|
Jika Uruguay membutuhkan seorang pemain berkelas untuk
bangkit dari "tidur" panjang, Alvaro Recoba adalah
pilihan yang tepat. Uruguay, pemegang dua gelar Piala Dunia,
seperti mati suri. Mereka terjerembab ke posisi "kelas
dunia" dibandingkan pemegang gelar juara dunia lainnya.
Pada putaran final Piala Dunia 2002, Uruguay mengharapkan Recoba
sebagai tumpuan. Paling tidak, pemain Inter Milan itu bisa
menggantikan kebesaran Enzo Francescoli, generasi fenomenal
Uruguay yang telah gantung sepatu.
Lahir di Montevideo pada 17 Maret 1976, Recoba merambah
persepakbolaan dunia dengan merintis karier di klub local
Uruguay, Danubio, sebuah klub papan tengah anggota divisi satu
Liga Uruguay. Ia membuat lompatan besar ketika menandatangani
kontrak bersama klub Nacional pada usia 17 tahun. Kendati belum
mampu menyamai pemain fenomenal Uruguay, Francescoli, Recoba
telah mencatat 57 gol dari 51 pertandingan. Ageregat gol tinggi
itu melambungkan Recoba sebagai kandidat pengganti Francescoli.
Klub raksasa Italia, Inter Milan, tak ragu-ragu melamar El
Chino-julukan Recoba-pada tahun 1997. Kehadiran Recoba memang
membawa perubahan besar bagi klub yang bermarkas di kota Milan
itu. Paling tidak, daya serang Inter meningkat pesat.
"Ketika saya tiba di sini, tak seorang pun mengetahui
saya," kata Recoba ketika baru sebulan merumput di Stadion
Giuseppe Meazza, San Siro, Milan. "Hanya beberapa gelintir
reporter yang tertarik dalam perkenalan. Tetapi segalanya akan
berjalan baik. Ketika saya baru berlatih sekitar 20 menit,
pendukung Milan baru mengelu-elukan kehadiran saya. Mereka
memberikan sambutan hangat, bahkan memberhentikan saya di
jalan."
Ketika Recoba mencetak gol kemenangan bagi Inter, pelatih pun
tidak berpikir dua kali untuk menetapkan namanya dalam starting
line up. Orang lantas menyebut-nyebut nama Francescoli dan
mengharapkan Recoba meneruskan sepak terjang pemain terbesar
Uruguay yang menorehkan tinta emas sebagai pemain profesional
pada dekade 1980-an.
"Saya tidak tahu, dia begitu popular hingga sadar bahwa
mereka mengharapkan saya seperti Francescoli. Suatu hari… saya
mungkin dapat mengikuti jejak Francescoli dan berharap menjadi
pemain kelas satu dunia seperti dia," kata Recoba.
Recoba menjadi pemain inti Inter Milan setelah dipinjamkan ke
Venezia. Namun, Recoba sempat dilanda kekhawatiran manakala ia
terlibat kasus skandal paspor. Recoba disebut-sebut memalsukan
keterangan, sehingga ia sempat absen selama empat bulan.
Inter merasa kehilangan Recoba ketika pemain itu berusaha
mengangkat tim nasional pada babak kualifikasi Piala Dunia 2002.
Recoba memang menjadi inspirator pasukan Victor Pua. Dalam
posisi kritis, karena dituntut memenangkan duel play off atas
Australia, Recoba hadir tepat pada waktunya.
Sementara tenaganya terus dibutuhkan Inter Milan dalam
kompetisi Seri A, Recona melihat tantangan baru untuk
mengantarkan Uruguay ke prestasi tertinggi di Piala Dunia 2002.
Uruguay mengalami paceklik prestasi sangat panjang setelah
menduduki tahta Piala Dunia dua kali. Mereka hendak bangkit pada
Piala Dunia 1970 ketika teradang hingga juara keempat. Pelatih
Victor Pua tampaknya tak punya pilihan selain mendaulat Recoba
sebagai maskot baru.
mahmudiono lamin/fwc
|