Page 34 - al kasyfu wa tabyin
P. 34
33 al kasyfu wa tabyin
Tujuan dari adanya masjid adalah agar manusia dapat berkumpul di sana, bukan untuk
selainnya. Itulah kenapa masjid tidak dibangun di setiap jalan yang besar atau di sebelah
pintu gerbang yang besar. Sedangkan para fakir miskin lebih membutuhkan harta
tersebut.
Mereka merasa lebih nyaman mengeluarkan harta untuk renovasi masjid, karena
dampaknya dapat dilihat oleh mata manusia. Mereka mengira ia akan mendapatkan
pujian dari para makhluk dan mengira telah berbuat karena Allah padahal yang
dilakukannya bukan diniati karena Allah. Allah Maha Mengetahui hal tersebut. Niatnya
tersebut dapat mengundang murka Allah kepadanya tetapi mereka malah berucap,
“Niatku ini hanyalah karena Allah semata”.
Kedua, ia tertipu karena menggunakan hartanya untuk memperindah masjid dengan
hiasan yang dilarang dan dapat mengusik hati orang-orang yang shalat. Karena saat
melihatnya, dapat membuat shalatnya tidak khusyuk dan menghadirkan hati yang
keduanya menjadi tujuan utama dalam shalat.
Karena adanya faktor internal dan ekternal di dalam melakukan shalat tersebut harusnya
menjadi pertimbangan bagi takmir. Oleh karenanya, tidak boleh menghias masjid dengan
berbagai alasan.
Sayyidina Hasan RA berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW saat ingin merenovasi masjid
di kota Madinah, Jibril mendatanginya seraya berkata, “Bangunlah dengan tinggi tujuh
dzira’ dan janganlah engkau hiasi dan melukisnya”.
Mereka telah tertipu karena mengira bahwa perkara yang sebenarnya pekerjaan munkar
malah dianggap sebuah pekerjaan yang baik, dan mereka tetap melakukannya.
3. Golongan Ketiga.

