|
|
|
Riya' dan Sum'ah
Setiap hari kita melakukan pengelolaan kesan. Yang demikian itu
wajar-wajar saja. Yang tidak wajar dan tidak dibenarkan oleh agama adalah
menggunakan lambang verbal dan nonverbal supaya orang lain menganggap
kita orang saleh. Bila Anda menggunakan lambang verbal (yang bsa
didengar) untuk itu, Anda melakukan sum'ah. Bila Anda menggunakan lambang
nonverbal (yang dapat dilihat) untuk itu, Anda melakukan riya'. Riya'
dan sum'ah keduanya bertentangan dengan ikhlas. Bila ikhlas adalah
beribadat dan beramal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah (karena
Allah), riya' dan sum'ah beribadat untuk mendekatkan diri kepada manusia
(karena manusia).
Dalam sebuah riwayat diceritakan orang-orang yang digiring ke neraka.
Allah SWT memerintahkan agar Malik (malaikat penjaga neraka) tidak
membakar kaki-kaki mereka, sebab kaki-kai itu pernah dilangkahkan ke
masjid dan tidak membakar tangan-tangan mereka, sebab tangan-tangan itu
pernah diangkat untuk berdoa. Malik bertanya,"Apa yang terjadi pada
kalian, hai, orang-orang celaka ?" Ahli neraka itu menjawab,"Kami dahulu
beramal bukan karena Allah"(Bihar Al-Anwar 8:325).
Riwayat lain bercerita tentang orang yang membaca Al-Quran siang dan
malam, yang terbunuh fisabilillah, dan menginfakkan hartanya.
Ketiga-tiganya dimasukkan ke neraka. Yang pertama masuk neraka karena ia
ingin disebut qari', yang kedua ingin disebut pemberani, dan yang ketiga
ingin dipanggil orang dermawan (Bihar Al-Anwar 72:305). Walhasil, semua
amal itu dilakukan karena manusia, bukan karena Allah.
Imam Ali berkata, "ada empat tanda orang yang riya' : malas bila beribadah
sendirian, rajin di depan orang banyak, bertambah amalnya bila dipuji, dan
berkurang bila tidak ada yang memujinya" (Ibn Abi Al-Hadid, Syarh Nahj
Al-Balaghah, 2:180). Perhatikan shalat Anda. Anda shalat di masjid
dengan khusyuk. Anda lakukan shalat sunat. Anda menyelesaikan wirid
panjang. Anda lakukan semua itu dengan mudah. Tetapi bila Anda shalat di
rumah, Anda shalat dengan cepat. Sesudah shalat Anda membaca wirid yang
sangat pendek, lalu meninggalkan tempat tempat shalat tanpa melakukan
shalat sunat. Anda sudah menderita gejala penyakit riya'.
Anda menjadi imam shalat. Anda membaca Al-Quran dengan tajwid dan
tartil. Anda membaca surat-surat yang panjang tanpa terasa lelah sedikit
pun (makmum Anda kecapaian). Anda rukuk dan sujud dengan sangat (bahkan
terlalu) tertib. Ketika Anda shalat sendirian (munfarid), Anda membaca
surat-surat yang pendek, tanpa memperhatikan tajwid dan tartil.
Perhatikan, bila gejala-gejala itu ada, Anda mengidap penyakit riya'
Dalam sebuah seminar, saya mengusulkan agar saya diizinkan berbicara
setengah jam saja setelah azan zuhur. Saya harus menghadiri acara di
tempat lain. Saya mohon agar meminta izin kepada peserta seminar untuk
menangguhkan waktu shalat tiga puluh menit saja. Ketika panitia
menawarkan usul itu kepada mereka, hampir semuanya menolak. "Shalat harus
dilakukan pada awal waktunya," ujar hadirin. Saya tahu banyak bahwa di
antara mereka, di kampung mereka, jarang melakukan shalat pada awal waktu
seperti itu. Dengan ucapan itu, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka
orang yang "disiplin" dengan waktu shalat. Tanpa terasa, mereka jatuh
pada penyakit sum'ah.
Dalam majelis-majelis pengajian (termasuk seminar-seminar di kampus),
sering hadirin bertanya bukan karena ingin mendapatkan jawaban. Fulan
bertanya berapa rakaat shalat tahajud, walaupun ia sudah lama
mengetahuinya. Fulanah bertanya bagaimana menentramkan batin krena sering
melakukan infak tanpa seizin suami. Seorang mubaligh bercerita tentang
pengalaman ruhaninya, ketika Allah segera menjawab doanya setelah ia
berdoa; atau betapa ia tak sanggup menahan tangisan ketika merintih di
derpan Baitullah pada waktu haji. Pertanyaan-pertanyaan hadirin dan
pernyataan-pernyataan sang mubaligh menunjukkan tanda-tanda sum'ah; yakni
"memperdengarkan" kepada orang lain kelebihan dirinya.
Riya' dan Sum'ah keduanya dilakuan untuk merekayasa kesan orang lain
terhadap diri kita. Yang pertama-riya'- berarti mempertontonkan amal dan
tindakan agar Anda dinilai sebagai orang takwa. Yang kedua-sum'ah-berarti
memperdengarkan kebajikan-kebajikan kita sehingga kita dihitung sebagai
orang yang baik. Keduanya dilakukan karena manusia, bukan karena Allah;
dan karena itu bertentangan dengan ikhlas. Saya akan mengakhiri ikhlas
dalam pengertian "karena Allah" dengan tulisan Ayatullah Khomeini.
"Sahabatku, sadarlah dan berhati-hatilah dalam tindakanmu. Mintalah dari
dirimu pertanggungjawaban untuk setiap perbuatanmu. Telitilah dirimu
dengan cermat; usahakan untuk menilai perbuatanmu dengan introspesi apakah
amal itu dilakukan untuk mewujudkan kebaikan atau karena motif-motif yang
lain. Apa yang mendorong kamu untuk mengajukan pertanyaan berkenaan
dengan shalat malam ? Apakah pertanyaan itu diajukan karena Allah dengan
niat untuk melakukannya atau hanya untuk memproyeksikan gambaran kamu
sebagai orang yang sangat religius ? Mengapa kamu begiru bersemangat
menceritakan kepada orang lain dengan berbagai cara tentang ibadah hajimu
sambil tak lupa menyebutkan beberapa kali kamu melakukannya ? Mengapa kamu
kamu tidak puas dengan membatasi amal salehmu hanya untukmu saja dan apa
yang kau inginkan dari pemberitahuan kepada orang lain tentang amal
salehmu, karema begitu ada kesempatan kamu segera mengumumkannya. Jika
perbuatan itu dilakukan karena Allah, atau kamu bermaksud agar orang lain
menirumu, atau kamu berpikir sesuai dengan hadits "yang menunjukkan
kebaikan sama dengan melakukannya" sambil kamu melakukannya, penampakan
amal seperti masih dapat dibenarkan. Bersyukurlah kepada Allah, karena Ia
telah memungkinkan kamu bertindak dengan sepenuh kesadaran dan kemurnian
hati. Tetapi hendaknya kamu selalu berhati-hati akan jebakan-jebakan
setan ketika memeriksa dirimu, sebab setan dapat memproyeksikan amal riya'
sebagai amal yang suci dan ikhlas."
|