbola merupakan sesuatu yang asing bagi pemain Brasil. Segala macam taktik atau teori merusak permainan indah gaya samba, merusak seni menyerang, dan memupuskan kegembiraan mereka dalam memenangkan pertandingan sepakbola atraktif. Kebingungan seperti ini terlihat jelas di lapangan dan sebagai akibat pergantian pelatih Wanderley Luxemburgo, Leao dan Felipe Scolari.

    Walau bagaimanapun, Brasil tetap saja Brasil. Piala Dunia adalah arena favorit kesebelasan ini. Bukanlah sesuatu yang berlebihan kalau khalayak ramai percaya bahwa Felipe Scolari memiliki anggota tim berpengalaman yang mampu berjuang demi kejayaan Brasil di Piala Dunia Korea/Jepang.

    Brasil akan mengandalkan Marcos (Palmeiras), Cafú, Emerson (AS Roma), Lúcio (Bayern Leverkusen), Roque Júnior (AC Milan), Roberto Carlos (Real Madrid); Vampeta (Flamengo); Rivaldo (FC Barcelona), Edilson (Flamengo), Ronaldo (FC Internazionale Milan), Romario (Vasco da Gama) dan Denilson (Real Betis).

    Dengan kepercayaan lebih tinggi, Brasil diharapkan menjadi kekuatan terdepan. Para pendukung Brasil optimistis, gelar juara dunia kelima bukanlah impian jika Brasil tampil dengan ciri khas gaya samba. Bahkan, demikian tinggi optimisme itu, hingga gelar juara dunia kelima tinggal formalitas! Asal Brasil tidak sombong dan over confident.

    Namun lawan-lawan Brasil pasti sadar bahwa tim legendaris ini hanya belajar sedikit dari kesalahan-kesalahan yang pernah mereka buat pada waktu lampau. Rasa percaya diri berlebih-lebihan, tendensi pemain untuk mendapat kontrak dari klub-klub raksasa selama Piala Dunia berlangsung, dan perselisihan internal telah menghantam Brasil .

    Meskipun gaya mereka seringkali membawa sial dan membuat mereka memilih gaya Eropa dalam beberapa tahun ini, Brasil masih merupakan tim yang akan mewarnai Piala Dunia 2002. Ronaldo diakui sebagai pemain terbaik dunia, dan setelah tampil kurang meyakinkan di Inter Milan, kini ia kembali ke bentuk permainan terbaik.

    Brasil terus-menerus menghasilkan pemain top dunia. Ratusan pemain asal negeri itu tersebar di seluruh dunia mulai dari Italia dan Spanyol hingga Finlandia, Jepang, Honduras, dan India, sehingga Zagallo bisa memilih pemain dengan nyaman.

    Namun Brasil bisa juga kalah. Cerita lama bahwa musuh paling berbahaya bagi Brasil datang dari dalam, ada juga benarnya. Pada beberapa Piala Dunia lalu, terutama pada tahun 1990, pemain sibuk sendiri-sendiri berunding dengan agennya untuk mencari klub baru. Dengan serombongan pemain bintang, tim Brasil bisa menjadi "kaldron kesombongan", demikian digambarkan pers.

    mahmudiono lamin/fwc


    © 2002 LAMPUNGONLINE.COM --- DIVISI DESAIN MEDIA HARMONI PERKASA. ALL RIGHT RESERVED

    HASIL

    PREDIKSI

    ULASAN

    BINTANG

    JADWAL

    REKOR

    PESERTA

    TROFI

    LEGENDA

    SEJARAH

    MASKOT

    HOME

    VENUES

    ANEKA

    SPORT

     -

    SELINGAN

     -

    INVESTIGASI

     -

    ANALISIS

     -

    BISNIS

     -

    BLITZ

     -

    AGENDA

     -

    KRIMINAL

    1
    Hosted by www.Geocities.ws