JOSE
LUIS CHILAVERT
José Luis Chilavert telah menjadi penjaga gawang utama klub
Sportivo Lugueno pada usia 15 tahun. Hanya dalam jangka tiga
tahun, ia popular dengan aksi-aksi brilian dalam penyelamatan.
Ia menjadi penjaga gawang termuda dan paling berbakat Paraguay.
Apalagi penampilan Chilavert makin matang sejak membuat debut
bagi klub divisi satu Paraguay, Guarani Asuncion.
Pada musim kompetisi berikutnya, Chilavert telah berganti kaos
tim. Ia diboyong San Lorenso, klub divisi satu Argentina.
Setelah empat tahun di Buenos Aires, Chilavert hijrah ke Real
Saragosa. Bersama klub Liga Spanyol itu, Chilavert "turun
pangkat" dari penjaga gawang utama menjadi kiper
pengganti.
Karena frustrasi dan kehilangan kesempatan, ia kembali ke
Argentina dan bergabung dengan klub divisi satu, Velez
Sarsfield. Dengan semangat baru, Chilavert meraih gelar pada
musim kompetisi 1993, 1995, dan 1996, Piala Libertadores, serta
Piala Toyota pada 1994.
Setelah sukses selama tujuh tahun di Argentina, apalagi ia
pernah dinobatkan sebagai World Goalkeeper of the Year 1995 dan
1997, Chilavert kembali ke kompetisi Eropa pada November 2000.
Ia menjadi palang pintu terakhir klub Prancis, Racing
Strasbourg, hingga sekarang.
Dengan hanya kemasukan 50 gol sepanjang kariernya, Jose Luis
Chilavert tercatat sebagai penjaga gawang paling sukses. Dia
terkenal mampu mematahkan tendangan penalti dengan gampang. Ia
punya bakat besar dalam mencetak gol melalui tendangan bebas,
baik dalam kompetisi domestik maupun internasional.
Kecermelangan Chilavert membantu perjuangan Paraguay pada
putaran final 1998. Kendati rekan-rekannya minim gol hingga
detik terakhir, ia hanya kemasukan dua gol dalam empat
pertandingan. Paraguay menembus putaran kedua setelah dikalahkan
Prancis, juara di turnamen akbar ini.
Chilavert suka tampil eksentrik dengan seragam warna-warni,
berteriak-teriak seenaknya di lapangan, memaki-maki rekan satu
tim atau bahkan wasit dengan tanpa rasa sesal. Tingkah laku
Chilavert itu menjadi gunjingan dan menghiasi pemberitaan
koran-koran. Penampilannya yang cenderung arogan dan mengundang
bahaya, tampaknya menjadi masalah. Mau apa lagi, watak Chilavert
memang begitu. Chilavert sampai mendapat julukan Anak Nakal di
Paraguay.
Putaran final Piala Dunia 2002 merupakan kesempatan terbaik bagi
karier penjaga gawang eksentrik ini. Ia berencana terjun ke
dunia politik usai menggantung sepatu. Seperti kesuksesan di
lapangan hijau, Chilavert ingin mencapai puncak tertinggi di
dunia politik. "Saya ingin menjadi presiden Paraguay,"
katanya.
mahmudiono lamin/fwc
|