Pesan Dari Konsumen

Asuransi

Bank

Telepon & Ponsel

Perjalanan

Mobil & Motor

Toko & Restoran

Properti & Hotel

Jasa Pengiriman

Penerbangan

Elektronik

Listrik & Air

Kesehatan

Ragam Pesan

 

SITUS MITRA

Daftar Alamat

Punya Masalah?

Logo Bisnis

Biografi Anda

Pustaka eBook

Kliping Media

Mailing List

Kliping Surat Pembaca Dari Berbagai Media Massa

 

 

Kesehatan (2)

1| 2| 3

 

Kista Rahim Segera Operasi

Saya pergi ke RS Graha Medika, Jakarta Barat (5/12/2003), dokter yang saya kunjungi dr "HS". Keluhan waktu itu adalah perut bawah sebelah kiri terasa ngilu. Hal itu sudah saya alami selama satu minggu. Ketika itu perut saya langsung di-USG (No Pasien 00102961, No Reg 20031205- 5778). Menurut dokter, ada kista sebesar 4,5 sentimeter di dinding rahim sebelah kiri dan itu harus segera dioperasi karena kista biasanya mengalami pembesaran pada saat haid. Menurut dokter, apabila sudah mencapai 5 sentimeter, kista tersebut sangat berbahaya sehingga bisa pecah di dalam dan akan "game". Sungguh dapat dibayangkan perasaan saya pada waktu itu.

Namun, saya tidak berhenti menyerah. Pada 8 Desember saya pergi ke dokter lain (dr "H" di RS Citarum, Jakarta) untuk melakukan USG kembali, dengan tujuan mendapat second opinion. Dokter menyatakan bahwa rahim bersih, tidak ada kista. Saya masih mencoba untuk mencari dokter lain untuk mencari kebenaran lagi. Tanggal 9 Desember, saya pergi ke dr "RT" dan sama dengan dokter kedua yang menyatakan, rahim bersih dan tak ada kista sedikit pun. Kedua dokter terakhir menjelaskan, mengapa sampai terjadi ngilu di perut bagian bawah.

Saya merasa dokter-dokter yang telah melakukan praktik di rumah sakit terkemuka, seperti RS Graha Medika, bukan dokter sembarangan. Saya yakin mereka telah dibekali ilmu sehingga dapat menyandang gelar dokter. Saya rasa dengan dua kali pemeriksaan dengan dua dokter yang berbeda adalah tidak salah. Dapat dibayangkan, apabila pada hari itu, di mana saya telah dibekali pengantar untuk ke laboratorium dan bila saat itu juga saya benar-benar melakukannya, apa yang terjadi. Apa yang akan diambil dari operasi tersebut, tentu biaya operasi bukanlah uang yang bisa saya dapat hanya dengan membalikkan telapak tangan.


Layanan UGD RS Sari Asih

Pada tanggal 8 Maret 2002 sekitar pukul 04.30, saya mengantar adik yang menderita infeksi tenggorokan ke UGD 24 Jam RS Sari Asih, Tangerang, karena sudah merasa sakit sekali. Namun, ketika tiba, pelayanan petugas rumah sakit tidak memuaskan karena dokter jaga yang ada sedang istirahat. Ketika dibangunkan oleh perawat, namun tidak segera bangun, dan pasien hanya diminta menunggu sampai dokter bangun dari istirahatnya. Setelah menunggu sekitar 15 menit tidak juga bangun, akhirnya saya meninggalkan UGD rumah sakit itu dan pindah ke rumah sakit lain yang letaknya lumayan jauh, mengingat sakit yang diderita adik saya. 

Ketika tiba di UGD rumah sakit yang lain, pelayanan langsung diberikan tanpa menunggu dokter yang sedang istirahat karena rumah sakit tersebut benar-benar memiliki UGD 24 jam yang sepertinya tidak pernah istirahat untuk melayani masyarakat. Mohon manajemen RS Sari Asih untuk benar-benar menerapkan arti dari UGD (Unit Gawat Darurat) 24 Jam agar masyarakat merasa tenang bila sewaktu-waktu memerlukan pelayanan UGD tersebut. 


