|
Sepakbola Jepang sejak 1998 memasuki sejarah baru dengan
keberhasilan maju ke putaran final Piala Dunia setelah
berjuang selama 44 tahun di babak kualifikasi. Para pemain
Jepang yang berkesempatan tampil di Prancis itu merupakan
generasi baru hasil pembinaan melalui kompetisi Liga-J.
Takehi Okada adalah pelatih telah mempercepat program
reformasi dalam tim nasional setelah mengambil alih tugas Shu
Kamo pada babak kualifikasi Piala Dunia. Okada lebih
mengutamakan bintang-bintang muda yang tengah menanjak.
Pada masa lalu, jalan menuju Piala Dunia bagi Jepang
merupakan satu hal yang hampir mustahil dan selalu diwarnai
dengan kekecewaan. Pada detik-detik terakhir final babak
kualifikasi Piala Dunia AS 1994, Jepang harus menelan pil
pahit kekalahan melawan Irak. Dengan hasil seri, mereka
meloloskan diri ke putaran final Piala Dunia untuk pertama
kalinya.
Dengan adanya J-League, Jepang mulai berbenah diri dengan
merekrut pemain-pemain muda berbakat yang kemudian dibentuk
oleh pelatih Philippe Troussier menjadi sebuah kesebelasan
tangguh. Jepang secara perlahan namun pasti menaiki peringkat
FIFA dan mendominasi persepakbolaan tingkat benua.
Penunjukan pelatih berkebangsaan Prancis setelah Jepang
mengalami kekalahan tiga kali selama Piala Dunia Prancis 1998
-- final Piala Dunia pertama bagi Jepang --benar-benar di luar
dugaan. Namun, mantan pelatih Nigeria dan Burkina Faso ini
membawa Jepang pada kemenangan di Piala Asia Libanon tahun
2000 lalu dan final Piala Konfederasi FIFA tahun berikutnya.
Kesuksesan Jepang dibangun pada tim yang dibawa Troussier
ke final Kejuaraan Dunia di Nigeria tahun 1999 dengan
memasukkan beberapa pemain berpengalaman seperti Hidetoshi
Nakata (Parma), pemain Jepang yang terkenal dan sukses di
Eropa.
Pemain lain seperti Junichi Inamoto berada di garis
pertahanan selama Jepang sedikit demi sedikit meraih
kesuksesan. Prestasi Inamoto membuatnya dapat bergabung
bersama Arsenal dalam Liga Premier Inggris. Pemain andalan
lainnya adalah Kunishige Kamamoto, Kazuyoshi Miura.
mahmudiono lamin/fwc |