ALEN BOKSIC
Alen Boksic adalah sedikit dari
pemain Kroasia yang sukses dalam kompetisi Liga Italia dan
Inggris. Anak sopir truk ini piawai memainkan si kulit bundar.
Skill-nya tinggi, tendangan keras, dan tangguh dalam duel bola
atas. Pers Barat menyebut Boksic sebagai Angin Ribut, karena ia
sering membuat porak-poranda jika beraksi di kotak penalti.
Klub-klub besar Inggris terkejut
dengan determinasi Boksic. Dia muka baru di Divisi Utama Liga
Inggris 2000/2001. Gaya kick and rush belum begitu akrab, tetapi
ia mudah mencetak gol. Padahal, menjelang perpindahan ke Liga
Inggris, ia lebih banyak disimpan oleh pelatih Sven Goran
Eriksson.
"Saya bukan spesialis pemain
cadangan. Anda tahu bahwa Eriksson itu ahli taktik. Sebagai
pelatih Lazio, ia tidak mau menyia-nyiakan bakat saya,"
kata Boksic.
Begitu menjaringkan gol untuk
Middlesbrough, manajer Boro--julukan Middlesbrough--Bryan
Robson,langsung memuji Boksic setinggi langit. "Boksic
adalah striker terbaik di dunia saat ini. Semua pasti
terkagum-kagum melihat permainannya," kata Robson.
Pemain depan kelahiran Makarska,
Kroasia, ini merasa menemukan kembali permainan terbaik yang
sempat hilang setelah lama cedera dan duduk di bangku cadangan.
"Saya tidak muda lagi. Usia saya tiga puluh tahun, tetapi
Boro memberi kepercayaan penuh," tuturnya.
Dalam kondisi fit, penetrasi anak
supir truk yang hidup pas-pasan ini begitu ditakuti pemain
belakang lawan. Ia sejak junior menjadi striker andal. Ketika
Federasi Yugoslavia masih utuh, Boksic mengantarkan negerinya
memenangi Piala Dunia U-20 pada tahun 1987.
Boksic juga berperan besar dalam
sukses klub Hajduk Split di Liga Yugoslavia. Tapi, namanya
benar-benar baru melejit setelah musim panas 1991. Boksic dibeli
Olympique Marseille, klub elit Liga Prancis, milik taipan
Bernard Tapie.
Pertama kali di Marseille,
permainannya tidak begitu bagus, karena pelatih Marseille
cenderung memilih pemain asing lainnya seperti Carlos Mozer,
Chris Waddle, dan Abedi Pele. Abedi Pele adalah pemain yang
memprovokasi Boksic untuk pindah ke Cannes, pesaing Marseille.
Boksic terpaksa melalui musim
kompetisi pertama tanpa bermain, karena transfernya bermasalah.
Federasi Sepakbola Prancis (FFF) sempat melarang dirinya bermain
dalam beberapa pertandingan.
Setelah penampilan buruk pada
pertandingan pertama di Prancis, ia melesat pada musim kompetisi
1992/93, dengan menjadi pencetak gol terbanyak Liga Prancis.
Boksic mencetak 23 gol dari 37 pertandingan bersama Marseille.
Pada musim yang sama, ia juga turut mengantarkan klub itu meraih
Piala Champions.
Keistimewaan Boksic dalam mencetak
gol ditunjang oleh kemampuan individu rata-rata cukup tinggi.
Meski terlihat individual, Boksic sering menggunakan kedua kaki
dan kepala dalam mencetak gol. Pada November 1993, Lazio
beruntung bisa memilikinya. Tanpa Boksic, Marseille degradasi ke
divisi dua lantaran kasus suap dan terbelit masalah keuangan.
Boksic membuat debut dengan
kemenangan 2-1 melawan Napoli. Pada pertandingan kedua melawan
Atalanta, Boksic makin memahami gaya permainan sepakbola Italia.
Selama tiga musim bersama Lazio, ia kurang produktif dengan
mencetak gol kurang dari 20.
Namun, Boksic berhasil
mengembangkan permainanya dengan kecepatan lari yang tidak dapat
ditandingi barisan pertahanan lawan. Dengan postur 1,87 meter,
ia menjadi ditakuti lawan. Apalagi, ia juga memiliki dribling
hebat, baik kaki kiri maupun kanan.
Dengan mengandalkan kecepatan lari,
ia andal dalam melakukan counter-attack, dan sempurna
memperagakan static attack . Keistimewaan mencetak gol dengan
mengandalkan kecepatan itulah yang mendorong pendukung Lazio
memberi julukan Hurricane alias Badai kepada Boksic.
Boksic ingin mengembalikan pamornya
sebagai salah satu striker terbaik di Eropa. Meski baru cedera
panjang, pelatih Middlesbrough masih percaya bahwa Boksic mampu
bangkit lagi.
Impian terakhir Boksic sebelum
gantung sepatu adalah membawa Kroasia ke puncak tertinggi Piala
Dunia. Kesempatan itu datang ketika usianya mendekati senja.
"Saya tidak mau kehilangan momentum. Ini satu-satunya Piala
Dunia yang menjadikan impian saya menjadi kenyataan," kata
Boksic.
mahmudiono lamin/fwc |