GRUP A

PRANCIS

SENEGAL

DENMARK

URUGUAY

GRUP B

SPANYOL

SLOVENIA

PARAGUAY

AFSEL

GRUP C

BRASIL

TURKI

CINA

KOSTA RIKA

GRUP D

KORSEL

POLANDIA

AS

PORTUGAL

GRUP E

JERMAN

ARAB SAUDI

IRLANDIA

KAMERUN

GRUP F

ARGENTINA

NIGERIA

INGGRIS

SWEDIA

GRUP G

ITALIA

EKUADOR

KROASIA

MEKSIKO

GRUP H

JEPANG

BELGIA

RUSIA

TUNISIA

KROASIA



PRESTASI

  • Juara ketiga Piala Dunia 1998

  • Ketika kesebelasan Kroasia menggusur Jerman dengan telak 3-0 di perempat final Piala Dunia 1998, banyak orang bertanya, tim macam apa Kroasia itu? Jawaban yang pantas dikedepankan pelatih Jerman saat itu, Berti Vogts, ketika Kroasia untuk pertama kalinya tampil di even sepakbola internasional, yaitu di Kejuaraan Eropa 1996.

    "Jika Anda ingin tahu tim macam apa Kroasia, maka lihatlah nama-nama pemainnya. Mereka sekumpulan pemain hebat berkelas dunia. Jika demikian, tahukah seberapa besar kekuatan mereka?" kata Vogts waktu itu. "Banyak orang mengatakan bahwa sangat sulit untuk menentukan kesebelasan favorit, namun jika Anda bertanya kepada saya, maka tim yang paling berbahaya adalah Kroasia," tambahnya.

    Yang sangat menyakitkan bagi Vogts adalah bahwa prediksinya itu benar-benar tepat dan justru korbannya adalah tim yang diasuhnya sendiri, ketika Juergen Klinsmann dkk "ditelan" 3-0 dalam partai dramatis. Kekalahan Jerman dari Kroasia adalah kekalahan terburuk Jerman di Piala Dunia, lebih buruk dari kekalahan mereka empat tahun lalu saat digusur tim Eropa Timur lain, Bulgaria, juga di perempat final.

    Kroasia memiliki ciri permainan sangat berbeda dari kebanyakan tim Eropa yang sudah lebih dulu populer. Permainan Kroasia sangat khusus dan istimewa. Dalam lima tahun terakhir ini, dunia sudah mengakui bahwa teknik bermain pemain Kroasia sangat luar biasa. Serangan mereka biasanya dibangun dari bawah dengan menerapkan counter-attack yang mengejutkan.

    Warna sepakbola counter-attack mereka sangat berbeda dengan Italia yang mengandalkan kecepatan dan kelugasan gelandang dan penyerang mereka, sedang Kroasia disusupi warna khas melalui keterampilan individu yang mampu "menggoreng" bola dengan menggiurkan.

    Dengan pola permainan yang mengadopsi formasi konvensional Inggris 4-4-2, Kroasia tampil bak sebuah orkestra. Mereka bermain lebih mengandalkan improvisasi, karena setiap emain memiliki wawasan bermain yang tinggi dan keterampilan luar biasa. Setiap pemain tidak pernah kehabisan inspirasi dalam menerjemahkan taktik dan strategi.

    Setelah naik daun pada Piala Dunia Prancis 1998 dengan menempati posisi ketiga, posisi Kroasia semakin terpuruk dari peringkat dunia. Pada Kejuaraan Eropa di Belgia 2000, Kroasia tidak berjaya. Ditambah dengan hasil buruk lainnya, tiga kali menang dalam 15 pertandingan.

    Mereka mulai mendapatkan kembali posisi mereka dengan lolos ke babak kualifikasi untuk kedua kalinya setelah keberadaan Kroasia sebagai negara merdeka. Meskipun tidak seorang pemain pun berharap mendapatkan medali perunggu di Piala Dunia Korea/Jepang 2002, tim Kroasia sudah mempersiapkan diri dengan memadukan pemain-pemain muda dan berpengalaman.

    Kroasia memasukkan beberapa pemain baru, tetapi para bintang pada Piala Dunia Prancis 1998 lalu ada yang masih dipakai seperti pemenang Golden Boot, Davor Suker, Robert Prosinecki (Portsmouth), Mario Stanic (Chelsea), Robert Jarni (Las Palmas), Zvonimir Soldo (Stuttgart), Igor Stimac (Hajduk Split), Igor Tudor (Juventus) dan Dario Simic (Inter Milan).

    Dengan banyaknya pemain yang berlaga di liga-liga top Eropa dan bergabungnya striker berbakat Bosko Balaban asal Aston Villa, Robert dan Niko Kovak (Bayern Munich) begitu juga dengan penyerang Alen Boksic (Middlesbrough) yang tidak ikut bertanding pada Piala Eropa Inggris 1996 dan Piala Dunia 1998 karena cedera, Kroasia kembali menjadi tim dengan percaya diri amat tinggi.

    Kroasia memang menghadapi beberapa masalah, terutama dalam upaya penyeimbangan para pemain yang sudah tidak muda lagi seperti Suker, Jarni, Prosinecki dan Soldo dengan para pemain muda berbakat. Keadaan semakin membaik bagi tim Kroasia, terutama setelah bergabungnya manajer Mirko Jozic. Setelah mengambil alih dari pelatih legendaris Miroslav "Ciro" Blazevic, Jokic memimpin Kroasia ke babak kualifikasi dengan lima menang dan tiga seri.

    mahmudiono lamin/fwc


    © 2002 LAMPUNGONLINE.COM --- DIVISI DESAIN MEDIA HARMONI PERKASA. ALL RIGHT RESERVED

    HASIL

    PREDIKSI

    ULASAN

    BINTANG

    JADWAL

    REKOR

    PESERTA

    TROFI

    LEGENDA

    SEJARAH

    MASKOT

    HOME

    VENUES

    ANEKA

    SPORT

     -

    SELINGAN

     -

    INVESTIGASI

     -

    ANALISIS

     -

    BISNIS

     -

    BLITZ

     -

    AGENDA

     -

    KRIMINAL

    1
    Hosted by www.Geocities.ws