|
Brasil punya legenda, Arab Saudi punya cerita. Begitulah
pemeo pecando bola Arab Saudi dalam menyemangati persiapan tim
nasional ke Piala Dunia 2002. Dengan modal pemain-pemain tidak
terkenal, tim Singa Gurun Pasir itu membuat decak kagum pada
dua final sebelumnya, 1994 dan 1998. Mereka mengimpor
"koki" Brasil yang menghidangkan "masakan"
goyang Samba ala Asia.
Pemain legendaris Edson Arantes Do Nascimento atau Pele tak
pernah percaya dengan opini pecandu sepakbola dunia yang
meyakini gaya permainan Samba bisa diserap dan menjadi trade
mark bangsa-bangsa di luar Brasil.
Setelah melihat penampilan Arab Saudi pada penampilan
perdana di arena Piala Dunia 1994 di AS, Pele tak kuasa
mengatubkan mulutnya yang ternganga. Arab Saudi kebetulan
punya pemain-pemain berbakat. Namun, bukan kebetulan semata
jika Saeed Owairan dkk. mampu menyuguhkan goyang samba hingga
lolos ke putaran kedua dengan menyisihkan Belgia dan Maroko.
Arab Saudi tampil lengkap dengan Pele-nya Asia. Majeed
Abdullah adalah pemain yang disebut-sebut menjiwai Edson
Arantes Do Nasciamento tersebut. Bersama Owairan, Fuad Amin,
dan Fahd Al Bishi, mereka menembus perdelapan final.
Dengan penampilan lima kali berturut-turut dalam final
Piala Asia sejak 1984, Arab Saudi menjadi pemimpin di Asia
dalam dua dekade terakhir. Masuknya tim Arab Saudi tiga kali
berturut-turut dalam final Piala Dunia semakin memantapkan
posisi mereka sebagai tim teratas di jajaran Teluk Persia.
Perjuangan tim ini bermula saat masuk putaran final Piala
Dunia di Amerika Serikat tahun 1994, yang menjadikan Arab
Saudi sebagai tim pertama Asia yang mampu menembus babak kedua
sejak penampilan heroik Korea Utara di Inggris tahun 1966.
Empat tahun kemudian, Saudi gagal mencapai target perempat
final, karena dikalahkan oleh Denmark dan Prancis sebelum
melawan Afrika Selatan dalam pertandingan akhir.
Tim nasional Arab Saudi berkembang pesat setelah membuka
kebebasan dalam penunjukan pelatih. Sejak Eduardo Vingada
mengantarkan Saudi meraih gelar juara Piala Asia di Uni Emirat
Arab pada tahun 1996, tim Saudi berganti pelatih setidaknya
delapan kali, dengan Otto Pfister dan Nasser Al Johar
menempati posisi sebagai pelatih dua kali.
Pendukung tim nasional menginginkan Arab Saudi sukses di
Korea/Jepang menyusul kembalinya peraih penghargaan Pemain
Terbaik Asia Nawaf Al Temyat, yang tidak bermain pada babak
kualifikasi karena cedera lutut.
Babak kualifikasi tim Arab Saudi dengan perjuangan cukup
dramatis. Mereka harus memenangkan pertandingan terakhir
melawan Thailand dan berharap Bahrain dapat mengalahkan Iran
di Grup A. Negara-negara tetangga menolong mereka dengan
mengalahkan Iran 3-1, sedangkan Saudi menang 4-1 atas
Thailand, tim asuhan Peter With asal Inggris.
Langkah awal tim Saudi dalam memasuki final dinilai kurang
baik; seri melawan Bahrain di Riyadh dan kalah dari Iran di
Tehran, yang juga turut mengakhiri peran Slobodan Santrac
sebagai pelatih.
Namun, Al Johar kembali bermain untuk mengembalikan Saudi
ke posisi puncak grup untuk menjadi bangsa Arab pertama yang
masuk putaran final Piala Dunia tiga kali berturut-turut.
Pemain andalan Arab Saudi adalah Al Owairan Saeed, Majed
Abdullah, Youssef Al Thuniyan.
mahmudiono lamin/fwc |