BULETIN LENGKONG BESAR Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]

[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK RENUNGAN EDISI 4 Th.3 2000 -

Pendidikan,
Pendidik Dan Anak Didik

Oleh Rizqi Awaluddin

Ilmu mempercepat Anda ke tujuan
Agama menentukan arah yang dituju.
Ilmu menyesuaikan manusia dan lingkungannya.
Agama menyesuaikan dengan jati dirinya.
Ilmu hiasan batin,
ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan
Agama memberikan harapan dan dorongan jiwa.
Ilmu menjawab pertannyan yang dimulai dengan "bagaimana".
Agama menjawab pertanyaan yang dimulai dengan "mengapa".
Ilmu tidak jarang mengerahkan
pikiran pemiliknya.
Agama selalu memenangkan jiwa
para pemeluknya.
(Murtadha Muthahhari)

Kita semua lahir dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan. Dan kita semua memiliki alat yang kita perlukan untuk memuaskannya. Pernahkah Anda saksikan bayi yang mencoba mainan baru? Ia meletakkan pada mulutnya untuk mengetahui bagaimana rasanya. Lalu mengguncangkannya, mengangkatnya, dan perlahan-lahan memutarnya, supaya ia tahu bagaimana setiap sisinya menangkap cahaya. Ia menempelkan pada telinganya, menjatuhkannya diatas tanah dan memungutnya lagi, memecahkannya dan meneliti bagian demi bagian.

Proses eksploratoris ini belakangan disebut �belajar global�, global learning. Belajar global adalah cara belajar yang begitu efektif dan alamiah bagi manusia, sehingga jiwa anak sampai usia enam atau tujuh tahun seperti busa yang menyerap fakta, sifat fisik, dan kerumitan bahasa dengan cara yang sangat menyenangkan dan "bebas stres".

Pendidikan adalah proses menuju kesempurnaan. Dalam proses takamul, manusia mempunyai potensi yang tidak terbatas. Kita semua sedang bergerak menuju Allah. Pendidik dan yang dididik adalah mitra dalam kafilah rohani yang sedang menempuh perjalanan "di Sahara" yang tidak berujung. Pendidikan adalah upaya untuk merealisasikan asma Allah dalam diri manusia. Setiap kali kita menyerap satu nama Allah, kita berubah menjadi wujud yang berbeda. Yang bergerak bukan hanya �aradh, tetapi juga jauhar kita. Inilah al-harakat al-jauhariyah, yang dikemukakan Mulla Sadra.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, pendidik harus berhasil menanamkan pada anak-anak didiknya bahwa mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah "the selected few". Pendidik juga dapat berfungsi sebagai mursyid yang dengan telaten dan penuh rasa sayang membimbing anak didiknya mensucikan batin, membersihkan diri, dan kemudian melatih mengaktualkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya.

Pemerintah harus melakukan deregulasi pendidikan. Masyarakat Indonesia bersifat multietnis dengan tingkat perkembangan beragam. Menerapkan kurikulum yang sama untuk semua daerah bukan saja tidak masuk akal tetapi juga sangat merugikan. Sementara itu, masyarakat berubah terus. Sentralisasi kurikulum menghambat penyesuaian diri pada perubahan. Kita harus memberikan kebebasan pada lembaga pendidikan untuk mengembangkan kurikulum mereka. Sejalan dengan deregulasi, lembaga sosial harus diizinkan untuk mengelola pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Setelah deregulasi pendidikan, setiap lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional. Lembaga pendidikan tidak lagi "murni" lembaga sosial. Ia harus menjadi industri jasa yang dikelola secara modern. Secara singkat, kurikulum harus dirancang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ketika kita bergabung dengan AFTA 2003, di manakah posisi kita? Era perdagangan bebas akan terbuka. Pasar untuk produk kita tidak hanya terbatas di Indonesia, tetapi meliputi seluruh negara ASEAN. Pada saat yang sama, pesaing perusahaan Indonesia bertambah dengan masuknya produsen TNC dan MNC yang ada di ASEAN. Indonesia akan memasuki era pasca-industri, ketika batas-batas negara (nation state) memudar. Siapkah kita menghadapinya? Apa yang harus kita lakukan sekarang ini dalam dunia pendidikan?

Dengan AFTA dan pengembangan infrastruktur telekomunikasi, lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia akan terancam. Secara institusional, lembaga-lembaga pendidikan kita akan bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan di Singapura, Malaysia dan Filipina. Singapura sudah lama mengembangkan sumber daya manusia untuk menjadi knowledge employee; Malaysia dengan Wawasan 2000 ; Filipina dengan kebiasaan mereka yang cukup lama di pasar kerja internasional akan menjadi pesaing yang sangat pesat bagi Indonesia.

Ketika masyarakat perlahan-lahan bergerak ke employee society, sistem pendidikan kita masih mencoba melahirkan workers. Secara singkat, produk pendidikan dalam negeri tidak akan sanggup bersaing dengan produk pendidikan luar negeri. (Rizky Awaludin, Staf Redaksi LB)

.

[ kembali keatas ]

Hosted by www.Geocities.ws

1