|
Slovenia, bekas negara bagian Yugoslavia sampai 1991 dan
berpenduduk hanya dua juta, berhasil menjadi kekuatan baru
dengan masuk ke putaran final Piala Dunia 2002 di
Korea/Jepang.
Kunci sukses Slovenia berada di tangan pelatih Srecko
Katanec. Orang Slovenia sering menerjemahkan nama pelatih itu
sebagai lucky alias keberuntungan. Padahal, tim nasional
Slovenia tidak hanya bergantung pada nasib baik. Katanec yakin
bahwa kerja keras, semangat tim dan pertahanan solid akan
membuahkan hasil baik di Korea/Jepang
Di bawah binaan Katanec, peringkat Slovenia naik ke posisi
26 ranking dunia FIFA di akhir babak kualifikasi Piala Dunia.
Sebuah peningkatan lebih dari 100 sejak sistem peringkat ini
diterapkan tahun 1993. Tim yang memberikan kejutan dengan
tampil di Piala Eropa Belgia/Belanda 2000 itu menempuh
perjalanan cukup jauh dengan hanya mengumpulkan satu angka
dalam delapan pertandingan Piala Dunia 1998.
Slovenia muncul pertama pada penyisihan Euro 1996 di
Inggris. Berada di Grup 4 bersama Italia, Kroasia, Lithuania,
Ukraina dan Estonia, Slovenia hanya menempati urutan kelima di
atas Estonia. Pada Piala Eropa di Inggris itu Slovenia hadir
sebagai negara merdeka untuk pertama kalinya setelah
memisahkan diri dari Yugoslavia.
Pada Piala Dunia 1998, Slovenia mengalami kegagalan.
Pelatih Bojan Prasnikar tidak mampu berbuat banyak dan hanya
mengantongi satu poin pada babak pra-kualifikasi.
Skuad Piala Dunia Slovenia kini bertumpu pada kekuatan
Maribor Teatanic, klub yang mengejutkan di Liga Champions.
Mereka punya faktor ZZ. Tentu bukan Zinedine Zidane, melainkan
Zlatko Zahovic, gelandang tangguh.
Ia punya jam terbang cukup tinggi di kompetisi sepakbola
Eropa. Pengalaman itu membuat Zahovic tidak canggung atau
rendah diri dalam memimpin rekan-rekannya di Piala Dunia 2002.
Catanec ingin memacu kepercayaan diri seluruh pemain agar
tidak demam panggung.
Peluang Slovenia lolos ke putaran kedua atau membuat
kejutan di babak berikutnya tergantung pada ketangguhan dan
temperamen pemain Zlatko Zahovic. Pemain bernomor punggung 10
ini gampang cedera dan cenderung temperamental. Perselisihan
dengan Katanec berujung dengan skorsing dan baru diizinkan
bermain setelah Euro 2000.
Zahovic jelas pilihan utama Katanec. Tetapi nama-nama
seperti Saso Udovic, Miran Pavlin dan Milan Osterc juga tidak
dilupakan. Memakai pola dasar 3-5-2, Slovenia memang
menjadikan Zahovic sebagai pemain kunci lini tengah. Gelandang
enerjik itu diberi keleluasaan bergerak bebas di semua lini.
Selain itu, efektivitas serangan sayap juga diutamakan. Dengan
modal itulah Slovenia siap mengukir mimpi baru.
mahmudiono lamin/fwc
|