|
L
ebih mudah menghitung klub-klub bola basket di seantero
Amerika Serikat daripada menghitung peluang tim nasional
sepakbola di kancah Piala Dunia. Sindiran itu sebagai
penggambaran atas "kekerdilan" AS yang
mengglobalisasikan permainan bola basket daripada sepakbola
yang belum diterima sebagai olahraga paling digemari.
Tim sepakbola AS memang masih "tidur" jika
dibandingkan tetangga benua seberang, Amerika Latin. Namun,
bukan berarti Amerika terlelap dalam mimpi keterpurukan.
Setelah tampil menawan pada Piala Dunia 1994 dan tidak
menggembirakan pada Piala Dunia 1998, Amerika Serikat
membutuhkan masuknya para pemain baru.
Karena itu Amerika beralih ke Bruce Arena, pelatih
tersukses di persepakbolaan Amerika Serikat. Arena berhasil
memenangkan berbagai kejuaraan sepakbola dari gelar sepakbola
universitas sampai gelar MLS dan pernah juga menjadi penjaga
gawang Amerika Serikat.
Arena merekrut pemain dari berbagai belahan dunia dan
dengan pengelolaan yang bebas, 20 pemain pilihan bergabung
dengan Tim Negeri Paman Sam ini. Formasi pemain mengalami
perubahan antara formasi 4-4-2 dan 3-5-2 tergantung lawan yang
mereka hadapi. Tetapi lemahnya kecepatan pada lini belakang
membuat tim Amerika Serikat harus berpegang pada formasi yang
mengandalkan kekuatan pemain belakang.
Pada dasarnya tim AS memiliki kekuatan pertahanan yang
bagus, dengan diperkuat kiper Kasey Keller dan Brad Friedel.
Sebagai pelengkap, Tim Merah, Putih dan Biru ini akhirnya
menemukan pemain tengah dan depan yang konsisten.
Kemajuan ini terlihat kurang berarti dengan hengkangnya
pemain tengah dan kapten Claudio Reyna dan pemain sayap Earnie
Stewart, pencetak gol terbanyak di babak penyisihan dengan
menyarangkan delapan gol. Reyna kini bermain di Glasgow
Rangers dan Stewart di NAC Breda, Belanda.
Menurut pemain legendaris Pele, tim manapun tidak mampu
mengukur kekuatan AS secara matematis. Menurut dia, AS adalah
sebuah tanda tanya besar. Pasukan Negeri Paman Sam ini
kadang-kadang tak lebih sebagai tim kekuatan sepakbola dunia
ketiga atau sekadar tim kuda. Namun, AS bisa membuat kejutan.
Namun, problem pokok tim asuhan Arena cukup jelas, yaitu
belum mampu bermain dengan kharakter. AS bisa bermain baik dan
diyakini mampu mendekati standar permainan tim-tim kelas dunia
jika mereka menginginkan sebuah "mimpi Amerika".
Singkatnya, Keller dkk. bisa menjadi pembunuh raksasa jika tim
lawan mencoba "pamer" kemampuan.
mahmudiono lamin/fwc |