RSUP Fatmawati, Pelayanan Peserta Askes

Saya adalah peserta Askes Wajib No 1027.64.014127.9 bertempat tinggal di Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat. Terakhir kali menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan di RSUP Fatmawati pada 19 Juli 2004 dan sesudahnya dalam rangka operasi orthopaedik bagi istri saya.

Apa yang kami alami saat itu, sebelumnya, maupun sesudahnya sungguh merupakan realita dari obsesi seorang pensiunan tentang pelayanan kesehatan bagi peserta Askes wajib di hari-hari tuanya, yaitu

Pertama, keadaan lingkungan RS yang sangat terawat, rapi, bersih, termasuk toilet bagi pengunjung maupun pasien. Kedua, layanan administrasi mulai daftar masuk sampai pemulangan saat rawat inap sangat rapi, efisien, dan profesional.

Ketiga, para dokter, paramedik sangat ramah baik saat bertugas, bersikap maupun bertutur kata, sangat menyejukkan dan menyembuhkan.

Keempat, susah untuk mencela semua pelayanan yang ada: poliklinik, apotik, laboratorium, radiologi, fisioterapi, dan lain-lain. Bahkan cleaning service maupun perparkirannya sangat profesional. Kekurangan sedikit di sana-sini tentunya wajar.

Apa yang sedang terjadi di RSUP Fatmawati Jakarta pasti bukan karena kebetulan. Saya yakin di situ masih tebal idealisme membangun kembali Indonesia baru yang bersih dan ramah. Tidak ada suasana maupun wajah sangar di Fatmawati. Pasti ada satria piningit di RSUP Fatmawati yang mampu memimpin Pegawai Negeri Sipil yang selama ini sering kurang terpuji dalam melayani masyarakat.

Mumpumg masih dalam suasana pilpres, siapapun presidennya, saya usulkan Direktur RS Fatmawati bisa diangkat menjadi Menteri Kesehatan, karena sudah nyata sekali inovasi dan karyanya.

Selain itu, seyogyanya 2/3 dari direksi sekarang diangkat menjadi dirjen maupun kepala direktorat di lingkungan Departemen Kesehatan, agar Depkes dapat diawaki manusia-manusia Indonesia baru yang sedang berinovasi ini. Di samping itu apa yang sudah dan sedang terjadi ini dapat dijadikan model bagi semua RS, utamanya RS pemerintah. Bahkan bila direkturnya atau siapapun yang sangat berperan, bila belum bergelar S-3, FKM UI atau siapa saja berani memberi gelar Dr HC bagi inovasi nyata tersebut.

Juga bagi RS-RS lain baik militer maupun sipil perlu melakukan studi banding, apakah RS-nya masih lebih baik dari RSUP Fatmawati atau tidak.


Dokter Anak Harapan Kita

RSAB Harapan Kita, Jakarta merupakan rumah sakit terlengkap dari segi peralatan untuk anak. Tetapi dokter yang menangani tidak secanggih peralatannya. Seorang dokter anak di ruang ICU Seruni Level 3 yang ketua tim dokter di ruang itu, tidak terbuka kepada orangtua yang anaknya dirawat di tempat tersebut. Yang bersangkutan tidak memberitahukan kepada orangtua pasien, bahwa anak sakit apa dan tindakan yang sudah dilakukan melalui obat. 

Meski orangtua sudah menanyakan berkali-kali, mengapa harus diinfus sebanyak enam selang masuk ke badannya? Dokter menghindar menjawab. Anak saya lahir bulan Oktober hingga meninggal pada bulan yang sama, namun dokter tersebut tidak berbicara tentang sakit yang diderita oleh anak saya serta tindakan yang telah dilakukan. 

