Artikel Islami |
SURAT AL-'ALAQ (96) | |
|
Surat
Al-Alaq yang merupakan surat yang ke 96 di dalam Kitab Al Qur'an,
adalah surat yang terdiri dari 19 ayat. Lima ayat yang pertama merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. Menurut beberapa pakar tafsir, lebih dari satu tahun Nabi saw tidak menerima wahyu lanjutannya. Bahkan setelah lima ayat tersebut, wahyu kedua yang diterima Nabi saw adalah surat Al-Qalam (68). Setelah wahyu kedua selesai, turunlah wahyu sambungan surat Al-'Alaq. Kandungan surat Al-'Alaq adalah Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Nabi saw, yang sebelum turun wahyu tersebut, beberapa tahun sebelumnya Nabi saw membiasakan diri untuk berkontemplasi selama bulan Ramadhan (bulan ke 9 kalender lunar) di Gua Hira' di Jabal (Gunung) Nuur. Bagi masyarakat Mekah, pada waktu itu tidak biasa orang merenung di gua-gua. Hanya ada beberapa orang yang secara intensif berkontemplasi sendirian di gua-gua. Istilah sekarang, orang mengasingkan diri di suatu tempat pada bulan tertentu untuk merenungi kehidupan ini. Mengapa perlu ada perenungan? Karena kehidupan masyarakat sudah semrawut, ya seperti sekarang ini. Sesuatu yang memang benar dinyatakan salah. Sesuatu yang salah harus dipertahankan karena dianggap benar. Utara dikatakan selatan, sebaliknya selatan disebut utara. Pikiran dan hati sudah buntu. Dalam kondisi demikian, harus ada orang yang berkontemplasi. Harus ada orang yang tidak larut dalam arus kehidupan zaman. Pada saat masyarakat Mekah dan sekitarnya ini mengalami zaman jahiliyah, zaman penuh kebodohan. Zaman dimana aturan-aturan hidup tidak ditegakkan. Zaman bagi siapa yang kuat, dialah yang mengendalikan hukum. Zaman ketika Abu Jahal (bapak kebodohan) menginjak-injak hukum masyarakat di Mekah. Nah, pada saat itulah Muhammad (sebelum menjadi nabi) secara intensif berkhalwat atau mengasingkan diri di Gua Hira' untuk melakukan perenungan, kontemplasi atau bertahanut. Setelah beberapa kali Ramadhan berkontemplasi, Tuhan mengutus Rasul-Nya yaitu Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Muhammad. Ada beberapa cerita tentang turunnya wahyu kepada beliau, yang umumnya sudah dikenal orang Islam. Yaitu, malaikat menyerupakan dirinya sebagai manusia dan membuka suatu lembaran, dan meminta Nabi saw untuk membaca lembaran tersebut. Perintahnya, iqra' (bacalah). Pada waktu itu Nabi saw tidak dapat membaca, dan menjawab "Saya tidak dapat membaca." Perintah itu diulangi sampai tiga kali, dan beliau tetap mengatakan hal yang sama. Lalu beliau dirangkul oleh Malaikat Jibril, dan ajaib, beliau akhirnya bisa membaca lembaran tersebut. Sebenarnya cerita tersebut baru muncul setelah 50 tahun Nabi saw wafat. Yang bercerita juga orang Madinah asli, bukan sahabat yang berhijrah. Dan cerita tersebut dituliskan dalam sebuah buku sejarah Nabi. Kemudian cerita tersebut dimasukkan dalam sebuah Hadis. Tentu saja kesahihannya dipertanyakan. Coba perhatikan sekali lagi. Yang dibawa Malaikat Jibril adalah wahyu, seperti wahyu-wahyu lainnya yang kelak diterima Nabi saw. Sebagai wahyu beliau tidak perlu membaca suatu lembaran. Wahyu langsung dimasukkan oleh Jibril as ke dalam hati beliau. Jadi lima ayat tadi menjadi ada di dalam hati Nabi