Artikel Islami 

SURAT AL-'ALAQ (96)
Takut menjadi Tukang Bakso
Isra' Mi'ra
Apa yang paling...di dunia
Anak belajar dari Kehidupan
Hadist Qudsi tentang 'Sholat yang diterima
Dosa Riya
EQ Alphabet
Etika persahabatan (Imam Al-Ghozali)
Menangis (Emha Ainun Najib)
Kesempurnaan diri Muslim
Keikhlasan
Islam Sebagai sistem kehidupan
Pendurhaka yang masuk surga
Surat Al Alaq (96)
Ucapan Selamat Natal
Pengamen cilik itu sukmanya
Ukuran ukuran Ikhlas 1
Ukuran ukuran Ikhlas 2
Ukuran ukuran Ikhlas 3
Ciri wanita sholehah
Ciri istri yang baik
Berlindung dari 5 kesombongan
Bukan karena ingin
Imam Al-Ghozali
Kita paling jelek
Allahu Ahad
Suara yang didengar mayat
Ali baba dan Qasim
Sekilas tentang sholat Tarawih

 

Surat Al-Alaq yang merupakan surat yang ke 96 di  dalam  Kitab Al  Qur'an,  adalah surat yang terdiri dari 19 ayat. Lima ayat
yang pertama merupakan  wahyu  pertama  yang  diturunkan  oleh
Allah kepada Nabi Muhammad saw. Menurut beberapa pakar tafsir,
lebih  dari  satu  tahun  Nabi  saw   tidak   menerima   wahyu
lanjutannya.  Bahkan  setelah  lima ayat tersebut, wahyu kedua
yang diterima Nabi saw adalah  surat  Al-Qalam  (68).  Setelah
wahyu kedua selesai, turunlah wahyu sambungan surat Al-'Alaq.

Kandungan  surat Al-'Alaq adalah Tuhan memperkenalkan diri-Nya
kepada Nabi saw, yang sebelum turun wahyu  tersebut,  beberapa
tahun    sebelumnya    Nabi   saw   membiasakan   diri   untuk
berkontemplasi selama bulan  Ramadhan  (bulan  ke  9  kalender
lunar) di Gua Hira' di Jabal (Gunung) Nuur.

Bagi  masyarakat  Mekah,  pada  waktu  itu  tidak  biasa orang
merenung di gua-gua. Hanya  ada  beberapa  orang  yang  secara
intensif   berkontemplasi   sendirian   di   gua-gua.  Istilah
sekarang, orang mengasingkan diri di suatu tempat  pada  bulan
tertentu  untuk  merenungi  kehidupan  ini.  Mengapa perlu ada
perenungan? Karena kehidupan  masyarakat  sudah  semrawut,  ya
seperti  sekarang  ini.  Sesuatu  yang memang benar dinyatakan
salah. Sesuatu yang salah harus dipertahankan karena  dianggap
benar.  Utara  dikatakan  selatan,  sebaliknya selatan disebut
utara. Pikiran dan hati sudah buntu. Dalam  kondisi  demikian,
harus  ada  orang  yang  berkontemplasi.  Harus ada orang yang
tidak larut dalam arus kehidupan zaman.

Pada saat masyarakat Mekah dan sekitarnya ini mengalami  zaman
jahiliyah,  zaman  penuh kebodohan. Zaman dimana aturan-aturan
hidup tidak ditegakkan. Zaman bagi  siapa  yang  kuat,  dialah
yang  mengendalikan  hukum.  Zaman  ketika  Abu  Jahal  (bapak
kebodohan) menginjak-injak hukum  masyarakat  di  Mekah.  Nah,
pada  saat  itulah  Muhammad  (sebelum  menjadi  nabi)  secara
intensif berkhalwat atau mengasingkan diri di Gua Hira'  untuk
melakukan  perenungan,  kontemplasi  atau  bertahanut. Setelah
beberapa  kali   Ramadhan   berkontemplasi,   Tuhan   mengutus
Rasul-Nya  yaitu  Malaikat  Jibril  untuk  menyampaikan  wahyu
kepada Muhammad.