Dalam kondisi kritis tengah malam, saya ingin dia hadir dan diskusi. Salah seorang suster menjawab, sudah kode etik di RSAB untuk tidak memanggil atau menelepon dokter. Apakah karena saya dari keluarga kurang mampu? Dan hanya boleh bertemu dengan dokter jaga yang hanya mengunci diri di ruang jaga. Dari tempat saya melahirkan di Klinik Bersalin Asih, Jakarta diberitahukan bahwa anak saya menderita Timus yang membesar.


RS Mitra Internasional Jatinegara Mengecewakan

Setelah mempertimbangkan tentang ke-bonafide - an rumah sakit ini, suami saya memutuskan untuk melakukan medical check up di rumah sakit ini. Sebelumnya suami saya sudah meminta brosur yang berisi perincian & harga paket medical check up.

Sehari sebelumnya (tgl 23/12/03), saya menelpon bagian medical check up di ext 7800 (sesuai yang tertera di brosur) diterima oleh Ibu Ria. Saya bertanya apakah perlu melakukan pendaftaran dulu untuk melakukan medical check up tgl 24/12/03 dan apa saja yang harus dilakukan.

Ibu Ria, tidak memberikan pelayanan yang ramah, menjawab telepon sepotong-sepotong & tidak detil mengenai apa yang harus dilakukan untuk medical check up, hanya menyarankan untuk datang saja langsung mulai jam 8 pagi.

Hari ini (Rabu 24) suami saya datang jam 10.20 dan ditolak dengan alasan sudah puasa lebih dari 12 jam (suami saya puasa sejak jam 22.00). Jika memang peraturannya seperti itu, kenapa tidak disebutkan di brosur untuk puasa tidak lebih dari 12 jam atau diinformasikan oleh Ibu Ria pada saat saya bertanya sehari sebelumnya?

Sebagai rumah sakit bertaraf internasional mestinya rumah sakit ini bisa memberikan pelayanan yang juga bertaraf internasional. Yang pasti kami kecewa dangan pelayanan yang diberikan.


Resep Dokter

Saya membawa anak (dua tahun empat bulan) ke dokter spesialis anak karena keluhan sakit perut (lanjutan pemeriksaan sebelumnya). Hasil diagnosis adalah gangguan pencernaan. Lalu dokter memberi resep tiga macam obat, di antaranya obat racikan yang terdiri tiga macam dan membeli di apotek dekat rumah. Setelah menerima obat, ternyata untuk obat racikan tidak tertera keterangan waktu konsumsi (sebelum atau sesudah makan). Saat menghubungi dokter, dokter bersangkutan balik terkejut karena saya membeli obat itu di apotek dekat rumah, terutama karena menyangkut komponen racikan pertama bernama Lybos.

Informasi yang saya terima dari apotek, obat Lybos tidak ada dalam buku ISO (Daftar Obat Indonesia). Tanpa sepengetahuan saya dan dokter, komponen itu diganti Lacbon, yang berfungsi untuk mual dan gangguan perut kembung. Dokter yang kembali saya hubungi tidak setuju penggantian itu. Menurut dokter, Lybos adalah multivitamin. Setelah saya selidiki lebih lanjut, saya baru mengerti, Lybos bukan nama obat, tetapi kode untuk produk tertentu yang hanya dimengerti apotek tempat di mana dokter itu berpraktik.

Beruntung belum memberikan obat itu kepada anak saya. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi, mengingat dalam satu racikan obat ada dua komponen obat untuk gangguan perut, sementara yang diperlukan hanya satu. Bagaimana hal yang membahayakan hidup orang dapat terjadi begitu saja, dokter menulis resep menggunakan kode dan apotek mengganti obat tanpa persetujuan.

