Artikel Islami 

Pengamen Cilik Itu, Sukmanya....    
Emha Ainun Nadjib
Takut menjadi Tukang Bakso
Isra' Mi'ra
Apa yang paling...di dunia
Anak belajar dari Kehidupan
Hadist Qudsi tentang 'Sholat yang diterima
Dosa Riya
EQ Alphabet
Etika persahabatan (Imam Al-Ghozali)
Menangis (Emha Ainun Najib)
Kesempurnaan diri Muslim
Keikhlasan
Islam Sebagai sistem kehidupan
Pendurhaka yang masuk surga
Surat Al Alaq (96)
Ucapan Selamat Natal
Pengamen cilik itu sukmanya
Ukuran ukuran Ikhlas 1
Ukuran ukuran Ikhlas 2
Ukuran ukuran Ikhlas 3
Ciri wanita sholehah
Ciri istri yang baik
Berlindung dari 5 kesombongan
Bukan karena ingin
Imam Al-Ghozali
Kita paling jelek
Allahu Ahad
Suara yang didengar mayat
Ali baba dan Qasim
Sekilas tentang sholat Tarawih

 

Kalau Anda suka lesehan makan di Malioboro malam atau ngemil jagung bakar di alun-alun, pasti merasakan berbagai segi pengalaman dengan para pengamen.  Jumlah mereka banyak bukan main, ya ?   Memang makin banyak anak-anak muda penganggur.  Kita musti prihatin dan santun kepada mereka, meskipun terkadang kita sebel saking banyaknya yang datang ngamen.  Satu jam duduk ngemil jagung, bisa tujuh atau sepuluh pengamen.  Jumlah uang untuk pengamen bisa jauh lebih banyak dibanding untuk bayar jagung dan ronde.   Kalau di Jakarta lain lagi.   Naiklah Bis Kota, anak-anak muda pengamen dalam bis bisa lebih tertib dan profesional.  Pakai MC segala.  "Ibu-ibu dan Bapak-bapak serta Saudara-saudara sekalian.  Selamat siang.  Untuk mengurangi kelelahan Anda dalam perjalanan ini,  kami bermaksud menghibur dengan beberapa lagu..."   Para pengamen itu pakai topi, kupluk, atau blangkon.  Begitu selesai lagi, topi dicopot, ditengadahkan dan beredar ke tempat duduk para penumpang.  Anda persilakan memberi atau tidak.  Mungkin hukumnya "fardhu kifayah".   Sebelum berlalu, mereka ber-MC lagi:  "Terima kasih kami ucapkan kepada Anda sekalian atas perhatiannya kepada kami.  Kami doakan semoga selamat dan sejahtera sampai di tujuan."   Beberapa hari ini saya menyaksikan yang ngamen di bis itu anak-anak kecil.  Pidatonya juga tidak kalah canggih.  Tapi umumnya mereka belum bisa memainkan instrumen musik.  Jadi mungkin sekadar nyanyi diiringi kendang kayu.   Terkadang mereka menyanyi polos, keras, memekik, berteriak, serak dan melonjak-lonjak-seperti menghentakkan derita batin yang mereka sendiri belum mengenalnya.  Yang paling tajam adalah pemandangan wajah mereka dan sorot mata mereka.  Memancarkan ketidakbahagiaan dan ketidakrelaan.   Anak-anak seumur itu, bukan saja tidak memperoleh kesempatan pendidikan, tapi juga tak mendapatkan santunan sosial, tak mendapatkan hak mereka untuk dikasih makan-minum setiap hari; sehingga mereka harus gigih sedemikian rupa.  pasti derajat mereka jauh lebih tinggi dibanding para koruptor, atau para pengemis terhormat, atau apalagi yang korupsi dan pengemisannya 'legal' dan tidak kentara.   Tapi sukma para pengamen anak-anak itu tidak akan rela.  Tetapi meeka memancarkan cahaya dari Allah yang juga tidak ridha, tidak rela........


Hosted by www.Geocities.ws

1