Ada beberapa cerita tentang turunnya wahyu kepada beliau, yang
umumnya   sudah   dikenal   orang   Islam.   Yaitu,   malaikat
menyerupakan  dirinya  sebagai  manusia  dan   membuka   suatu
lembaran,   dan   meminta  Nabi  saw  untuk  membaca  lembaran
tersebut. Perintahnya, iqra' (bacalah). Pada  waktu  itu  Nabi
saw  tidak  dapat  membaca,  dan  menjawab  "Saya  tidak dapat
membaca." Perintah itu diulangi sampai tiga kali,  dan  beliau
tetap  mengatakan  hal  yang  sama. Lalu beliau dirangkul oleh
Malaikat Jibril,  dan  ajaib,  beliau  akhirnya  bisa  membaca
lembaran tersebut.

Sebenarnya  cerita  tersebut baru muncul setelah 50 tahun Nabi
saw wafat. Yang  bercerita  juga  orang  Madinah  asli,  bukan
sahabat  yang  berhijrah. Dan cerita tersebut dituliskan dalam
sebuah buku sejarah Nabi. Kemudian cerita tersebut  dimasukkan
dalam sebuah Hadis. Tentu saja kesahihannya dipertanyakan.

Coba  perhatikan  sekali  lagi.  Yang  dibawa  Malaikat Jibril
adalah wahyu, seperti wahyu-wahyu lainnya yang kelak  diterima
Nabi  saw.  Sebagai  wahyu  beliau  tidak  perlu membaca suatu
lembaran. Wahyu langsung dimasukkan oleh Jibril  as  ke  dalam
hati  beliau.  Jadi  lima  ayat tadi menjadi ada di dalam hati
Nabi saw. Yang mengagetkan beliau adalah kehadiran  Jibril  as
pertama  kali  di  hadapan  Nabi  saw.  Peristiwa  inilah yang
ditanyakan oleh Ibu Khadijah bersama Nabi  kepada Waraqah  bin
Naufal  (paman  Ibu  Khadijah),  yang akhirnya dijelaskan oleh
Waraqah bahwa yang datang itu Namus (Jibril  as)  yang  pernah
datang  pula kepada Nabi Musa as. Dan sejak saat itu, Muhammad
diangkat Tuhan sebagai Nabi.

Disamping Tuhan memperkenalkan Diri-Nya kepada Nabi saw, Tuhan
juga  menjelaskan  pertumbuhan  dan  perkembangan  manusia dan
sifatnya.

Perintah   pertama   kepada   Nabi   saw    adalah    "bacalah
(proklamasikan)". Tak ada objek yang harus dibaca oleh beliau.
Objeknya tidak terbatas. Yang dapat  berarti  Nabi  diperintah
untuk  membaca  ayat-ayat  yang  digelar Tuhan di alam semesta
ini. Bacalah dengan nama Rabb. Bukan yang lain. Yang lain  itu
sama-sama makhluk seperti diri Nabi juga. Di ayat pertama ini,
Tuhan memperkenalkan Diri-Nya sebagai Tuhan  yang  menciptakan
segala  sesuatu  dan sekaligus memeliharanya dengan baik. Jadi
Tuhan tidak memperkenalkan  nama-Nya.  Nama  hanyalah  sebagai
tanda  atau  identitas.  Yang paling penting adalah siapa yang
memiliki identitas itu. Yaitu, yang menciptakan dan  sekaligus
memeliharanya  dengan  baik  dan  penuh  kelembutan. Kemudian,
dipertegas lagi sebagai pencipta insan (manusia) dan sekaligus
yang   mengajar  manusia  dari  yang  tidak  diketahui  hingga
mengetahui sesuatu. Itulah Rabb, Rabb kita  Yang  Maha  Mulia.
Rabb  yang  betul-betul Tuhan. Bukan tuhan palsu, yaitu segala
sesuatu yang dipertuhan oleh hawa nafsu.