Tolong, dokter dan para pekerja di apotek, jangan sembrono. Masyarakat hendaknya bersikap hati-hati, jangan takut bertanya kepada dokter dan apotek untuk hal-hal yang meragukan. Pastikan bahwa obat yang diberikan adalah obat yang benar dan tepat.


Rawat Inap RS Fatmawati

Kami mengimbau kepada manajemen RS Fatmawati, Jakarta, untuk memperketat keamanan, terutama gedung Teratai dari lantai 1 sampai dengan 6, karena cukup banyak pasien yang kehilangan barang-barang berharga. Pada jam-jam istirahat atau pada waktu mandi, setelah jam kunjungan, pencuri mulai beraksi dengan berpura-pura sebagai penunggu pasien sehingga perawat di setiap lantai tidak mencurigai. Sebelum orangtua saya dirawat di gedung Teratai, kami sudah diperingati para perawat agar hati-hati dengan barang-barang berharga.

Pihak manajemen RS Fatmawati mengherankan. Sudah banyak korban pencurian, tetapi tidak ada tindakan yang berarti untuk keamanan. Akhirnya orangtua saya menjadi korban pencurian (3/3) sekitar pukul 16.00 dan masih beruntung hanya surat-surat Askes (Asuransi Kesehatan). Uang dan barang berharga selalu dikantong dan dibawa ke mana saja. Saya sudah banyak mendengar dari para penunggu pasien, setiap hari pasti terjadi pencurian yang tidak diketahui, kapan pencuri itu beraksi. Mohon kepada manajemen RS Fatmawati untuk menempatkan petugas satpam di setiap lantai.


Tes Kesehatan Hasil Berbeda

Saya mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) Taiwan yang diberangkatkan salah satu perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) di Jakarta. Tanggal 14 Oktober 2002, saya menjalani tes kesehatan di RS Pondok Indah, Jakarta. Pada 15 Oktober, dinyatakan hasilnya sehat. Tanggal 30 Oktober 2002, saya berangkat ke Taiwan dan 31 Oktober tes kesehatan di Li Shin Hospital Taoyuan, Taiwan. Pada 6 November 2002, tes kesehatan dari Li Shin Hospital hasilnya tidak sehat. Pada hari itu juga, agency Taiwan memulangkan saya ke Indonesia dan mengantar sampai ke Bandara Taipei. Dalam perjalanan menuju bandara, dia melontarkan pertanyaan, "Apakah kamu 'nembak' tes kesehatan di Indonesia?" Seolah dia tidak percaya bahwa sebelum berangkat ke Taiwan, saya telah menjalani tes kesehatan di Indonesia.

Atas inisiatif sendiri, saya tes kesehatan ulang di RS Pondok Indah (7/11/2002). Dari RS Pondok Indah, (8/11), hasilnya sehat. Sungguh suatu hasil tes kesehatan yang sangat membingungkan buat saya sebagai orang yang awam dalam ilmu kedokteran. Mungkin karena saya terlalu berpegang pada kalimat FIT for employment, valid for three months yang tertulis di sertifikat tes kesehatan tertanggal 14 Oktober 2002, yang dikeluarkan oleh RS Pondok Indah, maka saya sangat sulit untuk menelan secara mentah-mentah kenyataan ini. Selalu saja saya bertanya kepada diri sendiri, "Saya ini sehat atau tidak sehat."

Saya telah menyampaikan surat pengaduan kepada Direktur RS Pondok Indah dan mohon kerja sama agar kasus ini ditindaklanjuti. Saya telah dirugikan baik secara materiil maupun imateriil. Namun, tanggapan dari Manager HCU RS Pondok Indah dr Irna Hardiawan pada intinya hanya sebatas, "Turut simpati atas kejadian ini, deviasi pemeriksaan 'tinja' terhadap telur cacing cukup besar, bila tidak ditemukan belum tentu tidak ada, dan bila ditemukan pasti positif."

