Page 15 - al kasyfu wa tabyin
P. 15
14 al kasyfu wa tabyin
ia menampakkan kemarahannya di depan manusia, sama saja menjadikan hatinya
gembira.
Terkadang saat ia menampakkan ilmunya seraya berkata, “Tujuanku dengan ilmu ini
adalah agar dapat memberi manfaat kepada makhluk”. Padahal ucapannya_ tersebut
menjadikannya pamer. Karena jika seandainya tujuannya adalah memberi kemaslahatan
untuk makhluk, tentu ia ikut senang jika kebaikannya ada pada tangan orang lain baik
yang umurnya sepadan, lebih tua dan lebih muda darinya.
Terkadang ia mengunjungi para penguasa, memperlihatkan kehormatan dan memuji
mereka. Jika ia ditanya, ia menjawabnya “Tujuanku (mendatangi penguasa) adalah agar
memberi manfaat kepada orang-orang Islam agar mereka aman dan terhindar dari suatu
bahaya”. Dia ini adalah orang yang tertipu.
Jika tujuannya memang demikian, seharusnya ia rela jika hal tersebut dilakukan oleh
orang lain. Padahal, andai orang lain yang sepadan dengannya mendatangi penguasa
tersebut, ia akan marah.
Dan ketika mereka hendak mengambil harta dari penguasa, seketika terlintas dalam
benaknya bahwa perbuatan ini haram. Kemudian setan menghasud kepadanya, “harta
inj tidak bertuan, harta tersebut untuk kemaslahatan umat islam, sedangkan engkau
adalah imam dan ulama mereka, dan hanya denganmu agama menjadi tegak”.
Dalam hal ini setidaknya ada tiga kerancuan; pertama, harta yang tak bertuan. Kedua,
harta tersebut untuk kemaslahatan umat islam. Dan ketiga, ia adalah imamnya.
Tidak dapat disebut seorang pemimpin melainkan orang tersebut mampu berpaling dari
godaan dunia layaknya para nabi dan sahabat-sahabatnya. Contohnya adalah ucapan
Nabi Isa AS, “Orang alim yang buruk bagai batu besar yang keras yang jatuh ke dalam
jurang, ia tidak dapat menyerap air tidak pula dapat menumbuhkan tumbuhan" .

