JOHAN
CRUYFF
Jika Belanda ditasbihkan dengan total football, maka Johan
Cruyff adalah total footballer-nya. Cruyff adalah salah satu
pemain legendaris dan menjadi nyawa Ajax Amsterdam pada dekade
1960-an yang mendominasi persepakbolaan Eropa dan dunia hingga
dekade 1970-an.
Cruyff adalah pemain terbaik dari sepanjang generasi Ajax dan
namanya telah disejajarkan dengan pemain legendaris dunia
lainnya, Pele. Ia pertama kali mencetak hattrick di Piala Liga
Champions ketika memperkuat Ajax. Juga tampil di Piala Dunia
Antarklub dan tiga kali meraih gelar Pemain Terbaik Eropa. Pada
puncak kariernya, Cruyff dipercaya menjadi kapten tim Belanda.
Pecandu bola dunia terpesona dan para pengamat mencatat sepak
terjang Cruyff yang bersama rekan-rekan satu tim nasional
Belanda tampil menngegerkan dengan keterpaduan dalam irama
permainan, kekuatan, dan dominasi atas lawan-lawan mereka.
Sayangnya, tim hebat di bawah komando Cruyff ini tidak pernah
memenangkan gelar tertinggi.
Total football bukanlah ide baru ketika Belanda
memperagakannya di kancah Eropa. Namun, dunia tersentak dan
membuat berbagai analisis ketika sistem permainan itu muncul
pertama kali pada dekade 1970-an. Namun, publik Belanda sendiri
tak perlu merasa heran, karena sistem serupa telah menjadi
tradisi bagi Ajax, klub tempat Cruyff mengembangkan talenta.
Prinsip permainan total football adalah sebuah tim membangun
permainan dengan masing-masing pemain tidak terpaku pada posisi
masing-masing. Dengan kekuatan fisik prima dan kesetaraan dalam
kemampuan teknik, bertahan dan menyerang adalah tugas pokok
semua pemain, di manapun dan kapanpun.
Artinya, semua pemain berkewajiban mengisi seluruh lapangan,
sama-sama berambisi membuat gol dalam setiap pertandingan dengan
keteraturan perputaran secara sempurna. Semua pemain dapat
melakukan segalanya. Pemain bertahan muncul di barisan depan
(penyerang), pemain depan pun dituntut bertahan.
Cruyff sendiri bermain sebagai centre forward dalam sistem
permainan total football ini. Tetapi begitu lincahnya Cruyff,
sehingga ia kelihatan bermain leluasa dari sektor sayap, jauh
menjemput bola, dan penentu irama permainan.
Ia satu-satunya pemain dengan peran demikian. Cruyff paling
senang melakukan tipuan atau trik dari sayap kiri, menggiring
bola dengan lengket melalui kaki kanan, dan siap mengelabuhi
barisan defender dengan gerakan membalik badan. Selama ini tak
seorang pun centre forward dapat melakukan seperti dia.
Cruyff dilahirkan di Amsterdam pada tahun 1947. Ibunya
seorang petugas kebersihan di Ajax dan kondisi itu mendekatkan
hubungan dengan sang pelatih. Paling tidak, sang ibu berperan
dalam memasukkan Cruyff muda dalam sekolah sepakbola dan
berkembang pesat sejak usia 12 tahun.
Pelatih Inggris Vic Buckingham telah memberikan rekomendasi
kepada Ajax untuk mengajukan kontrak dan Cruyff membuat debut
penampilan senior ketika ia memasuki usia 17 tahun. Sebagaimana
diduga, ia menjadi pencetak gol brilian. Dua tahun kemudian,
Cruyff telah mengenakan kaos tim nasional Belanda, merebut bola
pada menit terakhir untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2 atas
Hongaria.