Dari tanggapan ini dapat disimpulkan bahwa tes kesehatan di RS Pondok Indah, meskipun hasilnya sehat, bukan jaminan bisa lulus sensor kesehatan di Taiwan. Kejadian seperti ini benar-benar saya alami.


Pasien Menunggu Dokter Pulang

Saya mengajukan keberatan kepada pengelola Klinik Erra Medika, di Ruko Sukmajaya, Depok, atas ketidakberesan para staf dan suster yang bekerja. Tanggal 5 Maret sekitar pukul 19.50, saya bersama istri membawa anak (Tiara, 3,5 tahun) untuk konsultasi dengan dokter spesialis anak karena anak saya batuk dan suhu badannya panas. Sebelum berangkat, saya menelepon dahulu ke klinik itu untuk konfirmasi dan mendapat nomor urut 23. Sampai di klinik, saya daftar ulang ke bagian pendaftaran sambil menyampaikan nomor buku Medical Record (T.1078), yang langsung didata ke komputer.

Kami pun menunggu giliran di ruang tunggu pasien yang berukuran ruko (rumah toko), tanpa ke mana-mana. Setelah sabar menunggu sekitar dua jam lebih atau sampai dengan pukul 22.00 belum juga dipanggil, saya menanyakan lagi ke bagian pendaftaran dan suster karena melihat kondisi badan pasien semakin panas. Alangkah kecewa dan marahnya saya karena, ternyata, dokternya sudah pulang dari tadi, padahal saya sekeluarga menunggu hanya berjarak tiga meter dari ruang periksa dan tidak diberi informasi sama sekali. Saat itu klinik sudah mau tutup yang diikuti dengan pematian AC dan lampu apotek.

Akhirnya saya pergi dari klinik itu dengan perasaan kesal dan bingung mengingat pada pukul 22.00 lebih bukan hal mudah untuk mencari dokter spesialis anak yang masih buka praktik di tempat lain. Saya kecewa dengan pelayanan kesehatan dari Klinik Erra Medika yang dengan seenaknya menyepelekan keselamatan dan kesehatan anak saya yang masih balita. Saya ingin mengusik hati nurani pengelola klinik tersebut, apakah mau jika anak Anda yang sedang sakit diperlakukan seperti itu. Beginikah cara klinik tersebut menangani pasien yang sudah beberapa kali berobat di situ?


Obat Beda Kemasan

Saya ingin bertanya kepada pihak-pihak terkait dengan obat, antara lain Badan Pengawasan Obat dan Makanan, serta pabrik/produsen obat Dankos. Pertanyaan timbul karena setiap kali membeli obat di dua apotek yang berbeda di Parepare, Sulawesi Selatan, saya selalu menjumpai kemasan berbeda. Misalnya, ketika membeli CDR (Calcium D Redoxon) pada tahun 2003, terdapat kemasan yang berbeda. Yang satu tulisan agak tebal warnanya dan yang lain tidak terang.

Hal lain adalah tulisan expiry date di bagian bawahnya, ada yang masuk ke dalam dan ada yang sekadar tulisan seperti komputer. Kemudian ketika saya membeli Profillas, ternyata ada juga perbedaan kemasan. Yang satu tulisannya tebal dan yang lainnya tidak tebal, di samping batch number-nya berbeda jenis angkanya.

Pihak apotek yang ditanya menjawab tidak tahu dan hanya mengatakan bahwa obat tersebut asli. Untuk meyakinkan saya sebagai pembeli obat dan pengetahuan serta untuk keselamatan masyarakat luas, mohon diberikan informasi atas permasalahan tersebut.


 

Sumber Kliping: Kompas - Media Indonesia - Suara Pembaruan - Republika - Suara Karya - TEMPO interaktif - Gatra - Kompas Cyber Media - Bisnis Indonesia

Bahan Kliping: Forum Pemerhati Masalah Konsumen

 

 

1
Hosted by www.Geocities.ws