Page 24 - al kasyfu wa tabyin
P. 24
23 al kasyfu wa tabyin
Adapaun menghafalkan hadis itu ada dua cara; pertama, melalui hati. Kemudian
konsisten dan mengulang-ulang dan mengingat-ingatnya.
Kedua, menulis apa yang telah didengar, mengecek ulang kebenaran redaksi yang telah
ditulis kemudian menghafalkan, agar tidak ada seseorang yang mengubah redaksinya.
Kitab yang telah ditulis hendaknya diletakkan dj lemari agar terjaga dari tangan-tangan
jail manusia yang ingin mengubah isinya.
Dilarang menulis hadis yang didengar dari ucapan anak kecil, orang yang mudah lupa
dan orang yang sering tidur. Meskipun sebenarnya tidak ada larangan menulis dari apa
yang didengar dari anak kecil di tempat tidur.
Karena mendengar itu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, tidak boleh asal-asalan.
Sedangkan maksud utama dari hadis ialah mengamalkan dan memahaminya. Karena
dalam suatu hadis itu terdapat banyak sekali penjelasan sebagaimana al-qur’an.
Diriwayatkan dari sebagian masyayikh bahwa dia hadir dalam suatu majelis untuk
mendengarkan, disitulah ia pertama kali mendengar hadis Nabi SAW, “Termasuk
sebagian dari kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak ada
guna baginya”.
Lalu masyayikh tersebut berdiri dan berkata, “Cukuplah bagiku satu hadis ini, saya akan
memahaminya terlebih dahuly sebelum saya mendengarkan hadis yang lainnya”. Ini
merupakan cara mendengarkan suatu hadis yang baik.
Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang yang menggunakan akalnya. Masyayikh
yang dimaksud adalah Abu Said ibn Abi al-Khair al-Manhi yang menghadiri majelis Ibnu
Ahmad as-Sarkhasi.
11. Golongan Kesebelas.

