|
Keberhasilan Argentina lolos ke putaran final Piala Dunia
2002 merupakan kesempatan ke-13. Pelatih Marcelo Bielsa harus
mempersiapkan anak buahnya dengan matang pada pertandingan di
Korea/Jepang. Bielsa berusaha keras untuk mengantarkan Tim
Albiceleste-julukan Argentina--meraih kemenangan ketiga. Ia
optimistis target itu tercapai, karena tim Tango mengawali
babak kualifikasi dengan mulus dan menjadi juara Amerika
Latin.
Pelatih Kolombia Francisco Maturana mengatakan bahwa
Argentina merupakan favorit juara dan satu-satunya tim yang
paling siap mewakili Amerika Latin untuk menembus dominasi
Eropa di Piala Dunia. Bukan hal aneh bahwa ajang Piala Dunia
selama ini menjadi rivalitas antara tim terkuat Eropa dan
Amerika Latin.
Bielsa percaya bahwa tim asuhannya mampu berbuat banyak.
Materi pemain tim Tango memang sarat pengalaman, antara lain
Batistuta (Roma, Italia), Crespo (Lazio, Italia), Veron
(Manchester United, Inggris), Gonzalez (Valencia, Spanyol),
Samuel (Roma, Italia), Gallardo (Monaco, erancis), Ayala
(Valencia, Spanyol), Zanetti (Inter Milan, Italia), Ortega
(River Plate), dan Sorin (Cruzeiro, Brasil).
Selain para bintang tersebut, masih banyak pemain Argentina
yang kemampuannya tidak diragukan lagi. Di antaranya Juan
Roman Riquelme, pentolan Boca Juniors, Javier Saviola
(Barcelona), Andres D'Alessandro dari River Plate, dan Martin
Palermo, pemain tengah Villarreal. Tidak berlebihan jika tim
Tango kali ini paling sarat bintang.
Siapapun nominasi pemain Argentina, mereka yang masuk dalam
formasi Bielsa 3-3-2-2 telah menghasilkan 13 kemenangan dan
empat seri dari 18 pertandingan di turnamen Conmebol 2000-01.
Pertanyaannya, apakah mereka mampu mengulangi kesuksesan tujuh
atau delapan bulan lalu di Timur Jauh?
Hal seperti ini biasanya dihadapi para pelatih tim jawara
Piala Dunia. Para pemain dituntut bermain maksimal dalam
formasi ideal dan waktu terbatas. Kekhawatiran Argentina hanya
satu, ancaman cedera pemain. Jika ancaman itu bisa dihindari,
tim Tango dijagokan memboyong trofi Piala Dunia pada 30 Juni.
Tim Jepang, Kroasia, Paraguay, Nigeria dan Amerika Serikat
merupakan tim-tim potensial, sehingga Argentina tidak bisa
santai. Bagi Bielsa, tantangan terberat Argentina bukan di
final, tetapi babak-babak awal. "Jika terlambat start,
Argentina bisa terjegal. Kami harus ekstra hati-hati, karena
segalam kemungkinan bisa terjadi," katanya.
Argentina tidak boleh terlena dengan mitos yang menuebut
bahwa kandidat juara Piala Dunia di tangan pendekar Amerika
Latin. Kendati tim Tango telah menjadi kampiun pada babak
kualifikasi dan jauh mengungguli Brasil, pemegang rekor Piala
Dunia, mereka juga perlu menengok kegagalan di masa lalu.
Kisah sukses Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2002 tak
diikuti keberhasilan tim Argentina untuk Olimpiade Sydney
2000. Argentina tersingkir tersingkir dari ajang empat tahunan
tersebut setelah menyerah 0-1 di tangan Cili. Bagi Argentina,
kegagalan ini merupakan aib. Sebab mayoritas anggota tim yang
turun, merupakan skuad Argentina yang memenangkan Piala Dunia
Junior 1997 di Malaysia.
Namun masyarakat Argentina bisa memahami kegagalan itu.
Kadang keberuntungan dan prestasi memang tak bisa diajak
berkompromi. Setidaknya kegagalan timnas Argentina menuju
Olimpiade Sydney 2000 impas dengan prestasi mereka selama ini.
Argentina merupakan pemegang gelar juara Piala Dunia 1978
dan 1986. Pada tahun 1978, keberhasilan mereka berkat
kecermelangan Mario Kempes, striker jangkung andalan tim Tango
saat itu. Delapan tahun kemudian, giliran Maradona yang
menjadi komandan lapangan.
Prestasi Argentina bukan hanya dua kali juara dunia saja.
Beberapa turnamen penting di ajang internasional pernah mereka
gapai. Seperti 14 kali menjuara Copa Amerika, juara Piala
Dunia 1997 dan beberapa lainnya. Belum termasuk 11 penampilan
mereka di perhelatan Piala Dunia.
mahmudiono lamin/fwc |