PELE
"Saya dilahirkan untuk sepakbola, seperti juga
Beethoven dilahirkan untuk musik." Sombong, pengumbar
kata-kata. Kesan itu muncul jika kita bicara dengan Edson
Arantes do Nascimento, pemain legendaris dunia asal Brasil
yang populer dipanggil Pele.
Pele telah bermain dalam empat Piala Dunia dan mencetak gol
brilian sebanyak 1.283, 12 gol di antaranya diciptakan pada
putaran final Piala Dunia. Ia seorang pemain jenius Brasil
yang mempersembahkan gelar terbesar pada Piala Dunia 1958,
1962, dan 1970.
Pele adalah seorang samba: teknik atau skill-nya sungguh
indah, diiringi kecepatan luar biasa, dan kontrol bola amat
akurat. Pendek kata, di antara semua pemain legendaris berkaos
kuning hijau-seragam kebesaran Brasil-Pele adalah pemain
paling hebat.
Dia amat lentur, cerdas, kuat, dan terlihat begitu mudah
dalam membuat umpan hingga mencetak gol-gol akrobatik.
Tendangannya bak dewa maut yang membuat barisan pertahanan
lawan terkelabui. Celakanya, Pele makin ditekan justru
menunjukkan kelasnya dengan meliuk-liuk penuh harmoni dan
magis bak simponi Beethoven.
Dan pemain-pemain Brasil memang dikenal sangat berani, tak
kenal lelah dalam mengejar keunggulan. Siapa dapat melupakan
dukungan bergemuruh yang ditingkahi kegembiraan suporter
Brasil dengan tarian sambanya? "Brasil, cha… cha…
cha, Brasil… cha… cha… cha…."
Hal itu terjadi pada Piala Dunia 1962 di Cili ketika
nyanyian magis itu terdengar pertama kali pada siaran televisi
di Eropa dan penggemar Inggris segera menirunya. Namanya
dielu-elukan, diikuti oleh ledakan tepuk tangan bergemuruh.
Dalam tiga dekade, nyanyian seperti itu terus bergema. Pele
memang ruhnya Brasil.
Pele dilahirkan di daerah pertanian miskin, Tres Coracoes,
tahun 1940. Ayahnya bernama Dondhino, juga seorang pemain
sepakbola, tetapi tidak terkenal.
Kehidupan pribadi Pele sehari-hari tak pernah lepas dari
bola. Tetapi sang ibu rupanya cukup cerewet. Dondhino
mengharapkan Pele kecil mencari sedikit uang dan bukan
membuang-buang waktu untuk bermain sepakbola. Sang ibu
menginginkan sesuatu lebih besar berguna lagi. Tetapi Pele
tetap keras kepala dengan jalan hidup yang ia tempuh dan
menolak nasihat sang ibu.
Keahlian Pele tampaknya lahir lebih cepat dibandingkan
Brito, seorang mantan pemain internasional Brasil yang melatih
Pele sejak pemula. Ketika berumur 14 tahun ia bergabung dengan
klub Bauru Athletic junior di Sao Paulo pada tahun 1954. Pada
usia 16 tahun, kariernya terancam karena cedera lutut dan
pindah ke klub Santos sampai tahun 1974.
Bersama Pele, Santos menjadi klub legendaris, keliling
Eropa dan meladeni banyak pertandingan persahabatan. Satu di
antaranya ke Inggris untuk mempertontonkan kemampuannya
melawan Shefield Wednesday. Sampai tahun 1972, Pele melawat ke
Inggris lagi bersama tim beratribut putih-putih untuk tampil
dalam setengah main pada sebuah kunjungan persahabatan ke
Hillsborough.
Jenius
Pentas Piala Dunia 1958 di Swedia merupakan even yang
membesarkan nama Pele sebagai pemain jenius. Ia baru berusia
17 tahun dan telah memenangkan caps internasional pertama. Ia
tiba di Swedia dalam kondisi cedera. Kendati demikian Pele
masih bisa tampil ketika Brasil lolos ke putaran ketiga
melawan Soviet di Gothenburg.
Brasil menang 2-0, Pele mendapatkan kembali posisinya,
berperan dalam melahirkan gol kedua Vava. Terpenting, pengamat
bola sedunia mengakui lahirnya seorang bintang baru.
Brasil bertemu Wales pada perempat final. Pele dkk. hanya
menang 1-0. Satu gol dicetak Pele setelah tendangannya gagal
diblok Stuart Williams. Itulah gol pertama Pele di Piala Dunia
dan ia mencetak enam gol dalam tiga babak hingga final.
Sebuah hattrick ia ciptakan ke gawang Prancis pada
semifinal dan berlanjut dengan dua gol lagi dalam final
melawan Swedia. Satu dari gol-gol Pele itu dilukiskan oleh
pengamat sepakbola kenamaan Brian Glanville dalam bukunya The
Story of the World Cup sebagai perjuangan yang mendebarkan.
"Ia mengontrol bola yang melayang tipis di daerah
penalti dengan pahanya," tulis Glanville, "Dia
sempat melakukan jugling sebelum bola jatuh tepat di atas
kepala, disempurnakan menjadi gol melalui tendangan first
time."
Pele menuntaskan tugas mulia dengan menumbangkan Swedia 5-2
di hadapan pendukung tuan rumah. Brasil memenangkan Piala
Dunia pertama kalinya berkat keajaiban seorang anak usia
belasan tahun memasuki kemasyhuran internasional. Tim Brasil
1962 sebagai raksasa bola tak perlu dipersoalkan lagi dan Pele
telah mendapatkan gelar pemain terbaik dunia.
