|
Tomasz Hajto mudah diingat karena dua hal. Pertama, hanya
dialah pemain yang mampu melempar bola dari jarak jauh untuk
menciptakan ancaman di kotak penalti. Kedua, ia dikenal sebagai
pemain dengan banyak kartu kuning di kompetisi Bundesliga. Pada
musim kompetisi 1988-1989, Hajto membuahkan 16 kartu kuning,
paling banyak di antara pemain manapun.
Tomasz Hajto mengawali karier di KS Halniak pada usia 14
tahun. Ia juga bermain dengan Goral Zywiec. Setelah membuat
debut di divisi satu Hutnik pada 1991, dua tahun kemudian pindah
ke Gornik. Setelah bermain cukup melelahkan, Hajto mulai dikenal
dengan reputasi defender paling tangguh di Polandia.
Hajto tanpa berpikir dua kali menandatangani kontrak dengan
klub Bundesliga, Duisburg, pada 1997. Klub ini menjamin namanya
masuk dalam starting line up. Dalam dua tahun pertama,
Duisburg menduduki peringkat kedelapan klasemen Bundesliga. Pada
musim kompetisi 1997-1998, Hajto membawa Duisburg ke final Piala
Jerman di Berlin, sebelum ditaklukkan 1-2 oleh Bayern Muenchen.
Tetapi, predikat runner-up Piala Jerman tidak mampu
mencegah klub itu tersungkur ke divisi dua Bundelsiga pada tahun
2000. Hajto pindah ke Schalke 04. Bersama klub inilah Hajto
membangun reputasi lebih tinggi sebagai defender terbaik
Bundesliga.
Tomasz Hajto membela tim nasional pada 27 Agustus 1996 dengan
hasil imbang 2-2 ketika berhadapan dengan Siprus. Pada musim
semi 2000, Manajer Polandia Jerzy Engel tidak memanggil Hajto.
Ia bertekad merebut kembali tempatnya sebagai defender
setelah memegang caps 30 kali bersama tim nasional.
Hajto memang tipikal pemain keras, tetapi ia tetap bersikap
profesional dan menjunjung fair play. Ia kuat dalam duel
bola di udara. Dengan lemparan bola amat kuat, ia menjadi
spesialis pelempar bola mati. Bayangkan, lemparan dari jarak 35
meter pun sanggup menciptakan bahaya di kotak penalti lawan.
Putra Hajto, Mateusz, lahir pada tahun 1993, tampaknya siap
melanjutkan predikat sang ayah.
mahmudiono lamin/fwc
|