Superior
Persepakbolaan Belanda cenderung berciri tradisional dengan
dasar pembinaan lebih kuat sejak amatir. Tetapi, pada
pertengahan dekade 1960, gaya pembinaan itu berangsur-angsur
berubah dengan mengarah ke profesional. Rinus Michels menjadi
pemicu semangat perubahan persepakbolaan Belanda itu ketika
menjadi manajer Ajax tahun 1964. Michels membawa Ajax meraih
dominasi sebagai kesebelasan terbaik Eropa selama tujuh tahun.
Bayangkan, tim sekelas Liverpool pun "ditelan" Ajax
1-5. Cruyff mencetak sebuah hattrick pada kompetisi Liga Belanda
dan membawa Ajax ke final Piala Liga Champions. Mereka kalah 1-4
dari AC Milan, klub raksasa Italia, tetapi telah meraih
pengakuan sebagai tim besar dari Belanda yang mengobrak-abrik
peta kekuatan klub dunia.
Di mana keistimewaan Cruyff? Dia adalah pemain bertanaga dan
penjelajah lapangan nomor satu. Ia mampu mengakomodasikan
keseimbangan secara luar biasa, kecepatan mematikan, dan kontrol
bola tak tertandingi. Tetapi keistimewan Cruyff sebenarnya
adalah kualitas visi permainan, pengendali ideal bagi rekan satu
tim, dan inspirator serangan sejati.
Penulis olahraga David Miller percaya bahwa kekuatan Cruyff
sungguh superior dan sebelumnya belum pernah ada pemain dengan
kharakter permainan seperti itu. Ia memberi julukan Cruyff
dengan Pythagorus dalam Sepatu untuk menggambarkan kompelsitas
Cruyff dalam presisi pengambilan sudut umpan bola. Miller juga
menulis.
Rekan satu tim di Ajax, Pie Keizer, Wim Suurbier, dan Barry
Hulshoff, percaya bahwa Ajax mampu menembus empat kali final
Piala Liga Champions berkat kejeniusan khas Cruyff. Tetapi,
Cruyff tidak pernah merasa sebagai bintang di antara
bintang-bintang lainnya.
Ajax membuka jalan final kedua di Liga Champions pada tahun
1971. Saat itu lawan mereka adalah juara Yunani, Olympiakos.
Dengan isnpirator Cruyff, Ajax menang 2-0 dan Flying
Dutchman-julukan Cruyff-menjadi pemain pertama Belanda yang
terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa.
Itulah sukses pertama bagi Cruyff bersama Ajax di kancah
kompetisi Eropa. Sepak terjang Cruyff kemudian mempesona
Internazionale dan Juventus yang merasa terancam kekuatan.
Soccer: The Ultimate Encyclopaedia menulis, "Pengendali
tunggal, Cruyff tak hanya menjadi fokus perhatian
Internazionale, tetapi mencetak dua gol kemenangan Ajax. Pada
final berikutnya di Belgrade, ia kembali menjadi inspirator
terbesar dari tekanan gencar selama 20 menit dan Ajax mencetak
kemenangan 1-0 atas Juventus."
Sepanjang musim kompetisi 1971-1972 itu Cruyff menjadi top
skor kompetisi Liga Champions Eropa dengan lima gol dan ia juga
mencatatkan dirinya sebagai "pembunuh gawang nomor
satu" dengan 25 gol di Liga Belanda.
Ajax memadukan Cruyff, Johan Neeskens dan Rudi Krol dalam
jagad pemain paling berbakat untuk merenggut mahkota Piala Dunia
Antarklub dengan mengalahkan wakil Amerika Latin, Independiente,
4-1. Gelar itu masih dilengkapi dengan Piala Super Eropa dengan
menang rata-rata 6-3 atas Glasgow Rangers.
Cruyff terpilih lagi sebagai Pemain Terbaik Eropa untuk kedua
kalinya pada tahun 1973, tetapi ia pindah dari Ajax pada akhir
musim. Kali ini Cruyff mengikuti jejak Rinus Michels ke
Barcelona. Transfer Cruyff sebesar 922.300 poundsterling
merupakan rekor dunia saat itu. Usai penandatanganan kontrak,
rekan satu timnya, Johan Neeskens, pun ikut bergabung ke Barca.
