|
Tidak mudah bagi Paraguay untuk menjadi peserta putaran
final Piala Dunia secara konsisten. Dengan jumlah penduduk
kurang dari lima juta, target ke putaran final Piala Dunia
merupakan perjuangan berat. Apalagi, olahraga kurang mendapat
perhatian masyarakat. Sepakbola hanya dimainkan di ibu kota
Asuncion, kota berpenduduk kurang dari satu juta jiwa.
Paraguay meraih sukses pertama kali pada Piala Dunia 1998
berkat bimbingan pelatih Sergio Markarian. Karena latar
belakang pemain tidak mendukung untuk kompetisi di level atas,
Markarian semula kesulitan menentukan formasi dan taktik
permainan. Ia cenderung meramu strategi hit and run. Taktik
ala Markarian ini mengawinkan keunggulan skill individu
penyerang dan kecermatan pemain belakang atau tengah dalam
memberikan umpan.
Ketika pertama kali melatih tim nasional, Markarian cukup
prihatin, karena kualitas pemain tidak standar. Ia tidak
mempunyai waktu untuk membuat perubahan. "Saya hanya
menginginkan jalan pintas. Taktik ini bisa dijalankan dengan
baik. Namun, selama empat tahun ini telah banyak
perubahan," katanya.
Apakah Paraguay dapat mengulangi kesuksesan empat tahun
lalu di Korea/Jepang? Apalagi terdengar rumor bahwa Jose Luis
Chilavert gembar-gembor tak mau memperkuat negaranya. Padahal,
penjaga gawang eksentrik inilah kunci permainan Paraguay.
Paraguay terpaksa tampil di dua pertandingan awal
Korea/Jepang Chilavert. Kapten berusia 35 tahun ini sedang
menjalani hukuman yang melarangnya bermain dalam empat
pertandingan setelah ia meludahi pemain Brasil Roberto Carlos
di babak kualifikasi bulan Agustus lalu. Tindakan Chilavert
ini tentu saja mencoreng tim Paraguay.
Menjelang putaran final Piala Dunia 1998, Chilavert juga
membuat ulah dan menyulut keretakan. Keretakan pertama dipicu
oleh amarah Jose Luis Chilavert, kapten tim nasional, kiper
utama tim yang sering melakukan tendangan bebas dan
menciptakan gol dan juga juru bicara pemain.
Keretakan lainnya adalah beberapa pemain kunci tidak
bersedia ikut tim dalam serangkaian pertandingan pemanasan.
Chilavert menuduh pelatih menghina para pemain.
Hal ini bisa dibilang memalukan karena dalam kualifikasi
kawasan Amerika Selatan, Paraguay tampil dengan semangat yang
menggebu untuk menutupi kekurangan dalam pertahanan. Para
pemain asuhan Markarian termasuk para pencetak angka kedua
terbanyak setelah Argentina, yang menyarangkan 29 gol.
Paraguay memang penuh dengan kejutan, tetapi dalam urusan
pemilihan pemain tidak terlalu banyak perubahan. Mereka antara
lain: Chilavert (Strasbourg, Prancis); Arce (Palmeiras,
Brasil), Caniza (Santos Laguna, Meksiko), Gamarra (AEK Athens,
Yunani), Ayala (River Plate, Argentina), Enciso (Olimpia
Asuncion), Struway (Libertad Asuncion), Acuna (Real Zaragoza,
Spain), Paredes (Porto, Portugis); Cardozo (Toluca, Meksiko),
Santa Cruz (Bayern Munich, Jerman).
Namun, tim ini kurang mendapat sambutan dari para sepakbola
mania. Pelatih Argentina Marcelo Bielsa, yang timnya bermain
seri dua kali saat melawan Paraguay, mengakui kesiapan
Paraguay. Lupakan Brasil, katanya, "Paraguay memang lawan
tangguh di babak kualifikasi.
mahmudiono lamin/fwc
|