|
Paolo Maldini adalah satu dari sederet legenda sepakbola
Italia. Ia, sebagaimana ayahnya, Cesare Maldini, menjadi bintang
AC Milan dan tim nasional Italia pada generasi masing-masing.
Cesare mencatat zaman keemasan sejak meniti karier pemain hingga
menjadi nasional. Paolo Maldini, sang anak, sekarang tercatat
sebagai salah satu defender terbesar dunia.
Ia bermain di AC Milan sejak masa remaja dan membuat debut di
Seri A ketika berumur 16 tahun. Selama memperkuat tim berkostum
merah hitam itu, Paolo Maldini memenangkan beberapa gelar
domestik dan menjembatani sejarah keemasan AC Milan di kompetisi
internasional.
Maldini telah memenangkan gelar-gelar juara Italia (scudetto)
1988, 1992, 1993, 1994, dan 1996. Bersama The Dream Team-julukan
AC Milan-Maldini pun meraih tiga trofi Cup Winners Cup (1989,
1990, 1994), dua kali juara dunia antarklub (1989, 1990), dan
merebut Piala Super Italia tiga kali (1989, 1990, 1995).
Penampilan perdana bersama Squadra Azzura tercatat pada Maret
1988. Ia senantiasa terusik untuk mempersembahkan gelar
internasional sejak Italia tampil di final Piala Dunia 1994 di
AS. Sayangnya, tim Azzuri dikalahkan Brasil dengan adu tendangan
penalti.
Maldini benar-benar penjelmaan kejayaan sang ayah. Sebagai
pemain belakang, ia pemain berkharakter taktis dan dibutuhkan
sebagai peredam keganasan striker. Namun, Maldini tidak
menghalalkan segala cara. Ia justru memberi
"pelajaran" bermain bola modern ala Italia dengan
bermain efisien, yaitu menyerang hanya pada saat yang tepat dan
mengandalkan ketajaman dalam membaca permainan.
Dengan menjunjung fair play, Maldini memberi teladan
kepada pemain-pemain muda. Dengan sepasang kakinya yang kuat,
Maldini merupakan tembok keras yang sulit dilewati. Sebaliknya,
pemain brilian ini begitu cekatan dalam menyerang dari sektor
kiri.
Kematangan visi permainan bertahan dan menyerang sudah tampak
sejak muda. Ia mengaku punya "warisan" ilmu dari sang
ayah dalam mengembangkan visi pertahanan. Ketajaman serangan ia
pelajari dari banyak pemain dunia yang memperkuat klub-klub
Italia. Maldini, yang semula hanya dikenal sebagai defender,
ternyata mampu bermain menyerang dengan perubahan formasi pemain
secara cepat.
Tak seperti pemain-pemain kelas dunia yang suka foya-foya dan
keluar-masuk klub hiburan malam, Maldini menghabiskan istirahat
dengan sang istri, Adriana Fossa, seorang foto model. Mereka
dikarunia seorang anak, Christian, ketika Italia menghadapi
Piala Eropa 1996.
Fabio Capello, pelatih AS Roma, melihat kelebihan Maldini
bukan hanya pada profesionalisme di lapangan. "Maldini
menjadi pemain besar Italia, karena ia berbeda dengan pemain
manapun. Ia tidak suka keluyuran, apalagi membuat skandal,"
katanya.
Sebagai salah satu pemain terbaik Italia pada generasinya,
Maldini (34) ingin menuntaskan karier profesional dengan
memperkuat Italia pada Piala Dunia 2002. "Saya telah
mendapatkan apapun bersama AC Milan. Saya tidak mau kehilangan
momentum bersama tim nasional," tutur wingback kiri
itu.
Maldini terpilih menjadi bagian squad Azzuri di Piala Dunia.
Ia menjadi kapten tim biru putih itu sepeninggal libero
legendaris Franco Baressi, juga pemain AC Milan. Ia menjadi
pemain besar bukan karena anak Cesare Maldini. "Saya memang
mewarisi darah sepakbola dari ayah. Namun, saya mengumpulkan
gelar lebih banyak. Saya masih punya kesempatan lebih besar
lagi," kata pemain alim ini.
Karena akselerasinya sangat cepat, Maldini sering menjadi
titik awal serangan tim Italia. Skill individunya sangat
menunjang gaya permainan Italia. Pada Piala Dunia 1994, Maldini
menunjukkan kecepatan beradaptasi di posisi libero dalam
pertandingan final melawan Brasil.
mahmudiono lamin/fwc
|