Page 18 - al kasyfu wa tabyin
P. 18
17 al kasyfu wa tabyin
Lalu bagaimana cara mengetahui Allah? Ada tiga cara; mengetahui dzat, sifat dan
perbuatan-Nya. Perumpamaannya adalah orang yang merasa cukup bekal untuk
perjalanan haji. Dan mereka belum tahu bahwa ilmu fikih adalah ilmu yang memahami
tentang ibadah kepada Allah, termasuk haji. Sedangkan mengetahui sifat-Nya yang
menakutkan dan mengancam adalah tidak lain agar hati senantiasa takut supaya dapat
melanggengkan ketakwaan.
Sesuai dalam firman-Nya, “Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka
tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka?
Orang-orang ini merasa cukup hanya dengan memahami ilmu fikih yang menjelaskan
tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama hanya agar mahir berdebat,
mempertahankan argumen dengan tujuan agar lawannya tidak berkutik. Mereka menolak
kebenaran (yang lain) karena keangkuhannya. Sepanjang siang dan malam ia
mempelajari tentang komparasi antar mazhab, mencari kesalahan lawan debat.
Mereka keluar dari batas keilmuan, malah hanya bertujuan untuk menang dari lawannya.
Andai mereka mau menyibukkan diri dengan membersihkan hati, maka hal tersebut lebih
baik untuknya. Kecuali mereka hanya sibuk berkutat pada ilmu yang membuat tidak
bermanfaat baginya dan sibuk dengan urusan dunia.
Dan hal itu dapat mengantarkannya ke dalam neraka yang menyala di akhirat nanti.
Padahal dalil-dalil yang digunakan oleh para imam mazhab itu didasari al-qur’an dan
hadis. Maka tidak ada sesuatu yang lebih buruk ketimbang tertipunya mereka.
6. Golongan Keenam.
Orang yang sibuk dengan ilmu kalam dan perdebatan, menyangkal orang lain yang
berseberangan, dan suka larut dalam perselisihan.