Pada ayat  2  Tuhan  memberitahukan  penciptaan  manusia  pada
proses  reproduksi, yaitu dimulai dari alaq. Ketika sperma dan
ovum  bertemu,  terjadilah  apa  yang  disebut  dalam   bahasa
kedokteran  sebagai proses pembuahan. Fertilisasi. Sperma yang
bentuknya seperti berudu (Jawa, cebong, anak katak  yang  baru
menetas) bertemu dengan ovum dan melebur menjadi satu,  zigot.
Makhluk baru inilah yang kemudian menempel atau menggantung di
dinding  rahim.  Inilah yang disebut "alaq". 'Alaq inilah yang
kemudian berkembang menjadi embrio, jabang bayi manusia.

Manusia lahir tidak  mengetahui  sesuatu  apapun.  Agar  dapat
mengetahui,   manusia  diberi  perlengkapan  oleh  Tuhan  yang
disebut telinga, mata dan fu' ad (QS 16:78). Tetapi pada  ayat
4,  proses  pengajaran  Tuhan terhadap manusia ini menggunakan
"al-qalam". Dengan menggunakan al-qalam Tuhan mengajar manusia
apa-apa  yang belum diketahui oleh manusia itu sendiri. Banyak
ahli tafsir yang terjebak menerjemahkan  al-qalam  itu  dengan
pena.  Lalu  diuraikan  panjang  lebar  fungsi  pena  itu bagi
kemajuan manusia.

Umumnya para penafsir lupa, bahwa yang diajar oleh  Tuhan  itu
bukan  hanya  manusia  yang sudah mengenal pena. Semua manusia
dari yang masih primitif, yang  tidak  mengenal  pena,  hingga
yang  serba  komputerisasi  yang  tidak begitu memerlukan lagi
pena, telah diajar oleh Tuhan. Dan Dia  mengajar  manusia  itu
dengan  al-qalam. Dengan al-qalam Tuhan mengajar manusia untuk
mengetahui kebutuhan tertawa  dan  menangis  pada  saat  bayi,
bagaimana   manusia   akhirnya   mengetahui   sesuatu   dengan
telinganya, mengetahui sesuatu dengan matanya, dan  mengetahui
sesuatu  dan  mensyukuri  nikmat-Nya  dengan  fu'adnya.  Jadi,
al-qalam bukanlah pena seperti yang kita kenal sekarang ini.

Kalau kita membuka-buka Hadis yang diriwayatkan oleh  Bukhari,
Muslim,  Abu  Daud, Turmidzi dan Nasai akan dapat kita temukan
bahwa yang pertama-tama diciptakan Tuhan adalah  Nur  Muhammad
(bukan  Nabi Muhammad saw lho). Dari Nur Muhammad inilah Tuhan
menjadikannya  al-qalam  dan  lain-lainnya  --akan  dijelaskan
lebih  jauh  pada  wahyu kedua. Al-qalam inilah yang digunakan
Tuhan  untuk  mengajari  manusia.  Pada  salah   satu   Hadis,
disebutkan bahwa makhluk yang diciptakan pertama kali dari Nur
Muhammad adalah "al-' aqal". Tampaknya, al-qalam adalah  aqal,
selanjutnya  ditulis akal, yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada
manusia. Dengan  akal  yang  ditempatkan  dalam  diri  manusia
Tuhan mengajari manusia dari apa-apa yang tidak diketahui.

