|
Ketika kesebelasan Kroasia menggusur Jerman dengan telak
3-0 di perempat final Piala Dunia 1998, banyak orang bertanya,
tim macam apa Kroasia itu? Jawaban yang pantas dikedepankan
pelatih Jerman saat itu, Berti Vogts, ketika Kroasia untuk
pertama kalinya tampil di even sepakbola internasional, yaitu
di Kejuaraan Eropa 1996.
"Jika Anda ingin tahu tim macam apa Kroasia, maka
lihatlah nama-nama pemainnya. Mereka sekumpulan pemain hebat
berkelas dunia. Jika demikian, tahukah seberapa besar kekuatan
mereka?" kata Vogts waktu itu. "Banyak orang
mengatakan bahwa sangat sulit untuk menentukan kesebelasan
favorit, namun jika Anda bertanya kepada saya, maka tim yang
paling berbahaya adalah Kroasia," tambahnya.
Yang sangat menyakitkan bagi Vogts adalah bahwa prediksinya
itu benar-benar tepat dan justru korbannya adalah tim yang
diasuhnya sendiri, ketika Juergen Klinsmann dkk
"ditelan" 3-0 dalam partai dramatis. Kekalahan
Jerman dari Kroasia adalah kekalahan terburuk Jerman di Piala
Dunia, lebih buruk dari kekalahan mereka empat tahun lalu saat
digusur tim Eropa Timur lain, Bulgaria, juga di perempat
final.
Kroasia memiliki ciri permainan sangat berbeda dari
kebanyakan tim Eropa yang sudah lebih dulu populer. Permainan
Kroasia sangat khusus dan istimewa. Dalam lima tahun terakhir
ini, dunia sudah mengakui bahwa teknik bermain pemain Kroasia
sangat luar biasa. Serangan mereka biasanya dibangun dari
bawah dengan menerapkan counter-attack yang mengejutkan.
Warna sepakbola counter-attack mereka sangat berbeda dengan
Italia yang mengandalkan kecepatan dan kelugasan gelandang dan
penyerang mereka, sedang Kroasia disusupi warna khas melalui
keterampilan individu yang mampu "menggoreng" bola
dengan menggiurkan.
Dengan pola permainan yang mengadopsi formasi konvensional
Inggris 4-4-2, Kroasia tampil bak sebuah orkestra. Mereka
bermain lebih mengandalkan improvisasi, karena setiap emain
memiliki wawasan bermain yang tinggi dan keterampilan luar
biasa. Setiap pemain tidak pernah kehabisan inspirasi dalam
menerjemahkan taktik dan strategi.
Setelah naik daun pada Piala Dunia Prancis 1998 dengan
menempati posisi ketiga, posisi Kroasia semakin terpuruk dari
peringkat dunia. Pada Kejuaraan Eropa di Belgia 2000, Kroasia
tidak berjaya. Ditambah dengan hasil buruk lainnya, tiga kali
menang dalam 15 pertandingan.
Mereka mulai mendapatkan kembali posisi mereka dengan lolos
ke babak kualifikasi untuk kedua kalinya setelah keberadaan
Kroasia sebagai negara merdeka. Meskipun tidak seorang pemain
pun berharap mendapatkan medali perunggu di Piala Dunia
Korea/Jepang 2002, tim Kroasia sudah mempersiapkan diri dengan
memadukan pemain-pemain muda dan berpengalaman.
Kroasia memasukkan beberapa pemain baru, tetapi para
bintang pada Piala Dunia Prancis 1998 lalu ada yang masih
dipakai seperti pemenang Golden Boot, Davor Suker, Robert
Prosinecki (Portsmouth), Mario Stanic (Chelsea), Robert Jarni
(Las Palmas), Zvonimir Soldo (Stuttgart), Igor Stimac (Hajduk
Split), Igor Tudor (Juventus) dan Dario Simic (Inter Milan).
Dengan banyaknya pemain yang berlaga di liga-liga top Eropa
dan bergabungnya striker berbakat Bosko Balaban asal Aston
Villa, Robert dan Niko Kovak (Bayern Munich) begitu juga
dengan penyerang Alen Boksic (Middlesbrough) yang tidak ikut
bertanding pada Piala Eropa Inggris 1996 dan Piala Dunia 1998
karena cedera, Kroasia kembali menjadi tim dengan percaya diri
amat tinggi.
Kroasia memang menghadapi beberapa masalah, terutama dalam
upaya penyeimbangan para pemain yang sudah tidak muda lagi
seperti Suker, Jarni, Prosinecki dan Soldo dengan para pemain
muda berbakat. Keadaan semakin membaik bagi tim Kroasia,
terutama setelah bergabungnya manajer Mirko Jozic. Setelah
mengambil alih dari pelatih legendaris Miroslav
"Ciro" Blazevic, Jokic memimpin Kroasia ke babak
kualifikasi dengan lima menang dan tiga seri.
mahmudiono lamin/fwc |