|
Brasil, pemegang rekor juara dunia empat kali, akhirnya
lolos ke putaran final Piala Dunia 2002 Korea/Jepang setelah
melewati saat-saat kritis sepanjang babak kualifikasi Amerika
Selatan. Mereka kalah jauh dari juara grup, Argentina, bahkan
nyaris terlempar dari persaingan, karena membuat blunder dan
gagal meraih poin maksimal melawan tim-tim "kelas
dua".
Piala Dunia tanpa Brasil seperti sayur tanpa garam alias
hambar. Bisa dibayangkan kekecewaan sekitar 160 juta suporter
jika tim Samba tak lolos ke putaran final. Mereka rela
mengikuti setiap pertandingan babak kualifikasi dari awal
sampai akhir.
Dalam sejarah Piala Dunia, Brasil belum pernah mengalami
ancaman sangat kritis seperti babak kualifikasi Piala Dunia
2002. Mereka tak mampu mengatasi Paraguay atau Uruguay, dua
tim yang secara tradisional di bawah "ketiak"
Brasil. Kekakalahan dari Argentina masih bisa diterima, karena
kekuatan kedua tim relatif berimbang.
Mario Zagallo, legenda Brasil, menyebut penampilan Brasil
sepanjang babak kualifikasi seperti bukanlah Brasil yang
sesungguhnya. "Mereka seperti tim anak bawang. Saya bis
amemahami kalau Brasil tidak mampu menjadi juara kualifikasi
Amerika Latin. Tetapi, ketika mereka terlempar dari enam
besar, tim macam apa Brasil sekarang," kata Zagallo
dengan nada marah.
Brasil sempat kehilangan keselarasan dan kualitas
permainan. Namun, beban sejarah kejayaan dan "aura"
yang dimiliki kesebelasan Brasil selama ini mendorong
kebangkitan untuk lolos ke putaran final dengan mengalahkan
Venezuela 3-0.
Latar belakang kemunduran performance Brasil adalah krisis
identitas yang mewabah di negara Pelé dan Garrincha ini.
Taktik sepakbola merupakan sesuatu yang asing bagi pemain
Brasil. Segala macam taktik atau teori merusak permainan indah
gaya samba, merusak seni menyerang, dan memupuskan kegembiraan
mereka dalam memenangkan pertandingan sepakbola atraktif.
Kebingungan seperti ini terlihat jelas di lapangan dan sebagai
akibat pergantian pelatih Wanderley Luxemburgo, Leao dan
Felipe Scolari.
Walau bagaimanapun, Brasil tetap saja Brasil. Piala Dunia
adalah arena favorit kesebelasan ini. Bukanlah sesuatu yang
berlebihan kalau khalayak ramai percaya bahwa Felipe Scolari
memiliki anggota tim berpengalaman yang mampu berjuang demi
kejayaan Brasil di Piala Dunia Korea/Jepang.
Brasil akan mengandalkan Marcos (Palmeiras), Cafú, Emerson
(AS Roma), Lúcio (Bayern Leverkusen), Roque Júnior (AC
Milan), Roberto Carlos (Real Madrid); Vampeta (Flamengo);
Rivaldo (FC Barcelona), Edilson (Flamengo), Ronaldo (FC
Internazionale Milan), Romario (Vasco da Gama) dan Denilson
(Real Betis).
Dengan kepercayaan lebih tinggi, Brasil diharapkan menjadi
kekuatan terdepan. Para pendukung Brasil optimistis, gelar
juara dunia kelima bukanlah impian jika Brasil tampil dengan
ciri khas gaya samba. Bahkan, demikian tinggi optimisme itu,
hingga gelar juara dunia kelima tinggal formalitas! Asal
Brasil tidak sombong dan over confident.
Namun lawan-lawan Brasil pasti sadar bahwa tim legendaris
ini hanya belajar sedikit dari kesalahan-kesalahan yang pernah
mereka buat pada waktu lampau. Rasa percaya diri
berlebih-lebihan, tendensi pemain untuk mendapat kontrak dari
klub-klub raksasa selama Piala Dunia berlangsung, dan
perselisihan internal telah menghantam Brasil .
Meskipun gaya mereka seringkali membawa sial dan membuat
mereka memilih gaya Eropa dalam beberapa tahun ini, Brasil
masih merupakan tim yang akan mewarnai Piala Dunia 2002.
Ronaldo diakui sebagai pemain terbaik dunia, dan setelah
tampil kurang meyakinkan di Inter Milan, kini ia kembali ke
bentuk permainan terbaik.
Brasil terus-menerus menghasilkan pemain top dunia. Ratusan
pemain asal negeri itu tersebar di seluruh dunia mulai dari
Italia dan Spanyol hingga Finlandia, Jepang, Honduras, dan
India, sehingga Zagallo bisa memilih pemain dengan nyaman.
Namun Brasil bisa juga kalah. Cerita lama bahwa musuh
paling berbahaya bagi Brasil datang dari dalam, ada juga
benarnya. Pada beberapa Piala Dunia lalu, terutama pada tahun
1990, pemain sibuk sendiri-sendiri berunding dengan agennya
untuk mencari klub baru. Dengan serombongan pemain bintang,
tim Brasil bisa menjadi "kaldron kesombongan",
demikian digambarkan pers.
mahmudiono lamin/fwc |