|
Republik
Irlandia mulai menjadi kekuatan sepakbola dunia pada tahun
1987 di bawah asuhan Jack Charlton. Mantan pelatih Inggris itu
membawa tim Irlandia dua kali ke final Piala Dunia dan satu
kali ke putaran final Piala Eropa dalam jangka waktu enam
tahun.
Sejak "Big Jack" pensiun pada tahun 1995, anak
asuhnya, Mick McCarthy, berjuang untuk mengembalikan Irlandia
ke kejayaan sebelumnya di Piala Dunia Korea/Jepang 2002.
Beberapa tahun belakangan ini kapten tim Roy Keane memiliki
reputasi internasional berkat penampilan gemilang bersama klub
raksasa Inggris, Manchester United. Pemain tengah ini memiliki
pengaruh besar bagi tim Irlandia. Ia jenderal lapangan tengah
dan menentukan hitam-putihnya performance tim Irlandia. Dengan
memompa semantat Keane berarti memupuk semangat tanding tim
secara keseluruhan.
Para pendukung Keane kebanyakan pemain muda yang memiliki
prospek menjanjikan. Damien Duff (Blackburn Rovers), Matt
Holland (Ipswich), Mark Kinsella (Charlton) dan Mark Kennedy
(Wolves) semuanya memiliki tingkat kemampuan dan fleksibilitas
yang belum terukur di tengah lapangan.
Striker Robbie Keane (Leeds) merupakan ancaman serius di
garis depan, sedangkan Clinton Morrison (Crystal Palace)
disebut-sebut sebagai pemain yang memiliki masa depan cerah
dalam tim berkaos hijau ini. Pemain asal klub Wimbledon dan
mantan striker Feyenoord, David Connolly, juga patut
diperhitungkan pihak lawan. Pemain andalan Irlandia adalah
Paul McGrath, Liam Brady, Johnny Giles.
Keistimewaan tim Irlandia terletak pada "bagaimana
bermain bola" dan bukan "sejauhmana Irlandia sanggup
bertahan". Mereka tidak masuk hitungan di Eropa sekali
pun, tetapi menjadi kerikil dalam sepatu.
Bagi Keane, Irlandia tidak perlu terprovokasi oleh psywar
tim-tim besar. "Kami tidak mau menghabiskan waktu untuk
beradu mulut mengenai peluang kami di Korea/Jepang. Kami
sanggup dan berjanji merepotkan mereka. Kami tidak siap jika
hanya menjadi penggembira," kata Keane.
Pernyataan itu bisa diasumsikan bahwa Irlandia sebenarnya
telah mempersiapkan diri dengan baik. Terbukti, mereka mampu
menyisihkan tim kelas dunia, Belanda, pada babak kualifikasi.
mahmudiono lamin/fwc |