HENRIK LARSSON
Henrik Larsson sejak pertengahan dekade 1990-an telah
menasbihkan dirinya sebagai salah satu striker berbahaya
di Eropa. Dick Advocaat, pelatih Celtic, klub musuh bebuyutan
Rangers, sebelumnya menghendaki striker Gabriel Batistuta
asal Argentina. Namun, pilihan jatuh ke Larsson, karena striker
asal Swedia ini memenuhi kualifikasi kebutuhan pemain depan.
Henrik Larsson dilahirkan di Helsingborg dengan ayah dan ibu
dari Kepulauan Cape Verde. Keinginan meniti karier sepakbola
tidak bisa dibendung sejak masa kanak-kanak. Begitu ditanya,
apakah keinginan yang ia idam-idamkan, Larsson langsung
menjawab, "Menjadi pemain profesional".
Larsson mulai bermain sepakbola sejak usia lima tahun. Dua
belas tahun kemudian dia bermain untuk klub divisi tiga,
Hogabog. Karena kurang mendapatkan tantangan serius, ia pindah
ke Helsingborg pada tahun 1992. Dengan bermain bersama klub
divisi dua Liga Swedia, Larsson merasa ditempa dalam kompetisi
lebih keras. Ia berjasa membawa Helsingborg meraih promosi.
"Saya harus memastikan berada di jalur yang tepat selama
mengembangkan karier. Saya tak mau sia-sia dengan menghabiskan
waktu tanpa tantangan. Saya bukan hanya ingin menendang-nendang
bola. Saya perlu bukti bahwa menjadi pemain profesional itu
sungguh indah," kata Larsson.
Larsson membukukan 16 gol pada kompetisi musim pertama dan
mengakhiri tahun ketiga. Ia dengan menduduki peringkat atas
pencetak gol di divisi satu Liga Swedia pada tahun 1993. Bintang
Klarsson tampaknya bersinar terang-benderang.
Dalam debut internasional pada Oktober 1993, Larsson mencatat
prestasi gemilang. Dengan aksi perorangan memukau, ia
menyarangkan sebuah gol bagi kemenangan 3-2 melawan Finlandia,
saingan Swedia pada babak kualifikasi Piala Dunia 2002.
Larsson meninggalkan Helsingborg dan bergabung dengan
Feyenoord pada akhir 1993. Ia hanya mencetak satu gol dalam 15
penampilan pada tahun pertama, tetapi meraih sukses pada musim
kompetisi 1994 dan 1995. Kendati tidak mampu membawa Feyenoord
menjadi juara kompetisi Liga Belanda, Larsson memberi hiburan
bagi klubnya dengan memboyong Piala Belanda.
Setelah malang-melintang empat tahun bersama Feyenoord hingga
1997, Larsson berkemas meninggalkan Rotterdam dan menandatangani
kontrak di Celtic. Ia tancap gas di awal kompetisi dengan
menjaringkan 16 gol pada musim pertama dan membawa tim Hijau
Putih itu meraih gelar juara pertama kalinya dalam satu dekade
terakhir.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ia
diganjal keras dalam suatu dual keras, sehingga terkapar pada
musim kompetisi 1999. Cedera itu tampaknya mengancam karier
Larsson. Tetapi, Larsson belum patah semangat. Motivasinya untuk
kembali ke lapangan hijau auh lebih besar. Setelah absen tujuh
bulan, ia come back dengan kemampuan seperti sedia kala.
Larsson memberi bukti dengan mencetak gol bagi Swedia di Piala
Eropa 2000 di Belanda dan Belgia.
Larsson makin merajalela. Bersama Celtic, yang mengikat
kontrak empat tahun sejak 1999, Larsson membukukan gol ke-100
pada Januari 2001. Larsson bertekad tampil habis-habisan pada
Piala Dunia 2002. Ia percaya bahwa kesuksesan bersama Celtic
akan memberikan inspirasi permainan lebih hebat di Korea dan
Jepang.
mahmudiono lamin/fwc |