| Dokter Merangkap Dagang Obat
Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan sewaktu di sana sakit mendadak. Oleh teman sekantor, saya diantar untuk berobat ke seorang dokter syaraf senior, yang katanya merakyat, sangat peduli dengan penderitaan rakyat kecil. Karena pasiennya banyak, saya sempat menunggu agak lama, tetapi tidak menjadi masalah.
Masalah baru timbul, sewaktu saya selesai diperiksa, dan dokter menulis resep obat. Herannya, yang menurut kebiasaan, resep seharusnya diberikan kepada pasien dan hak pasien, tetapi langsung diserahkan ke suster untuk ditebus di apotik milik dokter tersebut. Saya sempat tercengang, bukankah saya sebagai konsumen berhak memilih mau membeli obat di mana pun. Seorang dokter cukup melakukan diagnosis dan memberikan resep, bukan berdagang.
Sepulang dari ruang praktik dokter, dengan membawa obat yang dipaksakan untuk dibeli di apotik milik dokter bersangkutan, saya bertanya-tanya, sudah hilangkah hak-hak konsumen untuk memilih di mana akan membeli obatnya, dan sudah hilang jugakah kode etik seorang dokter sehingga dia merangkap jabatan selain jadi dokter juga jadi pedagang.
| | Pelayanan RSU Bukittinggi
Buruk pelayanan Rumah Sakit Umum (RSU) M Muchtar, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada tanggal 1 Maret 2003, pasien (ayah kami Almarhum Bahasab Latief) dari Rao (Pasaman) masuk ke UGD (unit gawat darurat), dan sekitar tiga jam kemudian baru diperiksa. Para perawat acuh tak acuh, kemudian sekitar pukul 14.00, datang dr "Dar" melobi kami, ia meminta agar pasien "dipaket" dengan jumlah uang tertentu, dan itu menurut saran dokter senior.
Saya setuju. Dokter itu menambahkan, kalau kondisi memungkinkan, maka pasien dioperasi. Namun, kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dioperasi, lalu dirawat di VIP IV Ambun Suri. Sejak awal, saya melihat sikap perawat dan dokter tersebut tidak bersahabat. Ruangan tidak dibersihkan, ada perawat yang menawarkan susu, ada perawat yang menawarkan darah (jual darah), tapi tidak saya tanggapi, Begitu juga sikap petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Syahril Anas di Bukittinggi. Mohon teguran PMI Pusat karena petugas di tempat itu bekerja tidak ramah.
Bagaimana sikap para perawat kesehatan, apalagi Kota Bukittinggi yang katanya santun? Ini malah seperti tidak bermoral, di samping para dokter muda yang brengsek. Bagaimana dunia kesehatan Indonesia ke depan? Padahal, sekarang ini sudah jauh tertinggal dari Negeri Jiran Malaysia dan Singapura misalnya.
| | Kemasan Obat Berbeda
Saya mengunjungi Apotek Guardian di Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan (24/11), antara pukul 15.00-17.00, mencari obat Ventolin Expectorant untuk anak berusia tiga tahun. Oleh apoteker yang sedang bertugas, diberikan satu botol Ventolin dengan kemasan agak berbeda dari yang biasa saya beli.
Ketika saya tanyakan, sang apoteker menjelaskan bahwa kemasan tersebut adalah kemasan baru. Karena saat itu obat tersebut sedang sulit diperoleh di tempat lain dan saya percaya penjelasan apoteker tersebut, saya pun membelinya.
Setelah Lebaran, saya mendatangi Apotek Guardian lainnya yang menjadi langganan. Saya terkejut ketika mendapat penjelasan dari apoteker di tempat tersebut dan melihat langsung bahwa obat yang sebelumnya itu ternyata bukan obat dengan kemasan baru, melainkan jenis obat yang berbeda dari yang saya perlukan.
