|
Hakan Sukur adalah pemain terbaik Turki. Ia boleh disebut
sebagai perintis jalan bagi pemain-pemain berbakat negaranya
dalam mengembangkan karier di kompetisi Eropa. Sukur terbilang
telat ketika menekuni karier bersama klub lokal Sakaryaspor pada
usia 16 tahun.
Pada musim kompetisi 1989-1990, ia telah tampil secara
teratur. Namun, Sukur segera hijrah ke Bursaspor pada akhir
musim. Dalam kesempatan singkat, ia terbilang sukses. Klub
raksasa Turki, Galatasaray, yang sejak lama mengamati
perkembangan Sukur, mengoyorkan kontrak pada tahun 1992.
"Pemandu bakat Galatasaray mengetuk pintu rumah saya
ketika saya sedang bermimpi mengembangkan karier internasional.
Siapa mampu menolak," kata Sukur.
Sukur memulai hidup baru di Bosphorus seperti bebek dengan
air. Pada musim pertama kompetisi, ia menjadi sentral perhatian
karena mampu mencetak 19 gol yang membuahkan tahta bagi
Galatasaray di Liga Turki. Bukan rahasia umum lagi bila pemain
sukses meniti karier bersama Galatasaray, tiket tim nasional
tampaknya dalam genggaman.
Sukur adalah sedikit dari generasi baru pemain Turki yang
diharapkan menembus dominasi tim-tim kelas atas Eropa.
Kesempatan itu datang pada tahun Maret 1992 ketika memperkuat
tim nasional pada babak kualifikasi Piala Eropa. Seperti
kehebatannya dalam mengantarkan Galatasaray ke puncak prestasi,
Turki pun dibawa lolos ke putaran final.
Pada Mei 1995, Sukur membuat lompatan besar dengan
menandatangani kontrak bersama klub Seri A, Torino. Seperti
dialami banyak pemain luar negeri, Sukur tidak dapat
menyesuaikan diri dengan beratnya kompetisi Seri A. Ia mengeluh
dilanda homesick dan tidak mampu mencurahkan segala
kemampuan, sehingga hanya tampil dalam lima pertandingan tanpa
mencetak satu gol pun. Ketika Galatasaray memberi tawaran pulang
kampung pada November 1995, Sukur cepat-cepat mengangkat koper
tanpa berpikir dua kali.
Kerinduan Sukur atas gebyar lapangan hijau rupanya terpenuhi.
Ia kembali menjadi pahlawan Galatasaray dari satu pertandingan
ke pertandingan lainnya. Tak hanya manajemen klub atau
rekan-rekan satu tim yang mendukung kariernya kembali bersinar,
namun ribuan anak-anak Turki rela antre mengelu-elukan sang
bintang.
Bukan kebetulan semata jika Sukur dan Galatasaray saling
memberi dan mencapai kejayaan bersama ketika mereka meraih gelar
Piala Winners. Galatasaray pun masuk deretan klub elit Eropa.
Jika Sukur, sekali lagi, mencoba peruntungan di Seri A bersama
Inter Milan pada musim kompetosi 2000-2001, siapa mampu
mencegah?
Hakan Sukur sekali lagi menjadi sentral permainan tim Turki
pada putaran final Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang. Ia
tampaknya akan menambah kebintangannya bersinar lebih
terang-benderang setelah Turki menang pada babak play off melawan
Austria dengan keunggulan besar 5-0. Piala Dunia, bagi Turki,
merupakan kesempatan langka, karena baru tahun inilah mereka
berdiri sama tinggi dengan tim-tim kelas dunia setelah 48 tahun.
mahmudiono lamin/fwc
|