Pada Piala Dunia di Cili, Brasil bertanding pada hari
pembukaan melawan Meksiko. Brasil menang 2-0 dan Pele mencetak
sebuah gol brilian setelah membuat kucar-kacir empat pemain
belakang, sebelum mengelabui kiper dengan trik mematikan.
Pada pertandingan berikutnya, tim Samba bermain imbang
tanpa gol atas Cekoslowakia. Melawan tim yang sama di final,
Brasil menang 3-1. Tetapi Piala Dunia 1962 merupakan
pengalaman buruk bagi Pele, Piala Dunia 1966 jauh lebih buruk
lagi.
Tidak demikian dengan Inggris yang memasuki tahun keemasan
setelah melihat Brasil gugur pada putaran pertama Piala Dunia
dalam 12 tahun terakhir. Brasil hanya bermain tiga kali pada
Piala Dunia 1966, semuanya di Goodison Park, Everton. Rasanya
tak masuk akal, karena mengawali pertandingan dengan
kemenangan 2-0 atas Bulgaria, dan Pele pun mencetak gol dari
sebuah tendangan bebas. Tetapi pada pertandingan kedua Brasil
bermain tanpa Pele yang cedera, mereka digilas tim
Magyars-julukan Hongaria-dengan angka telak 1-3.
Pele kembali terjepit ketika duel dengan Portugal, apalagi
ia diketahui fit. Brasil membuat tujuh perubahan sejak
terpukul karena dikalahkan Hongaria,tetapi perubahan itu tidak
begitu penting bagi Portugal.
Morais, pemain Portugal, terus memperolok Pele sambil
memperagakan permainan brutal. Pele tak pernah janji untuk
muncul dalam Piala Dunia lainnya, tetapi pada Piala Dunia
tahun 1970 berubah pikiran. Kejuaraan saat itu berlangsung
dalam suasana kemeriahan Meksiko dan tim Brasil kini mungkin
merupakan tim terhebat yang pernah ada.
Pele, remaja di sisi Zito dan Garrincha, kini makin dewasa
dengan memperagakan aksi-aksi terukur bersama Amarildo dan
Didi, pemain veteran berusia 29 tahun, dengan barisan pemain
berkharakter menyerang Rivelino, Tostao, dan pemain tanpa
banding Jairzinho.
Partai Klasik
Dan dalam duel di Gualadajara pun menunggu duel klasik
melawan juara bertahan Piala Dunia, Inggris. Brasil membuka
pertandingan melawan Cekoslowakia dengan keunggulan 4-1.
Kini giliran Inggris. Dan apa yang terjadi dalam
pertandingan? Tim Inggris melejit sebagai juara Piala Dunia
1966 berkat teknik permainan superior. Allan Mullery melakukan
marking ketat dan melakukan pekerjaan mengerikan atas
Pele.Tetapi bagaimana Mullery melakukannya secara jenius?
Hanya dalam sepuluh menit, Pele mengoyak barisan defender dari
jarak jauh dan diakhiri dengan sundulan ganas Jairzinho.
Gordon Bank mengangkat sebuah tangannya dan menyentak bola.
Sebuah penyelamatan gemilang abad ini? Mungkin. Pele hanya
dapat berdiri dan memandang dengan takjub, selanjutnya
beberapa juta pemirsa televisi dunia bertanya-tanya, seolah
penyelamatan Bank tak masuk akal.
Pertandingan inipun ditasbihkan sebagai "real
final", sebuah partai klasik. Inggris mempertahankan
permainan brilian. Alan Ball sukses melakukan cegatan, tetapi
sebuah gol Jairzinho cukup memberikan kemenangan bagi Brasil.
"Episode" apakah yang terjadi pada detik
berikutnya? Pele bak menari-menari di antara pemain Inggris.
Sementara kapten Inggris Bobby Moore tak membiarkan gemerlap
samba menenggelamkan permainannya. Mereka saling mengejar dan
mengelabui.
Dua gol Pele mengantarkan Brasil pada pertandingan terakhir
grup mengantarkan kemenangan 3-2 atas Rumania. Sebelumnya
menaklukkan Peru 4-2 dan Uruguay 3-1. Dan Brasil melawan
Italia, sesama tim yang menang dua kali di Piala Dunia.
Artinya, kedua tim sama-sama menginginkan trofi Jules Rimet
secara tetap jika meraih gelar tiga kali.
Pele, dalam kesempatan tampil di Piala Dunia terakhir,
mencetak gol spektakuler dengan sundulan dan membuat dua gol
lainnya bagi Brasil, mempertontonkan permainan luar biasa guna
menghentikan Italia 4-1.
Brasil pun tercatat sebagai negara pertama yang mencetak
hattrick di Piala Dunia. Pele segera berhenti dari
persepakbolaan internasional, tetapi melanjutkan karier
bersama Santos selama empat tahun. Ketika menggantung sepatu
ketika berusia 34 tahun, Santos membuat penghormatan dengan
mencopot nomor punggung 10 dari line-up.
Di luar dugaan, Pele pada tahun 1975 membuat kejutan dengan
kembali bermain untuk New Yorke Cosmos, AS. Pele benar-benar
menutup supremasi karier persepakbolaannya pada tahun 1977.
Siapa sangka Pele kemudian menjadi menteri olahraga Brasil?
mahmudiono lamin/fwc
|