Pelayanan Guardian di Dharmawangsa Square mengecewakan. Saya merasa tertipu. Pemberian obat yang salah akan berbahaya. Mengapa seorang apoteker dapat memberikan penjelasan yang salah? Untungnya anak saya baru sedikit meminum obat tersebut dan sampai sekarang tidak ada efek samping. Berhati-hatilah kalau membeli obat dan jangan langsung percaya kepada penjelasan staf yang bertugas.
| | Pelayanan RSB Hermina
Kecewa dengan penanganan dokter dan pihak RSB Hermina Kampung Melayu, Jakarta Timur, dalam menangani proses persalinan istri saya yang mengakibatkan meninggalnya putra pertama. Dokter yang menangani persalinan sejak mulai kandungan berusia satu bulan hingga proses persalinan adalah dokter "HS". Sampai kontrol terakhir (2/3) pukul 17.00, dokter mengatakan, kondisi ibu dan bayi dalam keadaan normal sehingga memungkinkan persalinan secara alamiah. Kalau dokter dalam menangani persalinan datang lebih awal dan tidak mempercayakan kepada suster, mungkin bayi yang ada dalam kandungan tidak banyak menelan dan menghirup air ketuban yang sudah berwarna hijau kental, dan sudah terlihat tali pusar.
Sebelumnya memang kondisi istri dan bayi yang masih dalam kandungan, sewaktu akan menjalani persalinan kondisinya baik. Datang ke rumah sakit (3/3) tepat pukul 10.30. Tapi, dokter datang pukul 16.00, padahal kondisi istri dan bayi yang masih dalam kandungan sudah bermasalah (krisis) sejak pukul 12.00, karena ketuban pecah tapi tidak lancar dan hanya rembesan. Sementara suhu badan ibu panas disertai muntah-muntah. Setelah dilakukan CTG ulang, ternyata terlihat kondisi bayi yang masih dalam kandungan sudah lemah dan sudah termasuk "gawat janin".
Dalam kondisi seperti itu tidak ada inisiatif dari dokter untuk datang, yang jelas-jelas orang yang dalam keadaan darurat adalah pasiennya. Lebih kecewa lagi ternyata di RSB Hermina tidak ada dokter jaga. Operasi baru dilakukan pukul 16.30, dan pukul 17.00 bayi lahir dengan kondisi tubuh berwarna biru, ketuban hijau kental dan terlilit tali pusar. Waktu itu langsung ditangani oleh dokter anak Idham Amir. Bayi divonis "aspirasi mikonium" karena lahir dalam keadaan biru, terlilit tali pusar dan terlalu menghirup serta menelan air ketuban yang sudah berwarna hijau. Tanggal 4 Maret 2002 pukul 11.30, bayi mengembuskan napas terakhir di RSB Hermina Kampung Melayu.
| | Korban Perselisihan Dokter
Tanggal 16 April, anak saya pada kehamilan pertama mengalami kematian janin yang sudah berusia tujuh bulan. Atas rujukan bidan, pasien dibawa ke RS Bayu Asih, Purwakarta. Tanggal 17 April, pasien diperiksa dokter spesialis kandungan ("A"). Di luar dugaan, anak saya tidak diperiksa seperti layaknya, namun dikhotbahi, yang isinya dapat disimpulkan bahwa antara dokter "A" dan spesialis kandungan lainnya, yang kebetulan memeriksa secara rutin anak saya di Bidan "At", ada perselisihan.
Dengan nada tidak menyenangkan, anak saya diinterogasi, "Tahukah kami penyebab kematian bayinya... dan seterusnya (tidak patut dikemukakan)." Anak saya tersipu-sipu dengan mimik tertekan dan malu, tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Saya sekeluarga yang ada pada waktu itu di ruang inap bersama beberapa orang perawat menyaksikan adegan itu juga merasa terpukul atas perlakuan dokter tersebut.
Anak saya yang sedang menderita dan sedih atas kematian bayinya malah seakan-akan dipersalahkan. Dokter itu mengatakan, "Kalau sudah begini, mengapa datang kepada saya."
Apakah etis sikap dokter seperti itu terhadap pasien yang memerlukan perawatan dan penyembuhan? Mengapa perselisihan antardokter dilimpahkan kepada pasien yang tidak tahu apa-apa?
