|
Kemenangan baru sebatas angan-angan. Bayangan pesimisme itu
selalu menyertai persiapan tim nasional Meksiko ke putaran
final Piala Dunia, termasuk Piala Dunia 2002. Di mata
penonton, permainan Meksiko seperti sirkus keliling.
Pada masa sebelumnya, bintang-bintang cemerlang seperti
Carlos Hermosilo, Luis Garcia, Ramon Ramirez, maupun Luis
Hernandez juga dicap tak lebih dari sekelompok pemain akrobat
sekadar menyenangkan penonton.
Pesimisme pecandu sepakbola negeri itu rupanya
dilatarbelakangi oleh prestasi Meksiko yang tak kunjung
meningkat. Mereka disebut-sebut sebagai tim salah musim.
Meksiko memaksakan diri mengikuti gebyar sepakbola Amerika
Latin nan eksotik, tetapi mereka tidak lebih baik dari tim-tim
Amerika Utara dan Karibia seperti Kanada atau El Savador.
Pendukung tim nasional pun sewot. Standar gaya permainan
Amerika Latin tidak berhasil dikuasai, sementara tampil dengan
kelas tim-tim Amerika Utara dan Karibia hanya menjauhkan
kesempatan memasuki deretan tim-tim elit dunia.
Meksiko boleh disebut sebagai tim langganan Piala Dunia.
Mereka sebelumnya mencatat dua belas kali lolos ke putaran
final sepakbola sejagad. Namun, prestasi terbaik hanya sampai
babak perempat final tahun 1970 dan 1986. Hasil delapan besar
itu pun diperoleh ketika Meksiko menjadi tuan rumah.
Meksiko sudah lama menjadi super power dalam federasi
CONCACAF. Kunjungan ke Korea dan Jepang merupakan kesempatan
ke-13. Tim Meksiko masuk kualifikasi babak final Piala Dunia
dengan pesaing terdekat Amerika Serikat.
Seperti Brasil dan Italia, Meksiko dituntut menang bukan
semata-mata untuk menyenangkan para penggemar mereka saja,
tetapi dituntut tampil prima. Babak kualifikasi Piala Dunia
kali ini memang menuntut permainan prima dan penuh style dari
masing-masing kesebelasan.
Meksiko harus berganti tiga manajer untuk memiliki tiket
masuk ke babak final. Manuel Lapuente adalah orang pertama
yang menangani Meksiko, tetapi mengundurkan diri sebelum
putaran semifinal berlangsung. Enrique Meza mengambil alih tim
dan ia dikenal sebagai manajer berkebangsaan Meksiko pertama
yang kalah babak kualifikasi di negaranya sendiri. Setelah
ditangani oleh Javier Aguirre, pemain Piala Dunia 1986,
Meksiko kembali bangkit dengan menampilkan permainan yang
mengandalkan kekuatan kontrol bola.
"Kami ingin mencatat sejarah baru di Piala Dunia.
Tetapi, kami tak bisa melangkah. Kaki kiri kami masih terbenam
di lumpur, padahal kaki kanan kami siap memperbaiki
nasib," kata Manuel Lapuente setelah melepas jabatannya.
Aguirre memilih formasi 4-4-2 dengan pemain tengah yang
dominan. Pertahanan dipercayakan pada Claudio "El
Emperador (Sang Kaisar)" Suarez, pemain yang mulai naik
daun di akhir tahun 1990 dan posisinya tidak bisa disamakan
dengan sweeper atau stopper. Sedangkan pemain tengah dipimpin
oleh, Alberto Garcia Aspe, yang kembali mendukung Meksiko saat
Aguirre mengambil alih dengan membawa banyak pengalaman
seperti mencetak 22 gol dan dua Piala Dunia.
mahmudiono lamin/fwc |