|
MICHEL
PLATINI
Sebagai pemain sepakbola, Michael Platini tidak pernah
mempersembahkan gelar Piala Dunia. Namun, kenyataan membuktikan
bahwa dia tidak pernah kehilangan pengakuan status sebagai
pemain legendaris dunia. Teknik mainnya luar biasa, membaca
permainan sangat brilian, dan pembuat "bencana" di
depan, yang menjadikannya sebagai pencetak gol terbesar
sepanjang waktu.
Dengan bakat luar biasa, kapten Les Bleus ini telah
mempertontonkan gaya permainan dengan intelijensi dan gaya
elegan. Kualitas permainan itulah yang menjadikan Platini
dikagumi dan dikenang seluruh pecandu bola.
Lahir di kota kecil Joeuf, Prancis Timur, Michael Platini
telah bermain dengan AS Nancy-Lorraine, AS Saint-Etienne, dan
Juventus. "Saya mengawali karier bersama klub terbesar di
daerah Lorraine, menginginkan bermain di klub lebih besar lagi
di Prancis, dan mengakhiri karier bersama klub terbesar di
dunia," kata Platini.
Ia mengenakan kaos bernomor punggung 10 pada penampilan
perdana di Piala Dunia 1978 ketika usianya memasuki 23 tahun.
Pengalaman itu membuktikan Platini telah menjadi penentu Prancis
yang tidak mampu lolos dari babak kualifikasi sejak Piala Dunia
1966.
Hasil undian sungguh tidak menguntungkan, Prancis bergabung
dengan dua tim favorit, Argentina dan Italia. Les Bleus
diharapkan melewati rintangan pertama dan Platini pun tidak
peduli dengan calon juara Argentina.
Platini mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia. Ketika
bergabung dengan Juventus pada musim berikutnya, siapa dapat
mengingat kembali momen mendebarkan antara Prancis dan Jerman
Barat Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol? Dalam partai klasik itu
Michael Platini mencetak gol melalui tendangan penalti dan
mempertontonkan bakat kepemimpinan di lapangan hijau.
Jerman, salah satu tim kutub dunia selain Brasil, tampaknya
dibuat kebingungan oleh sepak terjang Platini. Jerman semula
tidak menduga bahwa Prancis bakal bermain mengesankan. Prancis
semula bukanlah tim favorit. Bersama Platini, Prancis tiba-tiba
"berkokok" dan menghebohkan kalkulasi kekuatan tim-tim
favorit.
Platini mencapai puncak kekuatan pada tahun 1984 ketika
memimpin Prancis meraih penghargaan internasional pertama ketika
menjadi tuan rumah Piala Eropa. "Platoche", demikian
pendukung Prancis dalam mengelu-elukan kiprahnya, saat itu
mencetak rekor sembilan gol dalam lima pertandingan, termasuk
penampilan sempurna dengan hattrick atas Belgia dan Yugoslavia.
Kesuksesan di Piala Eropa mendatangkan banyak tawaran dari
klub-klub besar Eropa. Platini harus membuat keputusan tepat
ketika kariernya berada di puncak. Ia memilih klub raksasa Seri
A, Juventus. Keputusan Platini itu tampaknya menjadi langkah
besar persepakbolaan Prancis.
Terbukti, banyak pemain Prancis memperoleh peluang dan
kesempatan lebih besar untuk dilirik klub-klub besar Eropa.
Apalagi Platini memang tampil brilian dan menjadi pemain kunci
Juventus. Ia bukan hanya menjadi favorit pemain-pemain lokal,
tetapi pendukung domestik Juventus pun hampir tak mengenal lagi
batas kewarganegaraannya sebagai pemain asal Prancis.
Dengan mengenakan tim Hitam-Putih atau berjuluk The Old Lady,
Platini telah membukukan gelar-gelar terhormat, antara lain dua
gelar Liga Italia, satu gelar Piala Italia, satu Piala Winners,
Piala Super Eropa, Piala Liga Champions, dan sebuah gelar Piala
Intercontinental (Piala Dunia Antarklub). Platini juga tercatat
sebagai top skor Liga Italia Seri A dan mendapat anugerah Ballon
d'Or (Pemain Terbaik) setelah tiga musim. Benar-benar rekor.
"Jika Piala Dunia digelar setiap tahun antara 1982 dan
1986, Prancis dapat memenangkan dua atau tiga kali,"
demikian analisis Platini. Walaupun Prancis mempersiapkan diri
pada Piala Dunia 1986 dengan baik, Jerman Barat menunjukkan
dominasinya. Superioritas Jerman begitu hebat pada pertandingan
semifinal, tetapi kwartet Prancis-Michael Platini, Alain
Giresse, Jean Tigana, danLuis Fernandez-tetap menjadi
pembicaraan. Mereka adalah kwartet legendaris kelas dunia yang
tidak dimiliki tim manapun. Pendek kata, kwartet lini tengah
demikian hanya menjadi trade mark Les Bleus.
Tetapi, permainan cantik yang ia pertontonkan dengan teknik
brilian dan teknik kelas dunia itu segera dibayangi oleh cedera
engkel yang memaksa Platini dirawat beberapa bulan. Tragedi
Heysel juga menjadi pukulan psikologis bagi Platini, dan
mempengaruhi pandangan hidup terhadap sepakbola. Gol tunggal
melalui tendangan penalti mengantarkan Juventus unggul atas
Liverpool, sekaligus memboyong Piala Liga Champions. Tetapi,
"Malam itu tidak dapat melakukan apa-apa dengan sepakbola.
Mereka membawa piala kami dalam ruangan ganti," kata
Platini.
Sejak gantung sepatu pada 1987, Platini diplot sebagai
manajer tim nasional Prancis. Ia cepat memadukan pemain-pemain
berbakat seperti Didier Deschamps meraih caps pertama bersama
tim nasional. Deschamps dipadukan dengan dua penyerang Eric
Cantona dan Jean Pierre Papin. Generasi baru ini menjadi andalan
Prancis sepanjang tahun 1989 hingga 1992. Mereka memenangkan
seluruh pertandingan kualifikasi Piala Eropa. Tetapi ketika Les
Bleus tersungkur pada putaran final di Swedia pada Februari
1992, Platini mengundurkan diri.
Ketika Prancis ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1998,
Platini kembali menjawab panggilan negara. Ia begitu cakap
mengendalikan tugas sebagai wakil presiden French Organizing
Cimmittee bersama tokoh sentral lainnya, Fernand Sastre. Ia juga
menjadi pendukung Joseph S. Blatter selama kampanye pemilihan
presiden FIFA.
mahmudiono lamin/fwc
|