saw. Yang mengagetkan beliau adalah kehadiran Jibril as pertama kali di hadapan Nabi saw. Peristiwa inilah yang ditanyakan oleh Ibu Khadijah bersama Nabi kepada Waraqah bin Naufal (paman Ibu Khadijah), yang akhirnya dijelaskan oleh Waraqah bahwa yang datang itu Namus (Jibril as) yang pernah datang pula kepada Nabi Musa as. Dan sejak saat itu, Muhammad diangkat Tuhan sebagai Nabi. Disamping Tuhan memperkenalkan Diri-Nya kepada Nabi saw, Tuhan juga menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan manusia dan sifatnya. Perintah pertama kepada Nabi saw adalah "bacalah (proklamasikan)". Tak ada objek yang harus dibaca oleh beliau. Objeknya tidak terbatas. Yang dapat berarti Nabi diperintah untuk membaca ayat-ayat yang digelar Tuhan di alam semesta ini. Bacalah dengan nama Rabb. Bukan yang lain. Yang lain itu sama-sama makhluk seperti diri Nabi juga. Di ayat pertama ini, Tuhan memperkenalkan Diri-Nya sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dan sekaligus memeliharanya dengan baik. Jadi Tuhan tidak memperkenalkan nama-Nya. Nama hanyalah sebagai tanda atau identitas. Yang paling penting adalah siapa yang memiliki identitas itu. Yaitu, yang menciptakan dan sekaligus memeliharanya dengan baik dan penuh kelembutan. Kemudian, dipertegas lagi sebagai pencipta insan (manusia) dan sekaligus yang mengajar manusia dari yang tidak diketahui hingga mengetahui sesuatu. Itulah Rabb, Rabb kita Yang Maha Mulia. Rabb yang betul-betul Tuhan. Bukan tuhan palsu, yaitu segala sesuatu yang dipertuhan oleh hawa nafsu. Pada ayat 2 Tuhan memberitahukan penciptaan manusia pada proses reproduksi, yaitu dimulai dari alaq. Ketika sperma dan ovum bertemu, terjadilah apa yang disebut dalam bahasa kedokteran sebagai proses pembuahan. Fertilisasi. Sperma yang bentuknya seperti berudu (Jawa, cebong, anak katak yang baru menetas) bertemu dengan ovum dan melebur menjadi satu, zigot. Makhluk baru inilah yang kemudian menempel atau menggantung di dinding rahim. Inilah yang disebut "alaq". 'Alaq inilah yang kemudian berkembang menjadi embrio, jabang bayi manusia. Manusia lahir tidak mengetahui sesuatu apapun. Agar dapat mengetahui, manusia diberi perlengkapan oleh Tuhan yang disebut telinga, mata dan fu' ad (QS 16:78). Tetapi pada ayat 4, proses pengajaran Tuhan terhadap manusia ini menggunakan "al-qalam". Dengan menggunakan al-qalam Tuhan mengajar manusia apa-apa yang belum diketahui oleh manusia itu sendiri. Banyak ahli tafsir yang terjebak menerjemahkan al-qalam itu dengan pena. Lalu diuraikan panjang lebar fungsi pena itu bagi kemajuan manusia. Umumnya para penafsir lupa, bahwa yang diajar oleh Tuhan itu bukan hanya manusia yang sudah mengenal pena. Semua manusia dari yang masih primitif, yang tidak mengenal pena, hingga yang serba komputerisasi yang tidak begitu memerlukan lagi pena, telah diajar oleh Tuhan. Dan Dia mengajar manusia itu dengan al-qalam. Dengan al-qalam Tuhan mengajar manusia untuk mengetahui kebutuhan tertawa dan menangis pada saat bayi, bagaimana manusia akhirnya mengetahui sesuatu dengan telinganya, mengetahui sesuatu dengan matanya, dan mengetahui sesuatu dan mensyukuri nikmat-Nya dengan fu'adnya. Jadi, al-qalam bukanlah pena seperti yang kita kenal