Page 31 - al kasyfu wa tabyin
P. 31
30 al kasyfu wa tabyin
dengan alasan takut kalau kezuhudannya menjadi sia-sia, padahal ia sendiri mencintai
dunia hanya saja ia tidak ingin ada orang lain yang mencela dirinya.
Sebagian lain yaitu orang yang suka menekan dirinya untuk melakukan perbuatan-
perbuatan fisik seperti shalat seribu rakaat dalam sehari semalam, mengkhatamkan al-
qur’an padahal tidak terbesit sedikitpun dalam hatinya untuk menjaga hati dan
menjauhkannya dari sifat pamer, takjub dan semua sifat-sifat negatif lainnya.
Terkadang mereka ini mengira bahwa dengan melakukan ibadah yang lahir akan
menjadikan timbangan amal kebaikan lebih berat. Padahal tidak demikian. Amal sebesar
dzarrah dari orang yang takwa dan akhlak yang dimiliki orang-orang cerdas itu lebih
utama ketimbang amal hingga sebesar gunung.
Kemudian mereka ini terbuai dengan perkataan orang lain terhadapnya, “Sungguh
engkau termasuk dari para pemimpin di bumi dan bagian dari para wali dan kekasin-
kekasih Allah”, dengan hal itu ia bergembira dan tampak kewibawaannya.
Tetapi jika suatu hari ia dicaci sekali, dua kali atau tiga kali, ia akan mengingkari dan akan
dendam kepada orang yang mencacinya seraya berkata, “Allah tidak akan
mengampunimu selamanya”.
9. Golongan Kesembilan.
Orang-orang yang sangat menyukai perkara-perkara sunnah seperti shalat dhuha dan
shalat malam dan perkara sunnah lainnya. Saat melakukan shalat fardhu, ia tidak
menemukan kenikmatan dan kebaikan dari Allah, saking konsistennya melakukan shalat
fardhu di awal waktu.
Ia lupa terhadap sabda Nabi SAW, “Orang-orang yang dekat dengan Allah tidak akan
sempurna kedekatannya melainkan dengan mengutamakan apa yang telah Allah
wajibkan kepada mereka”.