Sampai 18 April, anak saya belum juga mendapat tindakan medis, bahkan menurut perawat, pemeriksaan darahnya baru akan dilakukan 19 April.
Karena itu, pasien saya keluarkan dari RS Bayu Asih dan dibawa ke rumah sakit swasta di Cikampek untuk perawatan. Anak saya sudah bisa pulang dengan selamat (21/4).
| | Radiologi RS Graha Medika
Pada tanggal 25 Januari, ayah saya menjalani operasi prostat. Namun, dua bulan sesudahnya masih mengeluh sakit, sehingga tanggal 5 April kembali ke RS Graha Medika, Jakarta Barat untuk memeriksa hasil pasca-operasi prostat. Dokter urolog menyarankan untuk diadakan lagi pemeriksaan radiologi berupa Uretrografi + Abdomen AP (BNO), atau disebut juga jenis pemeriksaan Crstogram. Dengan hasil berupa foto-foto rontgen, disarankan untuk segera menjalani operasi kembali yang dijadwalkan 12 April. Sampai di sini semua berjalan lancar, namun yang membuat terkejut, yaitu pada waktu perjalanan ke RS Graha Medika untuk menjalani operasi, kami baru menyadari bahwa hasil foto radiologi tersebut ternyata atas nama orang lain alias tertukar.
Yang menyakitkan, setelah complain ke bagian Radiologi, kami mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Hanya dengan meminta maaf dan mengembalikan uang Rp 300.000, tidak setimpal dengan risiko yang akan dijalani ayah saya. Bagaimana bila sampai terjadi operasi yang tidak sesuai dengan diagnosis yang benar? Bagaimana nasib pasien yang namanya tertukar dengan nama ayah saya? Ini menyangkut reputasi dan kinerja dokter urolog dan RS Graha Medika yang sudah mendapat Sertifikat ISO. Mohon perhatian pimpinan RS Graha Medika, agar tidak terjadi kesalahan lagi pada orang lain.
| | Waspada di RS Mitra Jatinegara
Ibu saya menjalani operasi di RS Mitra International, Jatinegara, Jakarta Timur (13/2). Tanggal 12 Februari (malam), mulai rawat inap dan menempati Kamar 310 (bed No 3). Lalu pada tanggal 15 Februari dipindahkan ke Kamar 307 (bed No 3) dengan alasan AC mau diperbaiki. Jadi, semua pasien Kamar 310 dipindahkan ke Kamar 307 demi kenyamanan dan ketenangan.
Semua berjalan lancar sampai pada saat hari terakhir, (17/2) pagi, ketika saya hendak pergi (sekitar pukul 08.00) setelah semalaman menginap menjaga. Baru saya sadari bahwa perhiasan saya berupa satu cincin kawin dan anting-anting (tiga buah) telah raib. Barang-barang tersebut diletakkan di atas meja yang tepat berada antara dinding jendela dan tempat tidur ibu saya. Sementara malam itu saya sendiri tidur di lantai di bawah meja tersebut. Kondisi Kamar 307 malam itu, di dalam kamar hanya ada saya dan ibu. Tidak ada pasien lain (2 bed lainnya sedang tidak ada pasien). Dan, saya baru datang ke kamar tersebut untuk menginap menjaga ibu sekitar pukul 21.00.
Sejak saya meletakkan perhiasan-perhiasan tersebut di atas meja karena mau tidur sekitar pukul 23.00 sampai menyadari perhiasan tersebut sudah hilang, saya dan ibu saya sama sekali tidak menerima tamu pengunjung dan tetap berada di dalam kamar. Hanya saja sekitar pukul 04.30, ibu saya sejenak meninggalkan tempat tidur untuk ke kamar mandi (sekitar 5-10 menit), tetapi saya masih tetap tidur di lantai di bawah meja tersebut.
