GRUP A

PRANCIS

SENEGAL

DENMARK

URUGUAY

GRUP B

SPANYOL

SLOVENIA

PARAGUAY

AFSEL

GRUP C

BRASIL

TURKI

CINA

KOSTA RIKA

GRUP D

KORSEL

POLANDIA

AS

PORTUGAL

GRUP E

JERMAN

ARAB SAUDI

IRLANDIA

KAMERUN

GRUP F

ARGENTINA

NIGERIA

INGGRIS

SWEDIA

GRUP G

ITALIA

EKUADOR

KROASIA

MEKSIKO

GRUP H

JEPANG

BELGIA

RUSIA

TUNISIA

MEKSIKO



PRESTASI

  • Juara Piala Emas CONCACAF 1993, 1996, 1998 
  • Juara Piala Konfederasi FIFA 1999

  • Kemenangan baru sebatas angan-angan. Bayangan pesimisme itu selalu menyertai persiapan tim nasional Meksiko ke putaran final Piala Dunia, termasuk Piala Dunia 2002. Di mata penonton, permainan Meksiko seperti sirkus keliling.

    Pada masa sebelumnya, bintang-bintang cemerlang seperti Carlos Hermosilo, Luis Garcia, Ramon Ramirez, maupun Luis Hernandez juga dicap tak lebih dari sekelompok pemain akrobat sekadar menyenangkan penonton.

    Pesimisme pecandu sepakbola negeri itu rupanya dilatarbelakangi oleh prestasi Meksiko yang tak kunjung meningkat. Mereka disebut-sebut sebagai tim salah musim. Meksiko memaksakan diri mengikuti gebyar sepakbola Amerika Latin nan eksotik, tetapi mereka tidak lebih baik dari tim-tim Amerika Utara dan Karibia seperti Kanada atau El Savador.

    Pendukung tim nasional pun sewot. Standar gaya permainan Amerika Latin tidak berhasil dikuasai, sementara tampil dengan kelas tim-tim Amerika Utara dan Karibia hanya menjauhkan kesempatan memasuki deretan tim-tim elit dunia.

    Meksiko boleh disebut sebagai tim langganan Piala Dunia. Mereka sebelumnya mencatat dua belas kali lolos ke putaran final sepakbola sejagad. Namun, prestasi terbaik hanya sampai babak perempat final tahun 1970 dan 1986. Hasil delapan besar itu pun diperoleh ketika Meksiko menjadi tuan rumah.

    Meksiko sudah lama menjadi super power dalam federasi CONCACAF. Kunjungan ke Korea dan Jepang merupakan kesempatan ke-13. Tim Meksiko masuk kualifikasi babak final Piala Dunia dengan pesaing terdekat Amerika Serikat.

    Seperti Brasil dan Italia, Meksiko dituntut menang bukan semata-mata untuk menyenangkan para penggemar mereka saja, tetapi dituntut tampil prima. Babak kualifikasi Piala Dunia kali ini memang menuntut permainan prima dan penuh style dari masing-masing kesebelasan.

    Meksiko harus berganti tiga manajer untuk memiliki tiket masuk ke babak final. Manuel Lapuente adalah orang pertama yang menangani Meksiko, tetapi mengundurkan diri sebelum putaran semifinal berlangsung. Enrique Meza mengambil alih tim dan ia dikenal sebagai manajer berkebangsaan Meksiko pertama yang kalah babak kualifikasi di negaranya sendiri. Setelah ditangani oleh Javier Aguirre, pemain Piala Dunia 1986, Meksiko kembali bangkit dengan menampilkan permainan yang mengandalkan kekuatan kontrol bola.

    "Kami ingin mencatat sejarah baru di Piala Dunia. Tetapi, kami tak bisa melangkah. Kaki kiri kami masih terbenam di lumpur, padahal kaki kanan kami siap memperbaiki nasib," kata Manuel Lapuente setelah melepas jabatannya.

    Aguirre memilih formasi 4-4-2 dengan pemain tengah yang dominan. Pertahanan dipercayakan pada Claudio "El Emperador (Sang Kaisar)" Suarez, pemain yang mulai naik daun di akhir tahun 1990 dan posisinya tidak bisa disamakan dengan sweeper atau stopper. Sedangkan pemain tengah dipimpin oleh, Alberto Garcia Aspe, yang kembali mendukung Meksiko saat Aguirre mengambil alih dengan membawa banyak pengalaman seperti mencetak 22 gol dan dua Piala Dunia.

    mahmudiono lamin/fwc


    © 2002 LAMPUNGONLINE.COM --- DIVISI DESAIN MEDIA HARMONI PERKASA. ALL RIGHT RESERVED

    HASIL

    PREDIKSI

    ULASAN

    BINTANG

    JADWAL

    REKOR

    PESERTA

    TROFI

    LEGENDA

    SEJARAH

    MASKOT

    HOME

    VENUES

    ANEKA

    SPORT

     -

    SELINGAN

     -

    INVESTIGASI

     -

    ANALISIS

     -

    BISNIS

     -

    BLITZ

     -

    AGENDA

     -

    KRIMINAL

    1
    Hosted by www.Geocities.ws