Page 23 - al kasyfu wa tabyin
P. 23
22 al kasyfu wa tabyin
Fulan, aku bertemu langsung dengannya. Aku_ telah mendapatkan sanad yang tidak
didapatkan oleh orang lain”.
Mereka ini tertipu dari beberapa sisi. Salah satunya yaitu Ibarat orang yang membawa
kitab yang tebal, mereka hanya bisa menukil saja tanpa memahami bahkan tidak
menghayati makna-maknanya.
Dengan hal ini mereka menganggap bahwa hal itu sudah cukup baginya, padahal tidak.
Karena yang dimaksud dengan memahami suatu hadis adalah dengan memahami pula
makna-maknanya. Urutan belajar hadis adalah mendengarkan, memahami,
menghafalkan, mengamalkan kemudian menyebarkannya.
Mereka memperingkasnya dengan hanya mendengarkan saja tanpa mengamalkan
sedangkan jika demikian maka tidak ada gunanya ia belajar hadis. Apalagi di zaman
sekarang, hadis yang dibacakan kepada anak yang kecil masih dianggap belum tuntas,
ia dianggap masih mudah lupa karena kemampuan menghafalnya belum bisa maksimal
layaknya orang dewasa.
Begitu pula guru yang membacakan hadis tersebut barangkali juga lupa redaksinya
akibat usianya yang sudah mulai renta sehingga bisa jadi salah menerangkan dan hal itu
tidak disadari. Terkadang saat ia bangun tidur kemudian meriwayatkan hadis yang dia
tidak mengetahui asal-usulnya, Semua ini adalah ketertipuan yang nyata.
Awal mula hadis ialah mendengarkan langsung dari Nabi SAW atau melalui para
sahabat, atau melalui para tabi’in (semoga Allah meridhai mereka semua). Mereka
mendengarkan hadis dari para sahabat sama halnya dengan para sahabat yang
mendengarkan langsung dari Nabi SAW.
Mereka mendengarkan kemudian menghafalkan, lalu meriwayatkannya sesuai dengan
yang ia hafalkan sehingga tidak ada keraguan sedikitpun. Dan apabila ada suatu
keraguan, maka ia tidak boleh meriwayatkannya.

