|
Mpenza adalah minoritas dalam squad pemain berkulit
putih Belgia. Namun, ia merupakan penentu keberhasilan atau
kegagalan tim berjuluk Setan Merah itu. Mpenza adalah pemilik
rekor transfer termahal di Liga Belgia. Usianya baru 22 tahun
ketika menciptakan rekor itu.
Keberadaan Mpenza dalam tim Belgia sangat mencolok karena dua
hal, warna kulit dan kontribusi permainan. Ia adalah
satu-satunya striker berkulit hitam legam di antara
sepuluh pemain kulit putih. Sang kakak, Mbo Mpenza, sebenarnya
juga bermain untuk tim nasional. Namun, prestasi Mbo tidak
sebaik Emile, sehingga gagal mempertahankan caps internasional.
Warna kulit itu menjadi berkah atau sebaliknya mengundang
cemooh bagi Emile. Jika bermain bagus, ia tampak mendominasi
permainan, seolah-olah pemain Belgia lainnya hanya sebagai
pelengkap. Sebaliknya, jika bermain di bawah form, caci-maki
penonton pun hanya dialamatkan kepadanya. Mengapa? Karena dialah
figur paling mencolok dengan warna kulitnya.
Kemampuan Emile membawa bola di petak penalti lawan sedikit
di atas rata-rata pemain Belgia. Kelebihannya terletak pada
kombinasi antara kecepatan dan kepandaian menciptakan peluang
serta naluri mencetak gol tinggi.
Ketika Belgia berlaga di Piala Dunia 2002, Emile mulai
matang. Pada Euro 2000, ia hanya tampil dua kali sebagai
pengganti. Emile sebenarnya dilahirkan di Kongo. Nama aslinya
adalah Lokonda Mpenza. Namun, ia lebih dikenal dengan panggilan
Emile. Belgia kemudian menjadi negara keduanya setelah Kongo.
Di negeri yang dijuluki Jantung Eropa ini karier sepakbola
Emile menanjak pesat. Sepakbola memang hobi yang sangat
disukainya. Sejak berumur delapan tahun, Emile berlatih teknik
main bola di klub bernama Mesvin. Kakaknya, Mbo Mpenza, juga
berlatih di klub ini. Sampai usia delapan tahun, Emile masuk
klub FC Courtai. Di klub ini Emile menghabiskan delapan tahun.
Pada umur 16, Emile pindah ke Mouscron.
Bakatnya bermain bola makin terpupuk. Karier Si Mutiara Hitam
ini makin bersinar setelah digosok para pelatih klub elit Liga
Belgia, Standard Liege, selama satu musim. Ia mengemas 16 gol
dari 26 penampilan. Klub Jerman, Schalke 04, berani merogoh
kocek dalam-dalam untuk membelinya. Harga Rp65,6 miliar yang
dikeluarkan Schalke 04 merupakan nilai transfer termahal klub
tersebut, sekaligus harga transfer tertinggi di Liga Belgia.
Kepindahannya ke Jerman hanya beberapa hari sebelum kakaknya,
Mbo Mpenza, mengikuti jejaknya ke Standard Liege.
Namun, penampilan Emile di kompetisi Bundesliga pada tahun
pertama tak begitu menawan. Ia hanya mencetak lima gol dari 32
pertandingan Schalke 04. Wajar, sebab di Liga Jerman Emile
dihadapkan pada persaingan baru.
Ia masih dalam tahap penyesuaian terhadap iklim kompetisi
baru. Ia juga harus bersaing dengan striker andalan Ebbe Sand
yang sukses mengoleksi 14 gol. Persaingan itu tak membuat pamor
Emile pudar. Bia tetap dipanggil memperkuat Belgia ke Euro 2000
hingga Piala Dunia 2002 di Jepang/Korea. Bagi Mpenza, arena
akbar Piala Dunia 2002 adalah kesempatan untuk membuktikan
kemampuan individunya.
Pelatih Belgia di Euro 2000, Robert Waseige, tak berharap
banyak pada bintang-bintang tua. Kondisi tersebut jelas membuka
ruang bagi Emile menambah jam terbang di partai internasional.
Sejauh ini ia telah memperkuat timnas sebanyak 24 kali dan
mempersembahkan 8 gol. Namun, partai paling membahagiakan bagi
Emile sendiri adalah pertandingan pembukaan Euro 2000 pada 10
Juni. Pada duel tersebut ia mempersembahkan kemenangan pada
Setan Merah, julukan timnas Belgia, yang mengalahkan Swedia 2-1.
Gol Emile di awal babak kedua tersebut akhirnya memang
memastikan Belgia memetik sukses di partai perdana. Jika saja
Emile tak membuat gol, mungkin kedudukan akan berakhir imbang
1-1. Sebab Swedia pada menit 54 berhasil menggetarkan jala Filip
De Wilde melalui Johan Mjallby, untuk menyamakan skor setelah
Belgia sempat unggul di menit 43 melalui Bart Goor. Di masa
depan, Mutiara Hitam ini dipercaya bakal makin mencorong
pamornya. Apalagi jika klub-klub Seri A telah mengincar.
mahmudiono lamin/fwc
|