|
Pada dekade 1970-an dan 1980-an, Cha Bum-Keun merupakan
satu-satunya pemain Korsel dengan predikat pemain internasional.
Dia kini menjadi legenda sepakbola Korsel. Di mata pemain muda,
Bum-Kheun adalah pembuka profesionalisme persepakbolaan Negeri
Ginseng. Seol Ki-Hyeon, pemain profesional generasi kedua,
setahap demi setahap menapak tantangan lebih besar di kompetisi
Eropa.
Penyerang berbakat ini telah menandatangani kontrak di klub
raksasa Belgia, Anderlecht, setelah bermain satu musim di
Antwerp. Ia berhati-hati dalam mengawali musim kompetisi pertama
di Eropa bersama Antwerp. Seol cepat beradaptasi sejak namanya
tercantum dalam starting line up.
"Saya menghadapi pilihan, apakah bermain untuk Lierse
atau Anderlecht. Lierse bukanlah tim buruk, tetapi Anderlecht
merupakan klub terbaik di Belgia," kata Seol.
Seol dalam meniti karier memang dituntut ekstra hati-hati,
terutama dalam menerima tawaran dari klub-klub Eropa. Pada akhir
masa pelatihan di sekolah sepakbola Korsel, ia mendapat banyak
nasihat agar mengembangkan karier di J-League Jepang. Nasihat
itu cukup logis, mengingat J-League memberi keuntungan dalam
tahapan awal bagi pemain muda asal Korea. Namun, tidak demikian
bagi Seol. Sejak belajar menendang si kulit bundar ia bermimpi
main di Eropa. Ia menolak bermain di Jepang.
Mengapa harus memulai dari Jepang? Mengapa tak langsung ke
Eropa? Pertanyaan itu terus menghantui Seol. Ia tidak mau
membuat kesalahan. Beberapa pemain profesional mengingatkan Seol
agar tidak terburu-buru melangkah ke Eropa jika ia tidak siap
bersaing.
"Ketika pindah ke Belgia, banyak orang mendesak saya
untuk memperkuat tim nasional. Saya harus membuat keputusan yang
tepat. Saya pikir Belgia adalah tempat ideal untuk membangun
impian. Saya memang belajar banyak dan beradaptasi dengan gaya
permainan di sini," kata Seol.
Transfer Jan Koller ke klub Bundesliga, Borussia Dortmund,
memberikan kesempatan kepada Seol menjadi penyerang andalan
Anderlecht. Kesempatan itu menumbuhkan rasa percaya diri. Seol
juga siap membuat debut di kompetisi Liga Champions dan Piala
Super Belgia.
Piala Dunia 2002 merupakan kesempatan terbaik. Seol akan
berjuang di rumah sendiri. Ia merasa mendapatkan motivasi
berlipat-lipat, karena terdorong oleh keinginan meloloskan
Korsel lolos ke putaran kedua Piala Dunia. Jika ambisi itu
tercapai, Seol berjasa mencetak sejarah bagi persepakbolaan
Korsel.
mahmudiono lamin/fwc
|