|
Meskipun
kurang mendapat tempat di konfederasi CONCACAF, Kosta Rika
membanggakan diri sebagai negara Amerika Tengah/Karibia yang
sukses melakukan "revolusi" pembinaan. Buah
"revolusi", perubahan sentral pembinaan dari
federasi ke klub-klub profesional, adalah tiket ke final Piala
Dunia 2002 Korea/Jepang.
Bagi Kosta Rika, penampilan di putaran final Piala Dunia
2002 merupakan kesempatan kedua. Keberhasilan pertama dicapai
pada Piala Dunia 1990 di Italia.
Kosta Rika bermain dengan formasi 3-5-2 dengan pemain
tengah yang fleksibel untuk menarik lawan masuk ke lini fital.
Dengan memperagakan taktik demikian, pemain-pemain Kosta Rika
melancarkan counter attack atau serangan balik secepat kilat.
Dua pemain belakang maju dengan konstan dan dua pemain tengah
tetap di belakang untuk mengisi kekosongan.
Kekuatan tim ini sebenarnya terletak pada kemampuannya
bermain menyerang secara simultan. Ini dibuktikan dengan 25
gol dalam 14 pertandingan. Rolando Fonseca dan Paulo Wanchope
memimpin penyerangan. Di Kosta Rika sendiri, keduanya tercatat
sebagai pencetak skor terbaik di atas kertas maupun di
lapangan.
Di samping mengandalkan kehebatan kedua pemain, tim Ticos
menempatkan Hernan Medford, yang bermain di Piala Dunia 1990
dan menyarangkan bola ke gawang Swedia yang mengantarkan Ticos
ke putaran kedua. Pemain ini mempunyai daya dobrak tinggi,
karena ditopang dengan fisik prima dan skill bagus.
Perjalanan Kosta Rika ke putaran final Piala Dunia 2002
berliku-liku. Mereka kalah melawan Barbados di putaran pertama
babak kualifikasi. Pertandingan berikutnya bertambah berat
dengan rekor kalah lebih banyak, yaitu empat kali kalah dan
dua kali seri pada dua babak kualifikasi. Namun, Kosta Rika
memiliki prestasi yang tidak dimiliki tim anggota CONCACAF,
yaitu memenangkan pertandingan di Stadion Guillermo Caneda,
Mexico City. Kemenangan itu menjadi titik balik.
Manager Alexander Guimares mengambil alih pasukan ini pada
Januari 2001, hanya beberapa saat sebelum play off babak
pertama melawan Guatemala. Sejak saat itu Ticos mulai mencatat
banyak prestasi, 11 kali menang, enam seri dan hanya dua kali
kalah. Pemain andalan: Juan Ulloa, Javier Astua.
mahmudiono lamin/fwc
|