Seperti  yang  telah  diberikan  pada kajian-kajian yang lalu,
akal yang berasal  dari  bahasa  Arab  'aql'  berfungsi  untuk
mengikat.   Dengan   akalnya  manusia  mampu  mengambil  suatu
kesimpulan dari apa yang telah dipelajarinya.  Dengan  akalnya
manusia  diperintah oleh Tuhan untuk mempelajari ayat-ayat-Nya
yang digelar di  alam  semesta  ini.  Dengan  akalnya  manusia
diperintah untuk memahami ayat-ayat dalam Kitab Suci-Nya. Pada
QS  10:100  disebutkan  bahwa  orang-orang  yang   tidak   mau
menggunakan  akalnya  untuk  memahami ayat-ayat Tuhan, disebut
'rijs' alias najis. Orang yang tidak mau  menggunakan  akalnya
disamakan  dengan  orang-orang kafir atau musyrik. Sekali lagi
akal tidak sama dengan  pikiran  (mind).  Memikirkan  hanyalah
salah   satu   proses   untuk   menganalisis  atau  memperoleh
kesimpulan.

Pada wahyu pertama ini manusia disebut "insan",  yang  artinya
makhluk  yang  mempunyai  perasaan.  Makhluk  yang perlu teman
dalam hidupnya. Inilah sifat  dasar  manusia!    Tetapi  kalau
manusia  itu  diberi  lebih  oleh Yang Maha Kuasa, mendadak ia
lupa siapa dirinya. Inilah yang disebut dalam ayat lanjutannya
sebagai  melampaui  batas.  Melampaui  batas-batas  yang telah
ditetapkan pada diri manusia. Manusia diingatkan bahwa dirinya
pasti  kembali  pada hukum-hukum Tuhan. Dia tumbuh dari zigot,
menjadi embrio dan bayi. Kemudian tumbuh sebagai  kanak-kanak,
remaja  dan  dewasa.  Setelah  dewasa, dan bisa mencari nafkah
hidupnya lalu berhasil, manusia menjadi lupa. Dia tidak  ingat
lagi  bahwa  hukum  Tuhan  tetap  berlaku  pada  dirinya yaitu
menjadi tua, dan mungkin loyo lalu datang kematian.

Pada ayat 6 - 19 dikisahkan seorang yang bernama (julukan) Abu
Jahal.  Dia  pada  waktu  itu  hidup kaya dan mempunyai banyak
teman. Dia merasa  dengki  terhadap  Nabi  saw  yang  berwatak
santun  kepada  orang-orang  Qureis.  Jika  Abu  Jahal beserta
pengikutnya melakukan puja bakti  di  depan  patung-patung  di
sekitar Ka'bah dengan gaya angkuh dan penuh kesombongan, tidak
demikian  dengan  Nabi  saw.  Beliau  senantiasa   berhubungan
(shalat)  dengan  Tuhan.  Dia  rendahkan dirinya dengan sujud,
menempelkan dahinya di tanah. Inilah bentuk shalatnya Nabi  di
awal-awal  kenabiannya.  Abu  Jahal jengkel melihat puja bakti
yang demikian  itu.  Yang  lain-lain  melakukan  sembah  bakti
kepada  patung-patung dengan angkuhnya, tetapi Nabi saw tunduk
merendah menempelkan dahi di tanah.  Beliau  merasa  'humble',
tunduk  total di hadapan Tuhan yang menciptakan manusia, bukan
kepada patung-patung yang ada di sekitar Ka' bah.

Abu jahal dan beberapa temannya tersinggung berat  atas  sikap
Nabi  saw.  Lha patung yang diagungkan oleh orang-orang Qureis
malah tidak disembah. Justru Tuhan yang tak tampak oleh  mata,
yang  selama  ini  mereka  anggap tidak ada, malah dipuja oleh
Muhammad. Nabi  saw  dianggap  meremehkan  sesembahan  mereka.
Dipandang  tidak  menghormati tuhan-tuhan mereka. Yang artinya
juga tidak  menghormati  Abu  Jahal  sendiri.  "Muhammad  yang
miskin   dan   beristerikan  janda  kaya  Siti  Khadijah,  kok
berani-beraninya tidak menghormati dirinya," pikir Abu  Jahal.
Kalau  dibiarkan  bisa  merusak  citranya  sebagai tokoh, bisa
menghancurkan  reputasinya.  Ya,  Abu  jahal  telah  melampaui
batas.

