SAMI AL JABER
Pemain berbakat Arab Saudi umumnya sulit berkembang ke
jenjang internasional. Sami Al Jaber adalah pengecualian.
Dalam usia 15 tahun, dia sudah menjadi perhatian klub-klub
besar. Ketika bermain dengan klub nomor satu Al Hilal selama
dua musim, ia mengakhiri kompetisi sebagai pencetak gol
terbanyak tahun 1988.
Para pengamat sepakbola Arab Saudi kurang menyadari bahwa Al
Jaber membutuhkan kompetisi lebih keras agar kemampuannya
tidak mentok. “Saya tidak ingin bermain dalam kompetisi
kelas dua atau kelas tiga. Saya ingin berkembang dalam
kompetisi kelas satu,” kata Al Jaber. Ia meroket sebagai
pencetak gol subur dan memaksa tim pemandu bakat Arab Saudi
memberikan rekomendasi bagi Al Jaber untuk mengenakan kaos tim
nasional di bawah asuhan pelatih Carlos Alberto Parreira,
manajer asal Brasil yang populer pada Piala Dunia 1994.
Kepercayaan itu tidak disia-siakan. Dalam debut internasional
bersama tim nasional, Al Jaber mencetak gol.
Empat tahun kemudian, Al Jaber mengantarkan tim nasional
sukses pada babak kualifikasi Piala Dunia 1994. Dalam
persaingan keras dengan Iran, Arab Saudi menang 4-3.
Al Jaber mengawali putaran final Piala Dunia 1994 sebagai
pemain pengganti, tetapi ia menjadi pilihan pertama pada
putaran kedua melawan Maroko. Gol tunggalnya memberikan
kemenangan pertama Arab Saudi di Piala Dunia. Kemenangan itu
juga membuka peluang ke babak perempat final, sebelum
ditaklukkan Swedia 1-3.
Ketangguhan Arab Saudi tak lepas dari Al Jaber. Pemain ini
makin matang dalam memimpin rekan-rekannya untuk memenangkan
Piala Asia 1996. Di Prancis, Anak-Anak Gurun gagal mengukir
prestasi mengesankan seperti Piala Dunia 1994. Padahal, Al
Jaber telah mencetak gol untuk memaksakan hasil imbang 2-2
atas Afrika Selatan.
Al Jaber bermain konsisten dan berkembang pesat usai Piala
Dunia. Sayangnya, ia terpaksa istirahat lima bulan akibat
cedera. Pada Agustus 2000, klub Inggris, Wolverhampton,
meminang si anak gurun ini sebagai bagian dari pasukan
andalan.
Al Jaber secara fisik perlu memahami gaya permainan Inggris.
Namun, sebagai pemain pertama Arab Saudi yang bermain di Liga
Inggris, ia harus bersikap profesional. Dalam waktu relatif
singkat, Al Jaber membuktikan trade mark sepakbola Arab Saudi
tidak kalah dengan gaya Inggris. Merumput di Inggris belum
setahun, Al Jaber cedera berat dan kembali ke Al Hilal.
Berbekal kematangan pemain nasional dan pengalaman kompetisi
internasional, Arab Saudi tidak menyia-nyiakan Al Jaber untuk
kembali memimpin rekan-rekannya di Piala Dunia 2002.
Penampilan ketiga di Piala Dunia merupakan sejarah bagi Arab
Saudi.
mahmudiono lamin/fwc |