Kompetisi Liga Spanyol berputar tepat saat Cruyff tiba di
Barcelona dan Barca berjuang dari papan bawah klasemen. Pengaruh
Cruyff sungguh luar biasa. Merek amengakhiri kompetisi sebagai
juara, termasuk kemenangan 5-0 atas Real Madrid. Kemenangan 5-0
atas musuh bebuyutannya itu disebut-sebut sebagai penghinaan.
Rivalitas Beckenbauer
Belanda dengan inspirator Johan Cruyff pada Piala Dunia 1974
di Jerman Barat diprediksi sebagai salah satu favorit. Ini
merupakan penampilan pertama Belanda di putaran final Piala
Dunia sejak Piala Dunia 1938. Dengan berbekal kemenangan 4-1
atas Argentina pada pertandingan pemanasan, banyak pengamat
memperhitungkan tahun ini bakal menjadi tahun keemasan Belanda.
Lawan pertama Belanda adalah Uruguay yang berusaha
mati-matian menyingkirkan Cruyff dari lapangan. Mereka membuat
kesalahan. Bintang muda itu terlalu sulit dihentikan dan bahkan
memimpin permainan Belanda dengan penuh harmoni. Uruguay pun
takluk 0-2.
Sungguh mengejutkan, superioritas Belanda tertahan 0-0 oleh
Swedia, tetapi Bulgaria mereka kalahkan 0-4. Hasil-hasil putaran
pertrama tampaknya memberi inspirasi Belanda pada putaran kedua.
Mereka membuat Argentina frustrasi dengan kemenangan 4-0. Cruyff
membukukan dua gol. Jerman Timur pun tanpa kesulitan dikalahkan
0-2.
Sejauh ini Belanda telah membukukan 12 gol hanya dalam lima
pertandingan. Mereka seperti hanya memetik gemerlap bintang.
Dengan dominasi seperti itu, siapa sanggup menghentikannya?
Belanda kemudian bertemu dengan salah satu kutub sepakbola
dunia, Brasil, dengan reputasi sebagai juara bertahan yang telah
memboyong Jtrofi ules Rime hingga tiga kali. Perhatian seluruh
khalayak pun tersedot. Mereka ingin menjadi saksi, bagaimanakah
pergulatan antara dua kekuatan terbesar dengan kharakter
permainan berbeda? Pendukung pun terbelah; sebagian menjagokan
Brasil dengan trade mark samba-nya, sementara pengagum total
football siap-siap berdiri di belakang Cruyff dkk.
Brian Glanville menulis dalam bukunya, The Story of the World
Cup, "Pemain-pemain bertahan Brasil berusaha membuat
perhitungan pada kesempatan pertama. Mereka membuat pernyataan
yang memprovokasi pemain Belanda…. Johan Neeskens terjatuh
pada babak pertama karena dilanggar Mario Marinho. Pada babak
kedua, ia benar-benar terdepak oleh Luis Pereira."
Cruyff rupanya masih mengendalikan permainan. Sebuah umpan
silang antara dia dan Neeskens segera menjadi ancaman Brasil.
Cruyff menyambut umpan itu dengan tendangan first time untuk
membawa Belanda ke final dengan kemenangan 2-0.
Lawan mereka adalah Jerman Barat. Duel ini digelar di Stadion
Olimpiade Munich. Permainan ini bakal mempertaruhkan permainan
khas Belanda dengan kalkulasi serangan Jerman. Belanda adalah
Johan Cruyff dan Jerman adalah Franz Beckenbauer. Jadi, publik
dunia memberi titel final Piala Dunia 1974 ini sebagai duel
antara Cruyff dan Beckenbauer.
Berti Vogts, yang dikemudian hari menjadi manajer Jerman,
rupanya dipersiapkan sebagai pengawal Cruyff ke manapun pemain
brilian itu bergerak. Pada awal pertandingan, Belanda seperti
bakal kalah dengan mudah. Dengan membuat umpan secara berurutan
hingga 15 kali, Cruyff ingin mengacaukan perhatian Vogts.