Tidak  rela  dengan  sikap  Muhammad  saw  tersebut, Abu Jahal
hendak menginjak leher Nabi saw  ketika  bersujud.  Dia  minta
dikabari  teman-temannya bila Nabi saw menjalankan shalat. Dia
larang orang lain mengikuti beliau. Dan  akan  mencekik  leher
Nabi  dengan  cara  menginjaknya  ketika sujud. Suatu hari ada
kesempatan tersebut. Abu Jahal siap-siap menginjak leher  Nabi
saw. Ternyata urung menginjak leher Nabi. Para teman Abu Jahal
keheranan. Ada apa gerangan? Mengapa Bapak kebodohan itu  yang
sudah  menggebu-gebu  melarang  Nabi saw shalat, dan berencana
menginjak    leher   beliau   mendadak   berhenti.    Beberapa
teman-temannya  mendatangi Abu Jahal, dan menanyakan sebabnya.
Agar dirinya (Abu Jahal)  tidak  malu,  teman-temannya  diajak
menjauhi  beliau  dan  diberi  tahu  bahwa  dirinya tidak jadi
menginjak  leher  beliau  karena  ketika  hendak  melaksanakan
niatnya  itu, mendadak ada monster besar yang hendak mencaplok
kepala Abu Jahal.

Abu Jahal tidak  mengetahui  bahwa  semua  gerak-geriknya  itu
dilihat  oleh  Tuhan  semesta alam. Sebaliknya, Nabi saw sadar
sepenuhnya bahwa dirinya dibawah pengawasan Tuhan. Nabi  tidak
perlu  takut.  Meskipun Abu Jahal mengumpulkan semua temannya,
mereka tidak akan  mampu  memberhentikan  ajakan  Nabi.  Allah
memberi tahu Nabi, bila Abu jahal dan teman-temannya tidak mau
berhenti mengganggu Nabi, maka Tuhan  akan  membuat  hina  Abu
Jahal  dan  kawan-kawannya.  Di  ayat  15, diberitahukan bahwa
Tuhan akan menarik 'nashiyahnya'. Nashiyah dalam  bahasa  Arab
sebenarnya  titik  kehormatan  yang ada di dahi. Titik abstrak
sebagai  batas  mahkota  yang  dikenakan  di  kepala.  Ditarik
nashiyahnya,  artinya  dicabut  kekuasaannya,  agar  dia tidak
sewenang-wenang terhadap manusia.

Kalau  dia  sampai  berani  menggerakkan   golongannya   untuk
mengganggu  dakwah  Nabi,  Tuhan  akan menggunakan 'Zabaniyah'
untuk mengalahkannya. Nama Zabaniyah sudah dikenal  oleh  suku
Qureis  sebagai  penjaga neraka. Mereka takut terhadap neraka.
Takut pula  kepada  penjaganya.  Takutnya  terhadap  Zabaniyah
seperti  takutnya  anak  kecil  terhadap  'momok'  atau hantu.
Apalagi  dia  sudah  melihat  sendiri  monster   yang   hendak
mencaplok kepalanya.

Nabi  pada ayat yang terakhir, yaitu ayat 19, diperintah Tuhan
untuk tidak mematuhi sama sekali ajakan Abu Jahal. Tidak perlu
takut  terhadap  manusia.  Tidak  perlu taat terhadap hal yang
tidak benar,  meskipun  Abu  Jahal  sebagai  pemimpin  Qureis.
Tegakkan  terus  kebenaran  dari  Tuhan. Nabi diperintah sujud
kepada  Tuhan,   bahkan   diperintahkan   lebih   dekat   lagi
hubungannya kepada Tuhan daripada sebelumnya.

Insya  Allah berlanjut minggu depan pada wahyu ke 2 (Al Qalam,
68).

Wassalamualaikum wr. wab.,

a. chodjim Kajian Kamis, 30 September 1999.
Hosted by www.Geocities.ws

1