|
ELHADJI DIOUF
Pecandu sepakbola mendapat kejutan ketika Senegal menyisihkan
Maroko pada babak kualifikasi Piala Dunia 2002 Grup C Afrika.
Kemungkinan bagi Senegal untuk melewati Maroko semula sangat
kecil, karena pesaingnya itu lebih unggul dalam rata-rata gol.
Namun, semua kekhawatiran menjadi sirna setelah tercipta dua
hattrick oleh satu pemain, Elhadji Diouf.
Striker yang hijrah dari klub Rennes ke Lens pada awal
musim kompetisi 2000-2001 itu mempunyai keistimewaan dalam
kecepatan lari. Penampilan singa muda ini makin komplit dengan
kontrol bola akurat dan akselerasi menawan di kotak penalti.
Pecandu sepakbola Senegal pun jatuh hati dan menjulukinya Serial
Killer.
Sebagian besar pengamat sepakbola Afrika mengakui Diouf
memenuhi persyaratan pemain modern yang mengandalkan kekompakan,
dan bukan skill individu. Ia kadang-kadang bekerja keras
sendirian untuk mencari bola, tetapi tidak pernah egois ketika
menciptakan peluang atau mencari kesempatan mencetak gol.
Diouf merasa beruntung sejak memperkuat klub Lens, klub
divisi satu Liga Prancis. Dia bermain sepenuh hati dalam latihan
maupun pertandingan, akrab dengan wartawan dan disukai semua
orang. Hanya dengan bermain beberapa kali di Prancis, ia begitu
popular di negaranya dan masuk nominasi tim nasional.
Diouf diperhitungkan bersinar pada Piala Dunia 2002. Pelatih
tim nasional Senegal Bruno Metsu merasa berkewajiban
mengantarkan pemain muda berbakat ini dalam debut di putaran
final Piala Dunia. "Saya tidak peduli dengan apa yang ia
kerjakan," kata Metsu ketika memberikan respon atas
kelakuan Diouf yang dinilai buruk karena terlalu cepat populer.
"Semua orang memperhitungkan dia berada di puncak
permainan. Saya gembira jika semua menghormati keputusan
saya."
Senegal mengalahkan Jepang 2-1 dalam pertandingan
persahabatan pada Oktober 2001. Selama pertandingan, pelatih
Jepang Phillipe Troussier tak berkedip mengamati performance
Diouf sebagai pemain paling berpengaruh. "Saya hanya
memberi hormat kepada satu orang pemain Senegal. Dia adalah
Elhadji Diouf," kata Troussier.
Seperti menggarisbawahi pernyataan itu, Diouf segera
menyadari bahwa seluruh media massa dunia membicarakan tentang
lahirnya seorang bintang. Dan sang bintang itu adalah dirinya
sendiri.
mahmudiono lamin/fwc
|