BULETIN LENGKONG BESAR Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]

[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

EDISI 4 Th.3 2000 -
Pendidikan : Proses Pencerdasan Atau Hanya Sekedar Lahan Bisnis
Oleh Redaksi

Pendidikan, sebuah kata yang mengingatkan kita pada buku, ruangan dengan deretan kursi, papan tulis, kampus, mata kuliah, kurikulum serta proses belajar mengajar. Dalam membahas diskursus pendidikan, perlu kiranya untuk melihat apa yang sebenarnya menjadi tujuan utama pendidikan. Jelas, pendidikan mempunyai tujuan untuk mencerdaskan atau dengan kata lain sebagai proses pencerahan.

Dalam kehidupan bernegara, pendidikan merupakan salah satu program pemerintah sebagai sebuah upaya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga proses pembangunan dapat berjalan lancar. Pemerintah sebagai pencanang program pendidikan sekaligus bertanggung jawab terhadap proses pelaksanaanya dengan menetapkan berbagai aturan. Aturan tersebut antara lain dengan menetapkan kurikulum nasional, baik untuk tingkat dasar, menengah, atas, maupun perguruan tinggi.

Dalam sebuah perdebatan antara Soekarno dengan Syahrir, Syahrir mengungkapkan perlunya pendidikan dan penyadaran bagi rakyat Indonesia terlebih dahulu sebelum berpikir tentang kemerdekaan. Namun, berbeda dengan pandangan Syahrir, Soekarno melihat, kemerdekaan adalah sebuah "jembatan emas" bagi rakyat Indonesia untuk menggapai semua impian. Dari perdebatan tersebut dapat dilihat, ternyata pendidikan dari dulu memilliki peranan penting dalam membangun karakter bangsa (nation character building).

Di era pasar bebas sekarang ini, dengan ketimpangan transformasi, pendidikan telah menjadi lahan bisnis baru bagi kaum pemodal. Seperti yang sering diungkapkan oleh beberapa akademisi, bahwa penyusunan kurikulum saat ini harus disesuaikan dengan tuntutan jaman dan juga tuntutan pasar. Yang dimaksud dengan tuntutan pasar adalah peningkatan profesionalisme lulusan. Jelas, saat ini pendidikan merupakan sebuah lahan bisnis baru, industri yang memproduksi sarjana. Sekolah (apapun jenjangnya) merupakan pasar pengetahuan (knowledge market). Profesor menjadi seorang ahli yang menjual dan mendistribusikan pengetahuan yang telah dipaket (package knowledge), sedangkan siswa atau mahasiswa menjadi klien yang membeli dan mengkonsumsinya.

Pendidikan menjadi material mewah yang hanya bisa dirasakan oleh kaum yang mampu (Paulo Freire). Dapat disimpulkan bahwa esensi pendidikan berupa proses pencerdasan bagi seluruh lapisan masyarakat telah dihilangkan demi permintaan pasar. Pendidikan bukan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas, kritis dan berani melainkan menciptakan robot-robot penerus bangsa yang bergerak berdasarkan program yang sudah ditanam. Pendidikan kapitalistik akhirnya hanya akan menciptakan kesenjangan-kesenjangan dan ketimpangan-ketimpangan baru. Kaum tak mampu jelas tidak akan pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka akan tetap dibodohkan secara legal dan sistematis.

Terakhir, perlu kiranya kita mengkaji, menggali dan merenungkan kembali esensi dari sebuah pendidikan. Proses pencerdasan atau hanya sekedar lahan bisnis? (Mulyani, Staf Perusahaan LB)

.

[ kembali keatas ]

Hosted by www.Geocities.ws

1