Ia berpacu memasuki kotak penalti dan Hoeness menerjangnya
hingga jatuh. Penalti, Belanda memimpuin 1-0. Celaka benar,
Jerman tampaknya tidak punya kesempatan menyentuh bola. Itulah
detik-detik awal pertandingan paling menarik sepanjang Piala
Dunia; Belanda membuka peluang dan akhirnya mencetak gol tanpa
pemain Jerman sempat menyentuh si kulit bundar.
Selama setengah jam, Belanda tampak masih menguasai
permainan, Tetapi, ketika Berti Vogts mulai mematikan Cruyff,
Jerman mampu mencetak dua gol. Gol pertama dari sebuah tendangan
penalti dan gol kemenangan disumbangkan oleh Gerd Muller.
Kekecewaan tim Belanda sungguh meluap-luap, karena merasa
pasti mampu memenangkan gelar. Kegagalan itu merupakan kekalahan
kedua Belanda dari 24 pertandingan selama tiga tahun.
Itulah kesempatan pertama Cruyff tampil di final Piala Dunia.
Ia melengkapi gelar Pemain Terbaik Eropa menjadi tiga kali,
tetapi ia tidak mampu berbuat banyak pada Piala Dunia 1978 di
Argentina ketika Belanda juga hadir di sana.
Bersama Belanda, Cruyff mencetak caps internasional 48
pertandingan dengan rekor 33 gol. Sambil konsentrasi dengan
bisnis, Cruyff berubah pikiran pada tahun 1979 dan bergabung
dengan Los Angeles Aztecs di Liga Sepakbola Amerika Utara. Satu
kejutan lagi, ia mampu mencatatkan namanya sebagai pemain
terbaik pada musim itu.
Berikutnya berhenti dari Washington Diplomats dan mulai 1981
bermain untuk klub Levante, sebuah klub kecil di Spanyol.
Terakhir, ia kembali bergabung dengan Ajax. Dari Ajax pindah
lagi ke Feyenoord. Klub yang bermarkas di kota Rotterdam ini
merupakan tim kuat Belanda dan pesaing Ajax.
Feyenoord kembali masuk divisi satu Liga Belanda dan
memenangkan gelar Liga Champions serta Piala Dunia Antarklub.
Tetapi mereka tidak mampu memenangkan satu buah gelar pun dalam
10 tahun dan tetap menjadi bayangan Ajax. Bersama Cruyff,
Feyenoord mampu mengawinkan gelar kompetisi Liga Belanda dan
Piala Belanda pada tahun 1984.
Cruyff lagi-lagi pulang ke Ajax dan saat ini menjadi pelatih.
Satu hal unik, karena Cruyff tidak mempunyai dokumen-dokumen
kepelatihan dengan kualifikasi Eropa. Ia telah mencetak 215 gol
di Liga Belanda, tetapi tidak punya satu buah pun sertifikat
kepelatihan.
Bukan masalah, dengan menjadi direksi Ajax, Cruyff mampu
membawa klub itu merebut juara Piala Winners tahun 1987 dengan
mengalahkan Lokomotiv Leipzig 1-0.
Menyusul penunjukan Terry Venables sebagai manajer tim
nasional, Cruyff menggantikan posisinya. Di bawah kendali
Cruyff, Barcelona mengalahkan Sampdoria 2-0 untuk memboyong
Piala Winners tahun 1989. Bertemu lagi dengan lawan yang sama
pada final tahun 1992. Barca lagi-lagi unggul dan Cruyff
dinobatkan sebagai King of Catalonia.
Cruyff memberikan gelar Piala Super Eropa dalam koleksi
kemenangan Barcelona menyusul kemenangan rata-rata 3-2 atas
Werder Bremen pada tahun 1992 dan memenangkan gelar Liga Spanyol
tahun 1994.
mahmudiono lamin/fwc
|