|
RIVALDO
Rivaldo Vitor Barbosa Ferreira adalah sebuah fenomena
sepakbola masa kini. Ia muncul dengan latar belakang keluarga
miskin, menembus atmosfir sepakbola kelas satu dunia dengan
pundi-pundi uang, dan popularitas setinggi langit.
Kehidupannya yang berliku telah menempatkan Rivaldo sebagai
figur yang pantas dikagumi. Pada akhir abad ke-21, sepakbola
sudah berubah menjadi bisnis dan industri komersial. Pemain
berbakat hebat pun menjadi "barang" berharga,
termasuk Rivaldo.
Pesepakbola asal Brasil ini disebut-sebut sebagai pemain dengan
talenta tertinggi seangkatan Ronaldo. Dia seorang pencipta gol
bernapas predator. Pemain yang dibesarkan di klub Palmeiras ini
bisa menjadi pusat permainan, sutradara lapangan, sekaligus
penentu kemenangan tim mana pun yang dibelanya.
Klub raksasa Spanyol, Barcelona, dan tim nasional Brasil jelas
sangat beruntung memiliki Rivaldo, pemain sentral yang menjadi
penentu kemenangan atau penyelamat klub. Orang Brasil menyebut
Rivaldo sebagai maestro. Wajar bila kemudian nomor punggung 10
kedua tim ini diberikan kepadanya.
Dalam enam tahun terakhir, Rivaldo mengoleksi delapan gelar,
baik untuk klub maupun negara. Bersama Palmeiras, ia dua kali
membawa klub bermaskot burung kakak tua itu menjuarai Liga
Brasil (1994, 1996).
Barcelona dibawa merengkuh mahkota Liga Spanyol (1998, 1999),
Piala Raja Spanyol (1998), dan Piala Super Eropa (1998). Brasil
pun ikut merasakan tuah Rivaldo dengan meraih gelar Piala
Konfederasi (1997) dan Piala Amerika (1999).
"Rivaldo adalah seorang pesepakbola uar biasa. Ketika
masih membela Palmeiras, saya melihatnya melakukan hal-hal yang
tak terbayangkan. Sukses selalu menyertai langkahnya, itulah
yang membuatnya besar," tutur mantan rekan Rivaldo di
Deportivo La Coruna, Djalminha.
Sanjungan dari seorang teman tentu kurang objektif. Simak
pujian tulus yang dilontarkan eks pelatih AC Milan, Alberto
Zaccheroni, saat Barcelona menahan Rossoneri 3-3 di babak
penyisihan Liga Champions 2000/01, Oktober tahun lalu.
"Saya sudah mengira ia akan tampil bagus. Sejujurnya,
Rivaldo benar-benar fantastis," ujar Zac.
Dalam hatinya, Zac barangkali menyesal, karena Milan tak bisa
membeli pemain seperti Rivaldo. Rasa iri yang sama dimiliki
barisan klub raksasa Eropa seperti Lazio, AS Roma, Inter Milan,
dan Manchester United. Sudah sejak lama mereka ingin memboyong
sang fenomena.
Sadar kalau pemain andalannya tergoda, Presiden Barcelona Joan
Gaspart buru-buru mengikat kontrak baru dengan Rivaldo yang
akan berakhir Juni 2003. Dalam kontrak tersebut, penggemar jus
buah ini menerima gaji 1,1 miliar pesetas setahun.
Berarti, Rivaldo adalah pesepakbola dengan gaji terbesar di
dunia. Penghasilannya jauh melampaui Figo dan Hernan Crespo,
yang justru menjadi pemegang rekor transfer tertinggi.
Pendapatan luar biasa itu membuat Rivaldo menolak tawaran dari
luar Barcelona. "Saya sangat senang dihubungkan dengan
klub sebesar Milan dan Manchester United. Itu artinya saya
telah melakukan pekerjaan dengan baik dan dikenal banyak orang.
Namun, ketika menandatangani kontrak baru, saya menyerahkan
semua masalah transfer kepada Barcelona," katanya.
Ketika dibeli Deportivo La Coruna dari Palmeiras musim 1996/97,
nama Rivaldo masih kalah tenar dibanding Ronaldo dan Roberto
Carlos. Kedua rekan senegaranya itu sudah lebih dulu beraksi
bersama Barcelona serta Real Madrid.
Rivaldo tak butuh banyak waktu untuk mendapatkan pengakuan
publik sepakbola Eropa. Sepak terjang bersama Super Depor
membuatnya memperoleh julukan El Mago atau Si Penyihir. Jika
tengah bermain dengan kemampuan terbaiknya, Rivaldo memang bak
menyihir seisi stadion. Dalam waktu singkat, ia mendatangkan
segudang kesulitan buat lawan-lawannya.
Majalah Don Balon pada edisi April 1997 memuat karikatur
dirinya yang digambarkan sebagai seorang pesulap. Bukan
kelinci, burung dara, atau kain warna-warni yang keluar dari
topi hitamnya, melainkan gol demi gol bagi tim yang dibelanya.
Legenda Real Madrid asal Hongaria, Ferenc Puskas, termasuk
orang yang amat mengagumi kelihaian Rivaldo. Ketika merayakan
ulang tahunnya yang ke-70, pria kelahiran 2 April 1927 ini
hanya meminta satu hadiah: rekaman gol Rivaldo ke gawang Real
Sociedad!
Di mata Puskas, Rivaldo adalah pemain yang serupa, tapi tak
sama dengan dirinya. Ketika masih aktif bermain di era 50-an,
Puskas juga dianggap sebagai seorang penyihir. Tim nasional
Hongaria pun punya julukan The Magic Magyars. Namun, ada
perbedaan nyata antara dua bintang berbeda zaman ini.
"Dulu saya punya tenaga luar biasa, tapi bola tidak
melekat di kaki seperti yang dilakukan Rivaldo. Saya selalu
menikmati ketegangan yang muncul ketika dia melepaskan
tendangan dengan penuh keanggunan," tutur Puskas.
mahmudiono lamin/fwc
|