|
JAIRZINHO
Jairzinho ibarat setitik air dalam lautan bakat pemain
sepakbola Brasil. Jika dikomparasikan dengan bintang-bintang
legendaris dunia, Jairzinho adalah lautan bintang yang membuat
Brasil bersinar sebagai kutub sepakbola dunia.
Ia adalah salah satu kreator sukses Brasil. Bersama pemain
berbakat besar lainnya, Garrincha, mereka adalah perpaduan
pemangsa di kotak penalti sepanjang Piala Dunia 1970. Jairzinho
maupun Garrincha adalah sepasang perusak ganas yang menakutkan
penjaga gawang. Mematikan satu di antaranya adalah sia-sia.
Sementara memandulkan kedua penyerang itu sekaligus hanya akan
membuang-buang energi.
Mengapa? Jairzinho mempunyai tendangan geledek dan kecepatan
akselerasi. Dengan atau tanpa bola, Jairzinho membawa
keberuntungan bagi pemain lain untuk mendapatkan ruang gerak.
Jairzinho lahir dengan nama Jair Ventura Filho pada tahun
1944. Ia mengasah karier sepakbola sebagai pemain sayap kiri dan
menjadi ujung tombak jika memperkuat klub Botafogo. Posisi main
tampaknya tidak menjadi penghalang bakat besar Jairzinho. Jika
Garrincha cedera, ia bisa bermain baik di sayap kanan.
Jairzinho membuat debut internasional melawan Portugal pada
tahun 1964. Dua tahun kemudian, ia masuk pasukan Samba yang
tampil pada putaran final Piala dunia 1996 di Inggris.
Bersama Garrincha yang telah pulih, Jairzinho pindah posisi
ke kanan, namun taktik ini tampaknya tidak efektiv. Brasil tidak
mampu berbuat banyak. Pada Piala Dunia berikutnya, Jairzinho
bermain cenderung agak ke bawah dan mendapatkan lebih banyak
ruang untuk menjadi inspirator serangan, sekaligus mencetak gol
demi gol, termasuk gol pamungkas di final.
Ketujuh gol dilesakkan Jairzinho sepanjang Piala Dunia 1970.
Kemenangan atas Inggris adalah satu momentum mengesankan. Dengan
membawa gelar juara dunia bagi Brasil, ia tampaknya jauh lebih
siap tampil pada Piala Dunia 1974. Tetapi tanpa dukungan pemain
sekelas Pele, Jairzinho menilai penampilannya tak akan efektiv.
Ia sempat bermain untuk Olympique Marseille, sebelum kembali ke
Rio. Jairzinho membuat caps internasional ke-80 ketika usianya
telah 38 tahun.
mahmudiono lamin/fwc
|