Mengetahui kehilangan ini, saya langsung melaporkan kepada perawat yang bertugas. Pihak keamanan memberi tanggapan yang baik dan memberikan beberapa pertanyaan serta berusaha untuk memeriksa di lokasi kamar, namun tidak menemukan.
Saya cukup puas dengan respons dan bantuan yang diberikan. Namun, saya kecewa karena saat kakak saya datang untuk menjemput ibu sekitar pukul 13.00, yang bersangkutan mendengar pembicaraan antara seorang perawat dan seorang anggota satpam (tidak tahu siapa namanya) di lokasi ruang perawat yang berada tepat di depan lift. Dari pembicaraan tersebut sempat sekilas terdengar bahwa mereka agak ragu akan kehilangan barang tersebut. Padahal, kehilangan ini bukan satu hal yang fiktif belaka (mengada-ada).
Bagaimana pasien mau istirahat dengan aman, tenang, dan nyaman kalau peristiwa kehilangan seperti ini yang bisa menjadi momok. Di mana pasien (si sakit) dan atau keluarganya (yang mungkin juga sedang dalam keadaan panik) juga harus selalu waspada menjaga barang-barang miliknya karena situasi yang tidak mendukung. Bukankah lebih baik situasi dan suasana yang kondusif, aman, dan nyaman diciptakan bersama antara pasien (dan keluarga) dan juga dari pihak rumah sakit. Mohon hal-hal seperti ini dicermati dan menjadi perhatian manajemen RS Mitra International.
| | CT-Scan Rumah Sakit Bintaro
Pada tanggal 19 April, saya akan menjalani pemeriksaan CT-Scan di RS Internasional Bintaro, Tangerang, atas rekomendasi seorang dokter internist di rumah sakit itu. Sebelum pelaksanaan CT-Scan, petugas di bagian radiologi mengatakan bahwa CT-Scan dapat dilakukan, namun hasilnya belum dapat diberikan karena peralatannya rusak.
Saat ditanya apakah perbaikannya makan waktu lama, petugas meminta nomor telepon saya untuk dihubungi bila hasilnya sudah selesai. Setelah ditunggu satu minggu, tidak ada kabar. Tanggal 26 April, saya kembali ke rumah sakit tersebut. Ternyata, peralatan masih juga rusak. Petugas kembali meminta nomor telepon saya sambil menjelaskan bahwa peralatan masih rusak untuk waktu yang tidak pasti.
Dokter merekomendasikan saya untuk melakukan CT-Scan karena saya mengalami pusing yang luar biasa dan masih dirasakan hingga saat ini (29/4). Bagaimana RS Internasional Bintaro, sampai kapan harus menunggu? Mengapa pada waktu itu tidak ditolak saja permintaan CT-Scan yang saya ajukan atau dirujuk ke rumah sakit lain. Mudah-mudahan tidak ada penyakit berarti yang menimpa saya.
| | Biaya Rawat RS Carolus
Saya memasukkan anak ke RS St Carolus, Jakarta (rawat inap 19-21/2/2003) untuk operasi tangan kiri yang retak, dan operasi ditangani dr UPS. Sebelumnya, saya sudah rewel menanyakan berapa biaya operasi dan perawatan. Namun, dokter itu hanya tersenyum dan petugas di pelayanan pasien masuk (PPM) juga tidak memberi jawaban tegas. Hanya seorang petugas mengatakan biayanya Rp 7 juta hingga Rp 10 juta.
Karena telanjur masuk dan ditanggung asuransi operasi, maka pasang pen (dua mur kecil) berlangsung. Sebagai karyawan rendah, saya mengambil kelas non-AC dan non-TV (Rp 110.000/malam). Ketika keluar rumah sakit, saya berusaha mencari tahu biaya akhir dan petugas PPM hanya menjawab semua ditanggung asuransi sesuai kelas saya. Ketika kembali ke rumah sakit dan dokter yang sama untuk operasi pencabutan pen (9-11/7/2003), saya juga berusaha mencari informasi biaya, tetapi tetap tak ada kepastian.
