Artikel Islami 

Ukuran-Ukuran Ikhlas (bagian 2)
Jalaluddin Rakhmat
Takut menjadi Tukang Bakso
Isra' Mi'ra
Apa yang paling...di dunia
Anak belajar dari Kehidupan
Hadist Qudsi tentang 'Sholat yang diterima
Dosa Riya
EQ Alphabet
Etika persahabatan (Imam Al-Ghozali)
Menangis (Emha Ainun Najib)
Kesempurnaan diri Muslim
Keikhlasan
Islam Sebagai sistem kehidupan
Pendurhaka yang masuk surga
Surat Al Alaq (96)
Ucapan Selamat Natal
Pengamen cilik itu sukmanya
Ukuran ukuran Ikhlas 1
Ukuran ukuran Ikhlas 2
Ukuran ukuran Ikhlas 3
Ciri wanita sholehah
Ciri istri yang baik
Berlindung dari 5 kesombongan
Bukan karena ingin
Imam Al-Ghozali
Kita paling jelek
Allahu Ahad
Suara yang didengar mayat
Ali baba dan Qasim
Sekilas tentang sholat Tarawih

 

Apa Makna Ikhlas ?
Ikhlas dengan indah digambarkan dalam doa iftotah. Kita berjanji setiap
shalat,"Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku Lillahi
Rabbil 'Alamin." Jadi, ikhlas ialah "mengerjakan segala hal lillah." Apa
artinya "lillah"?; karena Allah (lam yang berarti sebab) dan untuk Allah
(lam berarti tujuan), dan kepunyaan Allah (lam berarti milik).
Makna-makna ini sekaligus menunjukkan tingkat keikhlasan. Untuk Allah
adalah tingkat ikhlas yang paling tinggi.

Marilah kita lihat yang pertama : karena Allah. Bila Anda memberikan
bantuan kepada orang yang kesusahan, karena Anda mengetahui bahwa Allah
memerintahkannya, Anda beramal karena Allah. Bila Anda menghentikan
bantuan Anda kepada orang itu, karena ternyata orang itu tidak berterima
kasih bahkan ia menjelek-jelekkan Anda di mana-mana, Anda tidak ikhlas.
Amal Anda sangat dipengaruhi oleh reaksi orang lain pada Anda. Anda
bersemangat beramal, ketika orang menghargai Anda, memuji Anda, atau
paling tidak memperhatikan Anda. Anda kehilangan gairah untuk berjuang,
ketika orang-orang mencemooh Anda, menjauhi Anda, atau bahkan mengganggu
Anda.

Perhatikan motif yang menggerakkan perilaku Anda. Bila Anda melakukan
sesuatu karena ingin menjalankan perintah Allah, tidak peduli bagaimanapun
reaksi orang kepada Anda. Anda benar-benar ikhlas. Anda berikanbantuan
kepada orang yang kesusahan, walaupun ia tidak berterima kasih. Anda
meneruskan perjuangan Anda, walaupun Anda dijelek-jelekkan orang. Allah
melukiskan orang-orang ikhlas ketika mereka berkata,"Sesungguhnya kami
memberikan makanan kepada kalian karena Allah. Kami tidak mengharapkan
balasan dan terima kasih" (QS 76:9).

Bagaimana bila Anda menuntut upah setelah memberikan pengajian ? Bila Anda
menuntut upah itu karena Anda tahu bahwa Allah melalui Rasul-Nya menyuruh
Anda menuntut hak Anda, Anda masih ikhlas. Anda menjadi tidak ikhlas,
justru ketika Anda menolak untuk menerima hak Anda, karena takut disebut
tidak ikhlas. Atau Anda tolak pemberian orang karena menjalankan perintah
Allah, tetapi karena menginginkan kesan tertentu pada orang banyak.

Ikhlas atau Merekayasa Kesan ?
Seorang mahasiswa memberikan ceramah di depan ratusan jamaah masjid di
sebuah dusun kecil. Kebanyakan pendengarnya tidak memperoleh pendidikan
lebih dari tingkat SD. Dengan bersemangat ia berkata,"Dalam menghadapi
era globalisasi, ketika perilaku umat manusia distandardisasi, ketika
interdependensi di antara berbagai bangsa terjadi, umat Islam harus mampu
melakukan antisipasi."

Mahasiswa itu tahu betul bahwa tingkat pendidikan kebanyakan pendengarnya
tidak lebih dari SD. Ia sadar batul kebanyakan tidak memahami
pembicaraannya. Ia memang berpidato bukan menyampaikan gagasan, bukan
memberikan informasi. Ia sedang berupaya agar pendengarnya memperoleh
kesan bahwa Pak Mahasiswa itu orang pandai. Buktinya ? Pembicaraannya
tidak dapat dipahami.

Pada waktu yang sama di depan para ulama, seorang birokrat dengan fasih
membacakan ayat-ayat Al-Quran dan hadits. Kabanyakan tidak relevan. Pak
Birokrat sendiri juga tidak begitu paham, walaupun telah berhari-hari ia
menghafalkan ayat-ayat dan hadits-hadits itu. Ia memang tidak bermaksud
untuk mengajari para ulama. Jelas, mereka lebih tahu tentang tafsir dan
syarah hadits, daripada dirinya. Lalu untuk apa ? Ia ingin meyakinkan
para ulama itu bahwa ia tahu banyak tentang agama; bahwa ia bukan sekedar
pejabat. Ia sedang mengelola kesan orang lain terhadap dirinya.

Erving Goffman, dalam bukunya yang klasik The Presentation of Self in
Everyday Life, menyebut perilaku mahasiswa dan birokrat tadi sebagai
penyajian diri (presentation of self). Kita semua adalah pemain drama.
Di tengah-tengah masyarakat, kita ingin menyajikan diri kita seperti
"naskah" yang kita persiapkan. Mahasiswa itu ingin menyajikan dirinya
sebagai "orang pinter" dan birokrat itu ingin mengemukakan dirinya sebagai
"orang alim". Diri yang kita tampilkan di depan umum disebut public
self. Supaya orang membentuk kesan bahwa saya orang pinter, saya
sampaikan kata-kata asing. Supaya para ulama tahu saya alim, saya bacakan
ayat-ayat dan hadits-hadist.

Karena kita tahu, orang membentuk kesan tentang diri kita dari perilaku
yang kita tampilkan (Goffman menyebutnya "face"), kita "rekayasa" perilaku
kita. Orang memperoleh kesan tentang diri kita dari pembicaraan kita;
maka kita atur pembicaraan kita sesuai dengan kesan yang ingin kita
peroleh. Rekayasa kesan ini kemudian disebut impression management
(pengelolaan kesan).

Untuk mengelola kesan, selain pembicaraan (yang dapat didengar atau
dibaca), kita menggunakan lambang-lambang visual (yang dapat dilihat).
Termasuk lambang-lambang visual adalah tindakan, penampilan, kendaraan,
rumah, ataubenda-benda lainnya. Anda busungkan dada Anda dengan mata yang
menatap lurus ke depan. Anda sedang menggunakan tindakan untuk
menimbulkan kesan "bos". Sambil mengenakan pakaian yang "trendy" dan
parfum yang mahal, Anda menyerahkan credit card kepada pelayan restoran.
Anda sedang menggunakan penampilan agar orang tahu bahwa Anda pengusaha
muda yang sukses.

   _____ 

Disadur oleh Hilman dari buku :
Renungan-Renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat : 1994.


Hosted by www.Geocities.ws

1