Page 29 - al kasyfu wa tabyin
P. 29
28 al kasyfu wa tabyin
Saat ia berbuat kemungkaran dan ada orang lain yang mengingkarinya, ia akan marah
seraya berkata, “Saya berniat karena Allah, bagaimana mungkin kalian mengingkariku?”.
Terkadang orang-orang menghadiri majelis atau masjidnya, apabila ada yang datang
terlambat maka ia akan memarahi dan memaki. Tak lain tujuannya adalah pamer,
mencari reputasi dan menyukai jabatan. Hal ini ditandai dengan orang lain selain dirinya
berdiri, maka ia akan menegur Orang tersebut.
Bahkan sebagian dari mereka menjadi muadzin dan menyangka adzannya karena Allah.
Andai ada orang lain yang adzan selain dirinya, maka ia akan marah dan berkata,
“Kenapa kamu mengambil hakku? Apa kamu ingin menyaingiku?”.
Sebagian lagi menjabat sebagai imam masjid, ia mengira telah berada di jalan yang
benar. Tujuan sebenarnya tak lain agar ia diakui sebagai imam masjid. Sedangkan
tandanya yaitu jika ada orang lain yang ditunjuk sebagai imam meskipun orang tersebut
lebih wara’ dan lebih alim darinya, maka ia merasa keberatan.
7. Golongan Ketujuh.
Orang yang tinggal di daerah dekat dengan Mekkah dan Madinah, mereka tertipu dengan
keduanya karena mereka tidak dapat mengontrol hati serta tidak mau membersihkan diri
dan hatinya. Barangkali hati mereka masih terpaut dengan negaranya sehingga mereka
mudah berkata, “Saya pernah tinggal di Mekkah selama sekian tahun”.
Mereka semua telah tertipu, karena pernyataan yang benar adalah di manapun mereka
tinggal, hatinya tetap terpaut dengan Mekkah. Jika mempunyai tetangga hendaknya
mereka menjaga hak-hak dalam bertetangga.
Jika bertetangga dengan Mekkah hendaknya menjaga hak-hak Allah, dan jika
bertetangga dengan Madinah hendaknya menjaga hak-hak Nabi SAW. Lalu siapa
sebenarnya Orang yang mampu melakukan hal tersebut?