sekarang ini. Kalau kita membuka-buka Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi dan Nasai akan dapat kita temukan bahwa yang pertama-tama diciptakan Tuhan adalah Nur Muhammad (bukan Nabi Muhammad saw lho). Dari Nur Muhammad inilah Tuhan menjadikannya al-qalam dan lain-lainnya --akan dijelaskan lebih jauh pada wahyu kedua. Al-qalam inilah yang digunakan Tuhan untuk mengajari manusia. Pada salah satu Hadis, disebutkan bahwa makhluk yang diciptakan pertama kali dari Nur Muhammad adalah "al-' aqal". Tampaknya, al-qalam adalah aqal, selanjutnya ditulis akal, yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Dengan akal yang ditempatkan dalam diri manusia Tuhan mengajari manusia dari apa-apa yang tidak diketahui. Seperti yang telah diberikan pada kajian-kajian yang lalu, akal yang berasal dari bahasa Arab 'aql' berfungsi untuk mengikat. Dengan akalnya manusia mampu mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah dipelajarinya. Dengan akalnya manusia diperintah oleh Tuhan untuk mempelajari ayat-ayat-Nya yang digelar di alam semesta ini. Dengan akalnya manusia diperintah untuk memahami ayat-ayat dalam Kitab Suci-Nya. Pada QS 10:100 disebutkan bahwa orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Tuhan, disebut 'rijs' alias najis. Orang yang tidak mau menggunakan akalnya disamakan dengan orang-orang kafir atau musyrik. Sekali lagi akal tidak sama dengan pikiran (mind). Memikirkan hanyalah salah satu proses untuk menganalisis atau memperoleh kesimpulan. Pada wahyu pertama ini manusia disebut "insan", yang artinya makhluk yang mempunyai perasaan. Makhluk yang perlu teman dalam hidupnya. Inilah sifat dasar manusia! Tetapi kalau manusia itu diberi lebih oleh Yang Maha Kuasa, mendadak ia lupa siapa dirinya. Inilah yang disebut dalam ayat lanjutannya sebagai melampaui batas. Melampaui batas-batas yang telah ditetapkan pada diri manusia. Manusia diingatkan bahwa dirinya pasti kembali pada hukum-hukum Tuhan. Dia tumbuh dari zigot, menjadi embrio dan bayi. Kemudian tumbuh sebagai kanak-kanak, remaja dan dewasa. Setelah dewasa, dan bisa mencari nafkah hidupnya lalu berhasil, manusia menjadi lupa. Dia tidak ingat lagi bahwa hukum Tuhan tetap berlaku pada dirinya yaitu menjadi tua, dan mungkin loyo lalu datang kematian. Pada ayat 6 - 19 dikisahkan seorang yang bernama (julukan) Abu Jahal. Dia pada waktu itu hidup kaya dan mempunyai banyak teman. Dia merasa dengki terhadap Nabi saw yang berwatak santun kepada orang-orang Qureis. Jika Abu Jahal beserta pengikutnya melakukan puja bakti di depan patung-patung di sekitar Ka'bah dengan gaya angkuh dan penuh kesombongan, tidak demikian dengan Nabi saw. Beliau senantiasa berhubungan (shalat) dengan Tuhan. Dia rendahkan dirinya dengan sujud, menempelkan dahinya di tanah. Inilah bentuk shalatnya Nabi di awal-awal kenabiannya. Abu Jahal jengkel melihat puja bakti yang demikian itu. Yang lain-lain melakukan sembah bakti kepada patung-patung dengan angkuhnya, tetapi Nabi saw tunduk merendah menempelkan dahi di tanah. Beliau merasa 'humble', tunduk total di hadapan Tuhan yang menciptakan manusia, bukan kepada patung-patung yang ada di sekitar Ka' bah. Abu jahal dan beberapa temannya tersinggung berat atas sikap