Page 27 - al kasyfu wa tabyin
P. 27
26 al kasyfu wa tabyin
menganggap penting selain hal di atas. Tidak terpikirkan olehnya tentang rahasia surat
al-fatihah dan maknanya.
la tidak tahu bahwa dalam membaca al-qur’an manusia tidak dipaksa untuk menetapkan
keluarnya suatu huruf melainkan sesuai dengan kebiasaan lidah mereka dalam
berbicara.
Demikian ini merupakan ketertipuan yang besar. Ibaratnya seperti orang yang
mengantarkan sepucuk surat ke kediaman raja, ia diperintah tanpa memperlihatkan
wajahnya. Kemudian ia menyampaikan isi surat tersebut dengan makhraj yang sangat
teratur, mengulanginya beberapa kali.
Namun ia lupa apa tujuan dari surat tersebut, dan lupa dengan kehormatan majelis.
Kejadian tersebut membuatnya ditempatkan di tempat berkumpulnya orang-orang yang
tak menggunakan akalnya dengan baik.
4, Golongan Keempat.
Orang-orang yang tertipu sebab membaca al-qur’an. Ia selalu membaca dengan
berulang-ulang dengan cepat di kamarnya, kadang dalam sehari semalam langsung
khatam. Lidahnya membaca al-qur’an tetapi hatinya selalu berkhayal memikirkan dunia,
tidak sedikitpun terbesit arti dari ayat-ayat tersebut agar ia terhindar dari segala macam
hal yang dilarang.
Dan supaya dapat menerima nasihat, menjalankan yang telah diperintahkan, dan
menjauhi larangan. Dapat mengambil hikmah dari tempat-tempat yang ia singgahi
selama membaca al-qur’an, merasa nyaman dengan al-qur’an karena maknanya bukan
dari susunannya.
Barangsiapa yang membaca al-qur’an sebanyak 100 kali dalam sehari semalam,
kemudian ia meninggalkan apa yang diperintah dan melakukan maksiat maka ia akan

