Page 17 - al kasyfu wa tabyin
P. 17

16   al kasyfu wa tabyin





               Orang-orang  yang  meninggalkan  ilmu-ilmu  yang  penting.  Hanya  mempelajari  secara
               ringkas  ilmu-ilmu  terkait  fatwa dalam  pemerintahan,  perdebatan, serta  uraian  tentang

               sosial duniawi yang terjadi antar makhluk untuk kemaslahatan kehidupan. Mereka hanya
               memperdalam ilmu fikih sehingga mendapat gelar ahli fikih (al-faqqih) dan ahli mazhab.



               Terkadang  mereka  menyia-nyiakan  ilmu  tentang  amal  yang  lahir  dan  batin,  tidak
               introspeksi  terhadap  anggota  tubuhnya,  tidak  menjaga  lidahnya  dari  membicarakan

               orang lain, tidak menjaga perutnya dari hal yang haram, tidak menjaga kakinya untuk
               mengunjungi para penguasa, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Mereka tidak menjaga

               hatinya dari sifat sombong, pamer, dengki, dan seluruh sifat yang dapat merusak,


               Mereka adalah orang-orang yang tertipu dari dua sisi; Pertama, Amal. Dalam kasus’ ini

               pengarang telah menjelaskannya dalam kitab Ihya’. Mereka diibaratkan bagai orang yang
               sakit yang belajar tentang obat-obatan kepada dokter, namun tidak malah memahaminya

               justru tidak mau mempraktekkan ilmunya.


               Mereka  menjerumuskan  kepada  kerusakan,  tidak  mau  membersihkan  dirinya.  Malah

               sibuk mendalami tentang haid, diyat (denda), li’an, dan dhihar. Mereka menyia-nyiakan
               perkembangan kebersihan dirinya.


               Mereka  tertipu  karena  para  makhluk  mengagungkan  dan  memuliakannya  serta  salah

               satu dari mereka telah ada yang menjadi hakim dan pemutus fatwa. Setiap dari mereka

               saling  menyindir  temannya  ketika  saling  berjauhan,  dan_  ketika  mereka  berdekatan
               hilanglah rasa saling sindir tersebut.


               Kedua, dari sisi ilmu. Mereka mengira tidak ada ilmu yang lebih penting dari ilmu fikih.

               IImu  tersebut  yang  dapat  menuntun  pada  keberuntungan  dan  keselamatan.  Padaha|

               perkara yang menguntungkan dan menyelamatkan hanyalah rasa cinta kepada Allah,
               dan cinta tidak cukup tanpa mengetahui tentang Allah.
   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22