Setelah operasi dan perawatan dua hari di kamar non-AC non-TV seharga Rp 160.000/ malam, anak diperbolehkan pulang. Dalam benak saya, kisaran biaya tidak jauh dari Rp 6 juta sampai Rp 10 juta.
Tanggal 28 Agustus, saya dipanggil SDM karena asuransi Bringin Life membebankan biaya yang fantastis. Total biaya operasi pasang dan cabut pen Rp 45 juta. Rinciannya sebesar Rp 24,5 juta untuk operasi pertama, dan Rp 20,5 juta untuk operasi kedua. Bagai disambar petir karena pembebanan biaya itu terlalu tinggi untuk saya.
Saya ke RS St Carolus (29/8/2003) untuk meminta kebijaksanaan harga, tetapi pihak rumah sakit tak bisa memberikan dengan alasan biaya terbesar terletak pada dokter. Pada operasi pertama honor dokter sebesar Rp 14,45 juta dan kedua Rp 12,95 juta. Biaya ini berdampak pada biaya dokter anestesi (bius) yang kedua operasi membebankan sepertiga dari biaya dokter.
Saya berusaha mencari second opinion ke rumah sakit dan dokter lain mengenai kisaran biaya, yakni Rp 6 juta-Rp 10 juta. Pihak RS St Carolus tak bisa berbuat apa-apa karena dokter yang melakukan operasi itu bukan dokter tetap. Sebaliknya, dokter bersangkutan menyalahkan rumah sakit karena dari seluruh biaya yang diterimanya, rumah sakit minta lagi 35-40 persen, padahal di rumah sakit lain hanya meminta dua hingga lima persen.
Saya sudah berusaha meminta kepada dokter tersebut untuk menurunkan biaya itu dan bersedia membantu asalkan pihak rumah sakit turut menurunkan biaya karena rumah sakit juga menikmati 35 hingga 40 persen. Negosiasi yang saya lakukan sejak Agustus sampai Desember 2003 tidak ada hasil.
| | Rumah Sakit Borromeus Bandung
Saya ingin menceritakan pengalaman di Rumah Sakit Borromeus, sebuah rumah sakit terkenal di Bandung. Pada tanggal 27 Juni, saya membawa adik yang menderita pendarahan. Waktu itu jam menunjukkan pukul 21.00, dan diterima dengan ramah di UGD. Tetapi, menunggu dokter cukup lama. Setelah dokter memeriksa, kemudian disuruh untuk membawa pasien ke kamar bersalin, yang letaknya cukup jauh dari UGD. Beruntung kami membawa kendaraan. Diterima seorang bidan, yang sayang tidak tahu namanya, dan dengan kasar mengusir saya untuk keluar dari ruangan. Padahal, dia hanya memeriksa tensi pasien, dan di UGD sudah dilakukan.
Kemudian memanggil dua orang temannya lagi, saya tidak tahu, apakah mereka semua bidan, dan kembali memeriksa pasien. Tetapi, akhirnya diputuskan untuk memanggil dokter. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 ketika dokter datang, dan kemudian pasien disuruh pindah ke kamar kuret, sehingga kembali harus berjalan. Padahal, sudah begitu banyak darah keluar. Ketika saya dan keponakan cemas menunggu di depan kamar kuret, datang bidan yang pertama memeriksa, dan mengusir dengan kasar untuk menunggu di ruang tunggu. Apa salahnya kalau bidan itu dengan penuh simpatik mempersilakan untuk menunggu di luar. Sebab, kami sudah begitu cemas dengan keadaan adik.
Keesokan harinya, ketika pasien ingin ke kamar mandi dan saya memanggil suster malah menjawab bahwa ada kursi roda, dan sambil menunjukkan letak kamar mandi. Dengan terpaksa saya yang mendorong ke kamar mandi. Apakah ini memang tugas keluarga pasien. Inikah cara-cara paramedis di RS Borromeus memperlakukan orang-orang sakit. Apakah cara-cara ini yang memang dianjurkan, agar pasien atau keluarga pasien berpikir dua kali kalau harus kembali ke rumah sakit ini.
|
|