|
|
|
Alkisah, ada seorang ustad. Ia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Beberapa
orang kaya memanggilnya untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak-anaknya.
Pada waktu yang ditentukan, ia datang ke rumah murid-muridnya dengan
teratur. Ketika ia mempunyai uang, ia datang dengan kendaraan umum.
Ketika tidak ada ongkos, ia berjalan kaki. Setelah habis satu bulan,
dengan penuh harap ia meunggu honorariumnya.
Orang kaya yang pertama berkata,"Pak Ustad, saya yakin Bapak orang yang
ikhlas. Bapak hanya mengharap ridha Allah. Saya akan merusak amal Bapak
bila saya membayar Bapak. Saya berdoa mudah-mudahan Allah membalas
kebaikan Bapak berlipat ganda." Pak Ustad termenung. Ia tidak bisa
berkata apa-apa. Ia kebingungan. Ia mendengar kata-kata yang tampaknya
benar. Tetapi ia merasa ada sesuatu yang salah dalam ucapan orang kaya
itu, tetapi di mana. Ia tidak tahu. Yang terbayang dalam benaknya adalah
hari-hari yang dilewatinya untuk mengajar di situ ; ketika ia datang
berjalan kaki atau dengan ongkos hasil pinjaman. Yang terasa adalah
perutnya dan perut keluarganya, yang tidak dapat diisi hanya dengan
ikhlas. Ia diam. Dan air matanya jatuh tak terasa.
Orang-orang kaya lainnya memberinya uang transport yang sangat kecil,
hampir tidak cukup untuk mengganti ongkos angkot yang telah
dikeluarkannya. Seperti orang kaya yang pertama, mereka juga menghiburnya
dengan kata "ikhlas". Ia bingung. Kata "ikhlas" adalah kata yang
agung,
tetapi kini terasa seperti pentungan baginya. Ia merasa diperas,
dieksploitasi. Tetapi bila menuntut haknya, ia kuatir menjadi tidak
ikhlas.
Apa yang terjadi pada ustad itu, terjadi juga pada banyak mubaligh yang
berdakwah dari masjid satu ke masjid lain. Saya pernah diundang untuk
memberikan pengajian pada acara syukuran pernikahan jauh di sebuah kampung
di Indramayu. Saya melewati jalan terjal, yang berkali-kali berbenturan
dengan chasis kendaraan saya. Saya meninggalkan tempat pengajian
menjelang tengah malam dengan perut lapar, saya tidak menerima apapun.
Saya ingin meminta paling tidak penggantian bensin dan ongkos supir,
tetapi saya kuatir saya tidak ikhlas. Bukankah saya tidak boleh menjual
ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Seperti ustad tadi, saya
merasakan ada yang tidak beres dalam pengertian ikhlas itu, tetapi saya
tidak tahu di mana.
Saya baru menyadari makna ikhlas, ketika memberikan ceramah keagamaan
untuk para mahasiswa baru Universitas Brawijaya, Malang, 17 November
1991. Seorang mahasiswa dengan semangat berkata."Dahulu Rasulullah SAW.
berdakwah dengan membagi-bagikan hartanya kepada para pendengarnya.
Sekarang mubaligh menerima pesangon dari jamaah yang didatanginya.
Bukankah itu berarti menjual ayat-ayat Allah ? Tidakkah mubaligh itu
mendagangkan agamanya dan keyakinannya untuk dunia ? Bukankah ia tidak
ikhlas lagi dalam berjuang ? Apakah Anda juga akan menjadi mubaligh
amplop, seperti wartawan amplop ?". Tepuk tangan bergema di aula
Unibraw. Wajah mahasiswa penanya bersinar. Ia merasa bahagia, karena
telah "berani" mengatakan "yang haq" di depan mubaligh. Tentu saja, ia
senang karena ia menjadi bintang di hadapan ribuan rekan-rekannya. Ia
menjadi pejuang keikhlasan.