Nabi saw. Lha patung yang diagungkan oleh orang-orang Qureis malah tidak disembah. Justru Tuhan yang tak tampak oleh mata, yang selama ini mereka anggap tidak ada, malah dipuja oleh Muhammad. Nabi saw dianggap meremehkan sesembahan mereka. Dipandang tidak menghormati tuhan-tuhan mereka. Yang artinya juga tidak menghormati Abu Jahal sendiri. "Muhammad yang miskin dan beristerikan janda kaya Siti Khadijah, kok berani-beraninya tidak menghormati dirinya," pikir Abu Jahal. Kalau dibiarkan bisa merusak citranya sebagai tokoh, bisa menghancurkan reputasinya. Ya, Abu jahal telah melampaui batas. Tidak rela dengan sikap Muhammad saw tersebut, Abu Jahal hendak menginjak leher Nabi saw ketika bersujud. Dia minta dikabari teman-temannya bila Nabi saw menjalankan shalat. Dia larang orang lain mengikuti beliau. Dan akan mencekik leher Nabi dengan cara menginjaknya ketika sujud. Suatu hari ada kesempatan tersebut. Abu Jahal siap-siap menginjak leher Nabi saw. Ternyata urung menginjak leher Nabi. Para teman Abu Jahal keheranan. Ada apa gerangan? Mengapa Bapak kebodohan itu yang sudah menggebu-gebu melarang Nabi saw shalat, dan berencana menginjak leher beliau mendadak berhenti. Beberapa teman-temannya mendatangi Abu Jahal, dan menanyakan sebabnya. Agar dirinya (Abu Jahal) tidak malu, teman-temannya diajak menjauhi beliau dan diberi tahu bahwa dirinya tidak jadi menginjak leher beliau karena ketika hendak melaksanakan niatnya itu, mendadak ada monster besar yang hendak mencaplok kepala Abu Jahal. Abu Jahal tidak mengetahui bahwa semua gerak-geriknya itu dilihat oleh Tuhan semesta alam. Sebaliknya, Nabi saw sadar sepenuhnya bahwa dirinya dibawah pengawasan Tuhan. Nabi tidak perlu takut. Meskipun Abu Jahal mengumpulkan semua temannya, mereka tidak akan mampu memberhentikan ajakan Nabi. Allah memberi tahu Nabi, bila Abu jahal dan teman-temannya tidak mau berhenti mengganggu Nabi, maka Tuhan akan membuat hina Abu Jahal dan kawan-kawannya. Di ayat 15, diberitahukan bahwa Tuhan akan menarik 'nashiyahnya'. Nashiyah dalam bahasa Arab sebenarnya titik kehormatan yang ada di dahi. Titik abstrak sebagai batas mahkota yang dikenakan di kepala. Ditarik nashiyahnya, artinya dicabut kekuasaannya, agar dia tidak sewenang-wenang terhadap manusia. Kalau dia sampai berani menggerakkan golongannya untuk mengganggu dakwah Nabi, Tuhan akan menggunakan 'Zabaniyah' untuk mengalahkannya. Nama Zabaniyah sudah dikenal oleh suku Qureis sebagai penjaga neraka. Mereka takut terhadap neraka. Takut pula kepada penjaganya. Takutnya terhadap Zabaniyah seperti takutnya anak kecil terhadap 'momok' atau hantu. Apalagi dia sudah melihat sendiri monster yang hendak mencaplok kepalanya. Nabi pada ayat yang terakhir, yaitu ayat 19, diperintah Tuhan untuk tidak mematuhi sama sekali ajakan Abu Jahal. Tidak perlu takut terhadap manusia. Tidak perlu taat terhadap hal yang tidak benar, meskipun Abu Jahal sebagai pemimpin Qureis. Tegakkan terus kebenaran dari Tuhan. Nabi diperintah sujud kepada Tuhan, bahkan diperintahkan lebih dekat lagi hubungannya kepada Tuhan daripada sebelumnya. Insya Allah berlanjut minggu depan pada wahyu ke 2 (Al Qalam, 68). Wassalamualaikum wr. wab., a. chodjim Kajian Kamis, 30 September 1999. |