|
Sejak terpecahnya Uni Soviet, persepakbolaan Rusia harus
membentuk identitas baru yang terpisah dari prestasi-prestasi
tim atas pemain asal negara-negara Republik Uni Soviet.
Kesebelasan Soviet terakhir kali tampil di Piala Dunia 1990.
Setelah gagal tampil di final Piala Dunia Prancis 1998.
Perpaduan antara pemain veteran dan pemain muda mengantarkan
Rusia pada posisi atas Grup 1 dan menempatkannya dalam final
Piala Dunia 2002 Korea/Jepang.
Pelatih Rusia Oleg Romantsev sibuk merancang pasukan yang
bisa menciptakan banyak gol dengan taktik pergantian pemain
tengah dan depan. Di antaranya adalah Dmitri Khoklov dan
Alexandre Mostovoi. Striker Vladimir Beschastnykh menyarangkan
tiga gol ke gawang Swiss dan memastikan Rusia ke final Piala
Dunia.
Di bawah mistar, Rouslan Nigmatoulline tidak bisa disamakan
dengan kiper legendaris Rusia Lev Yashin, tetapi ia telah
membuktikan sebagai penghenti serangan efektif. Ia hanya
kecolongan lima gol dalam sepuluh pertandingan kualifikasi
Piala Dunia 2002.
Romantsev selain melatih tim nasional juga melatih Spartak
Moscow. Seperti tim pada era Soviet, ia mengikuti model
pasukan Liga Champions. Bersama Beschastnykh dan pemain
Spartak lainnya, Romantsev menggaet pemain skala internasional
seperti Mostovoi dan Valery Karpin (Celta Vigo). Hasilnya
adalah sebuah kesebelasan berpengalaman yang bisa bekerja sama
dengan baik.
Sang pelatih tampaknya ingin membangun citra baru tim Rusia
yang sebelumnya terbelenggu oleh semangat kemapanan sebagai
ujung tombak Eropa Timur. Mereka menyadari bahwa
persepakbolaan Rusia belum sehebat zaman Uni Soviet.
"Baju lama" itulah yang mendorong Romantsev
mentasbihkan semangat baru.
Seperti tim-tim papan atas yang secara tradisional
menguasai kancah Piala Dunia, Rusia masih mengemban misi
pengakuan. Mereka dikenal paling sukses menerjemahkan keutuhan
dan organisasi permainan, tetapi belum pernah merasakan sebuah
gelar juara dunia.
mahmudiono lamin/fwc |