Tiba-tiba saya menemukan "yang tidak beres" dalam makna ikhlas, seperti
yang telah dikemukakan oleh mahasiswa itu. Kata ikhlas sekarang telah
digunakan untuk memukul para mubaligh. Konsep agama yang begitu luhur
telah disalahgunakan untuk merampas hak para penyebar agama. Yenaga
mereka terkuras oleh berbagai kegiatan dakwah, sehingga tidak sempat
mencari nafkah. Bila tubuh mereka menjadi ringkih atau sakit karena
kepayahan, mereka tidak perlu diberi uang untuk berobat.
Mereka ditinggalkan begitu saja, habis manis sepah dibuang. Bila mereka
dipanggil ke tempat jauh, mereka tidak perlu diberi pesangon. Mereka
diminta berkorban untuk umatnya, sehingga dengan cepatmereka kehilangan
segala-galanya-pekerjaan, harta, kehormatan, bahkan kehidupannya. Kata
"ikhlas" telah digunakan untuk melemahkan dan menyingkirkan para
mubaligh. Akhirnya, banyak orang berlindung pada kata "ikhlas" untuk
menghancurkan kekuatan Islam.
Betapa seringnya kata-kata digunakan untuk menyembunyikan kenyataan, dan
bukan untuk mengungkapkannya. Korzybysky-ahli general semantics"-benar
ketika ia menyatakan bahwa ada hubungan antara kekacauan penggunaan bahasa
dengan penyakit jiwa; dan bahwa masyarakat hanya dapat disehatkan kembali
dengan menertibkan istilah-istilah yang mereka gunakan.
Benarkan ikhlas artinya tidak menerima upah ketika mengajarkan Al-Quran,
seperti kata orang kaya pada Pak Ustad kita ? Benarkah ikhlas artinya
tidak menerima pesangon untuk kegiatan dakwah, seperti kata mahasiswa kita
yang berani itu ? Saya teringat suatu peristiwa oada Zaman Nabi SAW.
Nabi SAW. mengirimkan pasukan terdiri dari tiga puluh orang. Mereka tiba
pada sebuah perkampungan. Mereka menuntut hak sebagai tamu, tapi tak ada
seorang pun menjamu mereka. pada saat yang sama, pemimpin kaum itu
digigit ular. Mereka meminta bantuan para sahabat untuk mengobatinya.
Abu Sa'id Al-Khudhri bersedia mengobatinya, asalkan mereka membayarnya
dengan tiga puluh ekor kambing. Ia membacakan Surah Al-Fatihah tiga
kali. Orang itu sembuh. Ketika Abu Sa'id membawa kambing-kambing itu,
para sahabat lain menolak. "Engkau menerima upah dari membaca kitab Allah
?" tanya mereka. Ketika sampai di Madinah, mereka menceritakan kejadian
itu kepada Nabi SAW. "Bagikan di antara kalian. Tidak ada yang paling
pantas kalian ambil upahnya seperti membaca kitab Allah," sabda Nadi SAW.
(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tarmidzi, dll;lihat Tafsir Al-Durr
Al-Mantsur).
Nabi SAW. tidak menyebur Abu Sa'id Al-Khudhri menjual ayat-ayat Allah. Ia
bahkan mengatakan bahwa mengambil upah dari membaca Kitab Allah itu sangat
pantas. Dalam Al-Quran, orang yang menyebar ajaran Islam termasuk "fi
sabilillah" dan berhak mendapat bagian dari zakat, walaupun ia kaya raya.
Ketika mubaligh menerima upah atau zakatnya, ia tidak kehilangan
ikhlasnya. Ikhlas tidak ada hubungannya dengan menerima atau menolak
upah.
Pada suatu acara, jamaah ingin mengungkapkan terima kasihnya kepada
mubaligh yang mengajarnya. Mereka memberikan kenang-kenangan. Sang
mubaligh menolak seraya berkata,"Saya tidak ingin merusak keikhlasan
saya. Saya mengajar Anda tanpa mengharapkan upah. Upah saya di sisi
Allah." Mubaligh itu mendefinisikan ikhlas sebagai menolak upah dari
manusia ? Betulkah definisi itu ?
_____
Disadur oleh Hilman dari buku :
Renungan-Renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat : 1994.
|